JAKARTA – Takut manusia adalah penyakit hati yang sangat halus namun dampaknya besar terhadap iman. Seseorang bisa meninggalkan kebenaran, menunda ketaatan, bahkan melakukan maksiat bukan karena tidak tahu hukumnya, tetapi karena takut dicemooh, takut kehilangan jabatan, atau takut tidak diterima oleh lingkungan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahaya mendahulukan takut manusia dibanding takut kepada-Nya. Allah berfirman: فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ Falā takhsyaun-nāsa wakhsyauni “Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.”(QS. Al-Ma’idah: 44) Ayat ini menunjukkan bahwa takut manusia adalah penyimpangan dalam tauhid hati. Seharusnya rasa takut tertinggi hanya ditujukan kepada Allah. Ketika takut manusia menguasai hati, seseorang akan mudah berkompromi dengan kebatilan demi keselamatan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِMan ardhan-nāsa bisakhatillāhi sakhithallāhu ‘alaihi “Barang siapa mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya.”(HR. Tirmidzi) Takut Manusia Takkan Membawa Keselamatan Hadis ini menegaskan bahwa takut manusia tidak akan pernah membawa keselamatan sejati. Bahkan sebaliknya, ia justru mendatangkan murka Allah dan kehilangan pertolongan-Nya. Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang takut manusia akan selalu gelisah, karena manusia tidak pernah benar-benar puas. Fenomena takut manusia sangat terasa dalam kehidupan modern. Takut dianggap fanatik, takut dibilang sok suci, takut kehilangan relasi, hingga takut kehilangan penghasilan. Akhirnya, kebenaran disimpan, amar ma’ruf ditinggalkan, dan maksiat dinormalisasi. Allah Ta’ala kembali menegaskan dalam firman-Nya: إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ Innamā dzālikumus syaithānu yukhawwifu auliyā’ah “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan pengikut-pengikutnya.”(QS. Ali ‘Imran: 175) Ayat ini menunjukkan bahwa takut manusia adalah senjata setan untuk melemahkan iman. Orang yang mengenal Allah dengan benar akan memahami bahwa rezeki, kemuliaan, dan keselamatan bukan di tangan manusia. Para ulama salaf menanamkan keberanian iman dengan memperkuat tauhid. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jika engkau takut kepada Allah, maka Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadamu. Namun jika engkau takut kepada manusia, Allah akan menyerahkanmu kepada mereka.” Kesimpulannya, takut manusia adalah penyakit hati yang merusak keikhlasan dan keberanian iman. Obatnya adalah memperdalam ma’rifatullah, meyakini bahwa semua urusan berada di tangan Allah, serta membiasakan diri mendahulukan ridha-Nya di atas segalanya. Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan mencukupkannya dari manusia. Wallahu a’lam. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Tafsir Ibn Katsir– Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibn Rajab– HR. Tirmidzi no. 2414 https://www.youtube.com/watch?v=PlGs30Ooxx8
KETIKA HATI MULAI KERAS TANPA DISADARI
JAKARTA – Hati mulai keras sering kali tidak disadari oleh seorang muslim. Ia masih shalat, masih membaca Al-Qur’an, bahkan masih hadir di majelis ilmu, tetapi nasihat tak lagi menyentuh, dosa terasa biasa, dan kebaikan orang lain mudah diremehkan. Inilah kondisi berbahaya yang oleh para ulama disebut sebagai qaswatul qalb, kerasnya hati yang menjadi penghalang terbesar antara hamba dan hidayah Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang bahaya hati yang mengeras setelah datangnya peringatan. Allah berfirman: ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً Tsumma qasat quluubukum min ba’di dzālika fahiya kal-hijārah au asyaddu qaswah “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”(QS. Al-Baqarah: 74) Hati Mulai Keras Bukan Tiba-Tiba Ayat ini menunjukkan bahwa hati mulai keras bukan terjadi tiba-tiba. Ia adalah proses. Diawali dari menunda taubat, membiasakan dosa kecil, dan merasa aman dari murka Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat yang diulang tanpa penyesalan akan meninggalkan titik hitam di hati, hingga hati kehilangan kepekaannya terhadap kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ Innal ‘abda idzā adznaba nukitat fī qalbihi nuktatun saudā’ “Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, maka akan dititikkan satu titik hitam di hatinya.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa hati mulai keras bukan karena kurangnya ibadah semata, tetapi karena dosa yang tidak segera dibersihkan dengan taubat dan istighfar. Banyak orang tertipu dengan rutinitas ibadah lahiriah, namun lalai membersihkan penyakit batin. Para ulama salaf menyebutkan tanda-tanda hati yang mulai mengeras, di antaranya sulit menangis karena takut kepada Allah, ringan melakukan ghibah dan meremehkan dosa, serta merasa lebih suci dari orang lain. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah hati menjadi keras kecuali karena banyaknya dosa.” Obat dari kerasnya hati telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ Alam ya’ni lilladzīna āmanū an takhsya’a quluubuhum lidzikrillāh “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”(QS. Al-Hadid: 16) Ayat ini menunjukkan bahwa dzikir, tadabbur Al-Qur’an, dan mengingat kematian adalah cara utama melembutkan hati yang mulai keras. Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini adalah teguran penuh kasih agar kaum beriman tidak larut dalam kelalaian dunia. Kesimpulannya, hati mulai keras adalah penyakit berbahaya yang sering datang tanpa disadari. Ia tidak selalu menghilangkan ibadah lahiriah, tetapi mematikan ruh ibadah. Jalan keselamatan adalah dengan memperbanyak taubat, menjauhi dosa kecil yang diremehkan, memperdalam tadabbur Al-Qur’an, dan selalu merendahkan diri di hadapan Allah. Wallahu a’lam. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Tafsir Ibn Katsir– Al-Jawab Al-Kafi, Ibnul Qayyim– HR. Tirmidzi no. 3334 https://www.youtube.com/watch?v=jNxR8Gdd6OE