JAKARTA – Anak sulit diatur sering kali menjadi keluhan para orang tua. Anak dianggap bandel, keras kepala, dan tidak patuh, sementara orang tua merasa telah melakukan yang terbaik. Namun dalam Islam, perilaku anak tidak pernah berdiri sendiri. Anak adalah amanah, dan sikap mereka sering kali menjadi cermin dari pola asuh dan keteladanan orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang tua untuk menjaga keluarga mereka dari keburukan dunia dan akhirat. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا Yā ayyuhallażīna āmanū quū anfusakum wa ahlīkum nārā “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”(QS. At-Tahrim: 6) Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membimbing iman dan akhlaknya. Ketika anak sulit diatur, Islam mengajarkan agar orang tua terlebih dahulu melakukan introspeksi, bukan sekadar menyalahkan anak. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya keteladanan dalam pendidikan. Beliau bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ Kullukum rā‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatih “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”(HR. Bukhari dan Muslim) Anak Sulit Diatur karena Orang Tuanya Juga Para ulama menjelaskan bahwa anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat dibandingkan apa yang ia dengar. Jika orang tua memerintah shalat namun lalai shalat, jika orang tua melarang berkata kasar tetapi lisannya sendiri tidak terjaga, maka anak akan tumbuh dengan kebingungan nilai. Allah Ta’ala juga mengingatkan bahwa ucapan dan perbuatan harus sejalan. Allah berfirman: كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ Kabura maqtan ‘indaLlâhi an taqūlū mā lā taf‘alūn “Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”(QS. Ash-Shaff: 3) Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini berlaku umum, termasuk dalam mendidik anak. Ketidakkonsistenan orang tua menjadi sebab rusaknya wibawa dan sulitnya anak menerima arahan. Selain itu, doa orang tua memiliki peran besar. Anak sulit diatur bisa menjadi ujian sekaligus peringatan agar orang tua kembali memperbaiki doa dan ketergantungannya kepada Allah. Banyak orang tua sibuk menuntut perubahan anak, tetapi lupa memohon pertolongan Allah dengan sungguh-sungguh. Kesimpulannya, anak sulit diatur bukan hanya masalah anak, tetapi sering kali cermin dari kurangnya introspeksi orang tua. Islam mengajarkan pendidikan dengan keteladanan, doa, kesabaran, dan konsistensi. Ketika orang tua memperbaiki diri, insyaAllah anak akan lebih mudah diarahkan. Wallahu a’lam. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Tafsir Ibn Katsir– Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnul Qayyim– HR. Bukhari no. 893, Muslim no. 1829 https://www.youtube.com/watch?v=95oNNIF6zJA
KETIKA IMAN MELEMAH, APA YANG PERTAMA KALI RUSAK?
JAKARTA – Iman melemah sering kali tidak disadari oleh seorang muslim hingga dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang masih menjalankan ibadah rutin, masih mengaku beriman, tetapi hati terasa berat untuk taat, mudah tergoda maksiat, dan ringan meremehkan dosa. Ketika iman melemah, yang pertama kali rusak bukanlah penampilan luar, melainkan kondisi hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa iman berpusat di dalam hati. Allah berfirman: وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ Wa lākinnaLlâha ḥabbaba ilaikumul-īmāna wa zayyanahū fī qulūbikum “Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada iman dan menghiasinya di dalam hati kalian.”(QS. Al-Hujurat: 7) Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan iman terletak pada hati. Ketika iman melemah, tanda awalnya adalah hati yang tidak lagi sensitif terhadap kebenaran. Nasihat terasa membosankan, ayat Al-Qur’an tidak lagi menyentuh, dan dosa dianggap hal biasa. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai kerasnya hati. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman bukan sesuatu yang statis. Iman bisa bertambah dan berkurang. Beliau bersabda: الْإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ Al-īmānu yazīdu wa yanquṣ “Iman itu bertambah dan berkurang.”(HR. Al-Baihaqi) Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat pertama yang merusak iman adalah maksiat hati, seperti ujub, riya’, dan cinta dunia yang berlebihan. Ketika iman melemah, rasa takut kepada Allah menurun, sementara keberanian melanggar larangan-Nya meningkat. Allah Ta’ala memperingatkan dampak dari hati yang rusak akibat lemahnya iman. Allah berfirman: ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ Ṯumma qasat qulūbukum min ba‘di żālik “Kemudian hati kalian menjadi keras setelah itu.”(QS. Al-Baqarah: 74) Iman Melemah akan Bikin Dosa Terang-Terangan Hati yang keras adalah awal dari banyak kerusakan lainnya. Dari sinilah muncul kemalasan ibadah, buruknya akhlak, dan keberanian melakukan dosa secara terang-terangan. Amal yang dahulu terasa manis kini terasa berat dan terpaksa. Namun Islam tidak membiarkan seorang hamba tenggelam dalam kelemahan iman. Para ulama menegaskan bahwa obat lemahnya iman adalah memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan menjauhi dosa sekecil apa pun. Hati yang hidup akan kembali peka ketika sering diingatkan kepada akhirat. Kesimpulannya, ketika iman melemah, yang pertama kali rusak adalah hati. Jika hati telah rusak, maka seluruh anggota tubuh akan ikut menyimpang. Oleh karena itu, menjaga iman bukan sekadar menjaga rutinitas ibadah, tetapi menjaga hati agar tetap takut, berharap, dan bergantung hanya kepada Allah. Wallahu a’lam. Referensi:– Al-Qur’an Al-Karim– Tafsir Ibn Katsir– Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim– HR. Al-Baihaqi https://www.youtube.com/watch?v=MY2O9Ks_Hz8