JAKARTA – Sulit memaafkan sering kali menjadi masalah besar dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak sedikit orang yang rajin shalat, puasa, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan, namun hatinya masih berat untuk memaafkan kesalahan orang lain. Fenomena sulit memaafkan ini menunjukkan bahwa ibadah lahir belum tentu diiringi dengan kebersihan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ﴿ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ﴾ “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang disakiti, namun tetap diperintahkan untuk memaafkan. Ini menunjukkan bahwa memaafkan adalah ibadah hati yang agung, bahkan menjadi sebab turunnya ampunan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا » “Sedekah tidak mengurangi harta, dan Allah tidak menambah pada seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan.”(HR. Muslim no. 2588) Sulit memaafkan sering berakar dari penyakit hati, seperti ujub, merasa paling benar, atau merasa diri paling dizalimi. Padahal, orang yang paling memahami dirinya penuh dosa justru akan lebih mudah memaafkan orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hati yang mengenal Allah dan mengenal aib dirinya akan lebih lapang dalam memaafkan.” Sulit Memaafkan dengan Jaga Hati Ibadah yang benar seharusnya melahirkan akhlak yang lembut. Jika ibadah tidak membuat seseorang semakin rendah hati dan pemaaf, maka perlu ada muhasabah terhadap kualitas ibadah tersebut. Bisa jadi ibadah dilakukan secara lahiriah, namun belum meresap ke dalam hati. Para ulama salaf sangat menjaga hati mereka dari dendam. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Tidak akan berkumpul dalam satu hati: cinta dunia dan cinta memaafkan.” Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi melepaskan beban hati agar tidak terus tersiksa oleh dendam. Orang yang memaafkan justru lebih tenang, lebih ringan jiwanya, dan lebih dekat dengan rahmat Allah. Kesimpulan: Sulit memaafkan meski rajin beribadah adalah tanda bahwa hati masih membutuhkan perbaikan. Ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang lembut, lapang dada, dan mudah memaafkan demi mengharap ampunan Allah. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Shahih Muslim no. 2588– Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim– Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim https://www.youtube.com/watch?v=SLoWQiK_96E
MENGAPA IMAN NAIK TURUN? INI PENJELASANNYA
JAKARTA – Iman naik turun adalah kenyataan yang dialami oleh setiap Muslim. Hari ini hati terasa ringan untuk beribadah, lisan basah dengan dzikir, dan amal terasa nikmat. Namun di waktu lain, semangat melemah, ibadah terasa berat, dan hati mudah lalai. Fenomena iman naik turun ini bukan tanda seseorang tidak beriman, justru menjadi bukti bahwa iman memang memiliki sifat bertambah dan berkurang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ﴿ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ﴾ “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka.” (QS. Al-Fath: 4) Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa iman bisa bertambah. Jika iman bisa bertambah, maka konsekuensinya iman juga bisa berkurang. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disepakati oleh para ulama salaf. Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata,“Para ulama sepakat bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan, dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.”(Shahih Al-Bukhari, Kitabul Iman) Iman naik turun sangat berkaitan dengan amal perbuatan. Ketika seorang hamba memperbanyak ketaatan, iman akan menguat. Sebaliknya, ketika ia terjerumus dalam maksiat atau lalai dari dzikir, iman akan melemah. Inilah yang dirasakan oleh para sahabat Nabi ﷺ. Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ, “Hanzhalah telah munafik.”Beliau ﷺ bertanya, “Mengapa demikian?”Hanzhalah menjawab, “Jika kami bersama engkau, kami diingatkan tentang surga dan neraka hingga seakan-akan kami melihatnya. Namun ketika kami pulang dan sibuk dengan keluarga serta dunia, kami banyak lupa.”(HR. Muslim no. 2750) Hadis ini menunjukkan bahwa iman naik turun adalah fitrah manusia, bahkan dialami oleh para sahabat. Namun yang berbahaya bukanlah turunnya iman, melainkan ridha terhadap turunnya iman tanpa usaha memperbaikinya. Sebab-Sebab Iman Naik Turun Para ulama salaf menjelaskan bahwa iman naik turun dipengaruhi oleh beberapa sebab, di antaranya dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, bergaul dengan orang saleh, serta menjauhi maksiat. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman itu bukan angan-angan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibenarkan dengan amal.” Karena itu, ketika iman turun, solusi bukanlah putus asa, melainkan kembali mengisi hati dengan ilmu, dzikir, dan amal saleh. Iman yang dijaga akan kembali naik, dengan izin Allah. Kesimpulan: Iman naik turun adalah sunnatullah dalam diri manusia. Yang dituntut dari seorang Muslim bukanlah selalu berada di puncak iman, tetapi terus berjuang menjaga dan memperbaikinya agar tidak jatuh dalam kelalaian yang berkepanjangan. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Shahih Al-Bukhari, Kitabul Iman– Shahih Muslim no. 2750– Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah, Al-Lalikai https://www.youtube.com/watch?v=jNxR8Gdd6OE