JAKARTA – Adab berdoa merupakan perkara penting yang sering dilupakan oleh banyak kaum muslimin, padahal doa adalah ibadah yang sangat agung. Adab berdoa bukan sekadar formalitas, tetapi penentu apakah doa tersebut diangkat dan dikabulkan oleh Allah atau justru tertolak karena kelalaian hati dan sikap yang tidak sesuai tuntunan. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan penuh ketundukan dan harapan. Allah berfirman: ﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ “Berdoalah kepada Rabb kalian dengan penuh kerendahan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55) Salah satu adab berdoa yang sering dilupakan adalah menghadirkan hati. Banyak orang berdoa sekadar menggugurkan kewajiban, lisan bergerak tetapi hati lalai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ» “Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan bermain-main.” (HR. Tirmidzi) Adab Berdoa Lain: Jangan Tergesa-gesa Adab berdoa lainnya adalah tidak tergesa-gesa dalam meminta dikabulkan. Banyak orang berhenti berdoa karena merasa doanya belum terwujud. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ» “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa.” (HR. Bukhari dan Muslim) Termasuk adab berdoa yang sering diabaikan adalah memulai doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi. Para ulama menjelaskan bahwa doa tanpa adab seperti mengetuk pintu tanpa sopan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa doa tergantung antara langit dan bumi hingga seseorang bershalawat kepada Nabi. Selain itu, memakan yang halal juga sangat berpengaruh terhadap diterimanya doa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seseorang yang berdoa panjang lebar, namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, maka bagaimana doanya dikabulkan. Hadis ini menunjukkan bahwa adab berdoa bukan hanya soal lisan, tetapi juga gaya hidup. Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ “Rabb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.’” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini adalah janji Allah, namun janji tersebut terikat dengan adab, keikhlasan, dan kesabaran. Kesimpulan: Adab berdoa adalah kunci terkabulnya doa. Lalai dalam adab seperti hati yang tidak hadir, tergesa-gesa, meninggalkan shalawat, dan bermaksiat dapat menjadi penghalang doa. Dengan memperbaiki adab berdoa, seorang hamba akan semakin dekat dengan Allah dan merasakan manisnya bermunajat. Referensi: Al-Qur’an Al-KarimHR. Bukhari, Muslim, TirmidziImam Nawawi, Al-Adzkar https://www.youtube.com/watch?v=CciAP8TuBQY
MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL TANPA TERJERUMUS MAKSIAT
JAKARTA – Menggunakan media sosial di era digital seperti sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kaum muslimin. Menggunakan media sosial bisa menjadi sarana kebaikan, dakwah, dan silaturahmi, namun di saat yang sama juga dapat menjadi pintu maksiat jika tidak dikendalikan dengan iman dan takwa. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terjerumus pada dosa yang merusak hati dan amal. Islam sejak awal telah meletakkan prinsip menjaga pandangan, lisan, dan hati. Allah Ta’ala berfirman: ﴿قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ﴾ “Katakankanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30) Berlaku Ketika Menggunakan Media Sosial Ayat ini bukan hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga ketika menggunakan media sosial. Pandangan mata terhadap gambar, video, dan konten digital tetap dicatat sebagai amal. Banyak orang tergelincir dalam maksiat karena menganggap layar ponsel bukan bagian dari ujian iman, padahal justru di sanalah ujian terbesar saat ini berada. Selain pandangan, lisan juga sangat rawan saat menggunakan media sosial. Komentar kasar, ghibah, fitnah, dan adu domba sering terjadi karena seseorang merasa aman di balik layar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ» “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi kaidah penting dalam menggunakan media sosial. Setiap tulisan, komentar, dan unggahan adalah “ucapan” yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak sedikit orang rajin beribadah, namun pahalanya terkikis karena jarinya ringan mencela dan merendahkan orang lain di dunia maya. Para ulama juga mengingatkan bahwa hati bisa rusak karena kebiasaan kecil yang terus dilakukan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dosa-dosa kecil yang dianggap remeh, jika terus diulang, dapat menghitamkan hati. Menggunakan media sosial tanpa kontrol iman bisa menumbuhkan riya’, ujub, dan cinta dunia, terutama saat seseorang mengejar likes, pujian, dan popularitas. Namun, menggunakan media sosial juga bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Menyebarkan ilmu, mengingatkan dalam kebaikan, menjaga adab, dan menahan diri dari konten haram adalah bentuk ibadah. Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾ “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma’idah: 2) Kesimpulan: Menggunakan media sosial adalah ujian iman di zaman modern. Jika tidak dibingkai dengan ilmu dan takwa, ia bisa menyeret pada maksiat pandangan, lisan, dan hati. Namun jika digunakan dengan niat yang lurus, adab yang benar, dan rasa takut kepada Allah, media sosial justru menjadi sarana pahala dan kebaikan. Referensi: Al-Qur’an Al-KarimHR. Bukhari dan MuslimIbnul Qayyim, Ad-Da’ wad-Dawa’ https://www.youtube.com/watch?v=95oNNIF6zJA