JAKARTA – Investasi halal menjadi perhatian penting bagi seorang Muslim di tengah maraknya tawaran keuntungan cepat di dunia modern. Tidak sedikit orang tergiur hasil besar tanpa memperhatikan apakah cara yang ditempuh sesuai dengan syariat Islam atau justru mengandung riba, gharar, dan kezhaliman. Allah ﷻ berfirman: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172) Ayat ini menjadi dasar bahwa mencari harta, termasuk melalui investasi, harus dari jalan yang halal dan thayyib. Ciri-Ciri Investasi Halal Investasi halal memiliki beberapa kriteria utama: Bebas dari riba, baik riba utang maupun riba transaksi. Tidak mengandung gharar, yaitu ketidakjelasan akad dan objek. Tidak berkaitan dengan usaha haram, seperti minuman keras, judi, atau pornografi. Akad jelas dan transparan, diketahui hak dan kewajiban masing-masing pihak. Rasulullah ﷺ bersabda: « إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا » “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa keberkahan harta bergantung pada kehalalan cara memperolehnya. Bentuk Investasi Haram yang Harus Dihindari Sebaliknya, investasi haram biasanya mengandung: Riba, seperti bunga tetap yang dijanjikan. Skema ponzi atau money game, yang merugikan pihak lain. Spekulasi berlebihan, seperti judi berkedok trading. Ketidakjelasan usaha, hanya janji keuntungan tanpa aktivitas riil. Allah ﷻ berfirman: ﴿ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ﴾“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”(QS. Al-Baqarah: 275) Dampak Memilih Investasi Halal Harta dari investasi halal membawa ketenangan hati, keberkahan keluarga, dan menjadi sebab diterimanya amal. Sebaliknya, harta haram meski terlihat banyak, sering menjadi sebab sempitnya hidup dan tertolaknya doa. Rasulullah ﷺ bersabda tentang seseorang yang berdoa namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram,“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim) Kesimpulan Investasi halal bukan sekadar soal untung dan rugi, tetapi soal keberkahan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Seorang Muslim wajib berhati-hati, mempelajari akad, dan mendahulukan ridha Allah dibanding keuntungan sesaat. Wallahu a‘lam. Referensi: Al-Qur’an Al-Karim Tafsir As-Sa’di Shahih Muslim Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah https://www.youtube.com/watch?v=jNxR8Gdd6OE
MEMBENTENGI HATI DARI SYAHWAT TERSEMBUNYI
JAKARTA – Syahwat tersembunyi merupakan salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, karena sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Banyak orang mengira syahwat hanya berkaitan dengan zina atau pandangan haram, padahal syahwat juga bisa hadir dalam bentuk cinta dunia, pujian manusia, ambisi berlebihan, dan ketergantungan pada hal-hal yang melalaikan dari Allah. Allah ﷻ berfirman: ﴿ أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ ﴾ “Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23) Ayat ini menunjukkan bahwa syahwat tersembunyi bisa sampai pada tingkat menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan, yaitu ketika seseorang lebih mengikuti keinginan dirinya dibandingkan perintah Allah. Bentuk-Bentuk Syahwat Tersembunyi Syahwat tersembunyi tidak selalu tampak dalam perbuatan maksiat besar. Di antaranya: Riya’, ingin dipuji dalam ibadah. Cinta popularitas dan pengakuan manusia. Ketergantungan pada hiburan yang melalaikan. Ambisi dunia yang membuat lalai dari akhirat. Memandang remeh dosa kecil. Rasulullah ﷺ bersabda: « أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ »“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”(HR. Ahmad) Ketika ditanya apa itu syirik kecil, beliau menjelaskan bahwa itu adalah riya’, ibadah yang dilakukan karena ingin dilihat manusia. Cara Membentengi Hati dari Syahwat Tersembunyi Pertama, memperkuat muraqabah, yaitu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan. Allah ﷻ berfirman: ﴿ أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ ﴾ “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?”(QS. Al-‘Alaq: 14) Kedua, memperbanyak muhasabah diri. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Ketiga, menjaga pandangan dan hati, karena syahwat sering masuk melalui mata dan angan-angan. Rasulullah ﷺ bersabda: « النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ » “Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah Iblis.”(HR. Al-Hakim) Keempat, memperbanyak doa, karena hati mudah berbolak-balik. Rasulullah ﷺ sering berdoa: « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ »(HR. Tirmidzi) Kesimpulan Syahwat tersembunyi adalah musuh halus yang dapat merusak keikhlasan dan menjauhkan hati dari Allah. Dengan ilmu, muhasabah, dan doa, seorang Muslim dapat membentengi dirinya agar tetap istiqamah di atas kebenaran. Wallahu a‘lam. Referensi: Al-Qur’an Al-Karim Tafsir Ibnu Katsir Silsilah Ash-Shahihah Madarijus Salikin – Ibnul Qayyim https://www.youtube.com/watch?v=SLoWQiK_96E