JAKARTA – Merasa paling benar dalam beragama adalah sifat yang berbahaya dan bisa menjerumuskan seorang Muslim jauh dari hikmah dan kebenaran. Sifat ini sering muncul karena rasa sombong, kurangnya ilmu yang benar, atau tidak mau menerima nasihat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا Wa laa tamshi fil-ardi marahan innaka lan takhriqal-arda wa lan tablughal jibaala thoola “Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan menembus bumi dan sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) Merasa paling benar membuat seseorang sulit menerima kritik dan nasihat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ شَيْئًا يُرِيدُ أَنْ يُصْلِحَ فَلْيَسْتَشِرْ عُلَمَاءَهُ Man ra’a minkum syai`an yuriidu an yusliha fal yastasyir ‘ulama’ahu “Barangsiapa di antara kalian melihat sesuatu yang ingin diperbaiki, hendaklah ia berkonsultasi dengan para ulama.” (HR. Ahmad no. 22158) Merasa Paling Benar Bisa Timbulkan Perpecahan Sifat merasa paling benar juga bisa menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Ketika seseorang yakin bahwa pendapatnya selalu benar, ia cenderung menolak pendapat lain, menuduh salah, bahkan menganggap orang lain sesat. Padahal dalam Islam, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, selama tidak keluar dari akidah. Bahaya lain adalah menutup hati dari ilmu. Orang yang merasa paling benar biasanya tidak mau belajar lebih dalam, sehingga ilmu yang ia miliki dangkal dan mudah tersesat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224) Kesimpulannya, merasa paling benar dalam beragama adalah perangkap setan yang harus dihindari. Seorang Muslim wajib rendah hati, terbuka terhadap nasihat, terus menuntut ilmu, dan menghargai perbedaan. Dengan demikian, hati tetap bersih, iman kuat, dan ukhuwah terjaga. Referensi: QS. Al-Isra: 37, HR. Ahmad no. 22158, HR. Ibnu Majah no. 224. https://www.youtube.com/watch?v=nyfYhHi1f08
KESALAHAN SUAMI DALAM MEMIMPIN RUMAH TANGGA
JAKARTA – Kesalahan suami dalam memimpin rumah tangga sering kali tidak disadari, padahal hal ini bisa berdampak langsung pada keharmonisan keluarga. Kesalahan itu bisa muncul karena kurangnya pemahaman tentang hak dan kewajiban, sikap keras kepala, atau bahkan menyepelekan peran istri dalam membangun keluarga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا Wa ‘ashiruhunna bil ma’ruf, fa in karihtumuhunna fa ‘asaa an takrahu syaian wa yajalallahu fihi khairan katsiran “Dan bergaullah dengan mereka secara baik. Jika kamu tidak menyukai mereka, mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19) Kesalahan suami sering muncul ketika ia mengabaikan komunikasi dengan istri. Banyak suami menyepelekan nasihat istri atau tidak mau mendengarkan keluh kesahnya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي Khayrukum khayrukum li ahlihi wa ana khayrukum li ahli “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895, Hasan) Kesalahan Suami Soal Keseimbangan Selain itu, suami sering salah dalam menyeimbangkan kasih sayang dan disiplin. Ada suami yang terlalu keras sehingga membuat istri dan anak merasa takut, ada pula yang terlalu permisif hingga kehilangan kendali rumah tangga. Tindakan ini bisa menimbulkan keretakan, stres, bahkan mengurangi pahala dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin keluarga. Kesalahan lainnya adalah mengabaikan tanggung jawab finansial. Suami yang lalai menafkahi keluarga sesuai kemampuan atau menunda membayar hak-hak istri dan anak bisa menyebabkan rasa kecewa dan ketegangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْفِ مَا لَهُ أَهْلُهُ Wa man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir fal yukfi ma lahu ahlihi “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menunaikan hak keluarganya.” (HR. Muslim no. 1218) Kesimpulannya, kesalahan suami dalam memimpin rumah tangga bukan hanya masalah disiplin, tetapi juga akhlak dan pemahaman terhadap hak istri dan anak. Suami yang bijak adalah yang mampu mendengarkan, menyeimbangkan kasih sayang dan disiplin, serta menunaikan tanggung jawab finansial. Semoga kita semua termasuk suami yang menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Referensi: QS. An-Nisa: 19, HR. At-Tirmidzi no. 3895, HR. Muslim no. 1218. https://www.youtube.com/watch?v=lwalbN-OTQ8