JAKARTA – Sembari berjalannya waktu, keimanan seseorang bisa memudar, sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Dalam sebuah hadis disebutkan, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, إنَّ الإيمانَ لَيَخْلَقُ في جَوْفِ أحدِكُمْ كَما يَخلَقُ الثّوبُ ، فاسْألُوا اللهَ تعالَى: أنْ يُجَدِّدَ الإيمانَ في قُلوبِكمْ “Sesungguhnya keimanan salah seorang di antara kalian itu bisa usang sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka, mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui keimanan di dalam hati kalian.”[1] Dari hadis yang ibaratkan iman seperti sebuah pakaian bisa kita ambil beberapa faedah, di antaranya ialah: 1. Iman itu bisa naik dan turun Rasulullah ﷺ dalam hadis ini menggambarkan iman dengan sebuah pakaian — sesuatu yang awalnya baru, bersih, dan indah, namun lama-kelamaan bisa lusuh, kotor, dan robek karena pemakaian. Demikian pula iman dalam hati manusia: pada awalnya mungkin kuat, segar, dan menyala, namun bisa melemah karena kelalaian, maksiat, kesibukan dunia, atau jauh dari zikir dan majelis ilmu. Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita, bahwa iman bukan sesuatu yang statis, tetapi bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan amal dan kondisi hati. Dalil lainnya yang menunjukkan hal tersebut, ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi, ﴿ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُه زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢ ﴾ “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.”[2] 2. Pentingnya memperbanyak doa kepada Allah Yaitu doa agar diistikamahkan dalam ketaatan dan keimanan. Di antaranya ialah doa yang paling sering diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: yaa muqallibal quluub, tsabbits qalbii ‘alaa diinika. Suatu hari, Syahr bin Hausyab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ. “Wahai Ummul Mukminin (Ummu Salamah), doa apakah yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berada di sisimu? Ia menjawab, ‘Doa yang paling sering beliau baca adalah, ‘Yā Muqallibal Qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik’ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Aku (Ummu Salamah) pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering sekali berdoa dengan kalimat itu?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, tidaklah ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah, maka Dia akan meneguhkannya; dan siapa yang Allah kehendaki (untuk tergelincir), maka Dia akan memalingkannya.’ Mendengar hadis ini, Mu‘ādz radhiyallahu ‘anhu membaca ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا ‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan kepada kami petunjuk.’ — QS. Āli ‘Imrān [3]: 8”[3] 3. Jangan pernah merasa aman dari lemahnya iman Mengapa bisa demikian? Jawabannya ialah, karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal tersebut, bahwa iman itu bisa usang, sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Berarti hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa perlunya kita untuk berhati-hati dari lemahnya keimanan. Di antara bentuk kehati-hatian diri kita dari lemahnya iman, ialah dengan cara kita mengetahui gejala-gejalanya. Dalam kitab Zhaahiratu Dha’fil Iimaan, karya asy-Syekh Muhammad Saleh al-Munajjid hafizhahullah disebutkan sekitar ada 20-an gejala, di antaranya: a. Mulai suka dengan hal-hal yang berbau kemaksiatan.b. Hati keras dan kasar.[4]c. Beribadah mulai tidak sempurna.[5]d. Hatinya sulit tersentuh ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.e. Pelit.f. Merasa senang dengan kegagalan saudaranya.g. Kurangnya sifat wara’ (kehati-hatian).h. Retaknya hubungan persaudaraan sesama muslim.i. Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap Islam.[6]j. Banyak berdebat pada hal-hal yang kurang bermanfaat. Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum. Ditulis Oleh:Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H [1] HR. Ath-Thabrani, no. 14/70, al-Hakim, no. 5, dan dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’, no. 1590.[2] QS. Al-Anfal: 2.[3] HR. At-Tirmidzi, no. 3522 dan dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani.[4] Contoh: Sulit untuk menerima nasihat, atau hatinya tidak tersentuh ketika ada musibah, semisal adanya kematian. Padahal dia yang mengangkat jenazah tersebut, namun hatinya tetap keras. Di kuburan tertawa sampai terbahak-bahak, dan yang semisalnya.[5] Contoh: Sering telat berangkat/menunaikan salat wajib.[6] Contoh: Malas untuk menyebarkan syiar Islam atau mendakwahkan agama ini. https://www.youtube.com/watch?v=7M_MSaYJgHU&t=1s&pp=0gcJCZQKAYcqIYzv
UNTUKMU YANG SEDANG BERSEDIH
JAKARTA – Untukmu yang sedang bersedih, setiap dari kita pasti pernah merasakan kesedihan. Entah karena masalah ekonomi, kebutuhan pokok yang makin naik, pekerjaan yang sulit, atau hutang yang tak kunjung lunas. Mungkin juga karena keluarga, anak yang belum mau salat, pasangan yang sulit diajak ke arah kebaikan, atau karena teman dan lingkungan yang mengecewakan. Semua itu bagian dari sunnatullah, fitrah kehidupan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧ ﴾ “Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”[1] Untukmu yang sedang bersedih. Sedih itu manusiawi, tapi jangan sampai berlarut-larut. Di balik setiap ujian, pasti akan selalu ada hikmah dan pelajaran dari Allah ‘azza wa jalla. Lima pengingat bagi hati yang sedang bersedih Berikut beberapa dalil dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah yang semoga bisa menjadi penenang bagi hati yang sedang bersedih: 1. Allah ta’ala tidak membebani seorang hamba di luar kemampuannya Hal ini sebagaimana yang Allah kabarkan dalam firman-Nya, ﴿ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ ﴾ “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”[2] Apa pun masalah kita hari ini, sesulit apa pun tampaknya, Allah tahu, kita mampu menjalaninya. 2. Bersama kesulitan ada kemudahan Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an, ﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾ “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”[3] Para ulama kita menjelaskan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beratnya beban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah dakwah. Beliau harus menghadapi gangguan dari kaumnya, penolakan, celaan, bahkan sampai pengusiran. Maka, Allah ta’ala hibur beliau dengan dua ayat ini. Keunikan ayat Jika kita perhatikan dua ayat ini, maka di dalamnya terdapat empat kali penekanan, bahwa ketika ada kesulitan pasti bersamanya ada kemudahan: a. Pada ayat disebutkan إِنَّ yang artinya; ‘sesungguhnya’. Hal ini memberikan penekanan makna pada ayat-ayat setelahnya.b. Adanya pengulangan kata.c. Dalam ayat disebutkan kesulitan hanya satu kali, sementara kemudahan dua kali. Sehingga tidak mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan.d. Allah menggunakan kata مع yang artinya; ‘bersama’ bukan setelah. Ini menunjukkan, bahwa kesulitan itu pasti disertai dengan kemudahan. 3. Kesedihan adalah cermin keimanan Ketika seseorang bersedih, maka terlihat keimanan pada dirinya; apakah dia termasuk orang-orang yang keimanannya baik, atau justru sebaliknya. Dan keimanan itu biasanya nampak pada amalan. Oleh karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ﴿ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ.. ﴾ “Dialah (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang amalannya paling baik.”[4] Perhatikan ayat di atas, Allah mengatakan, ‘yang paling baik amalannya,’ bukan yang paling banyak. Dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman, ﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴾ “Apakah manusia mengira, bahwa mereka dibiarkan berkata, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka belum diuji?”[5](QS. Al-‘Ankabut: 2) Ujian yang sampai membuat kita mengalami kesedihan, adalah cara Allah mengukur seberapa dalam iman kita. Bukan untuk menyiksa, tapi untuk menaikkan derajat. 4. Kesedihan menggugurkan dosa Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, atau sakit, atau kegelisahan, atau kesedihan, atau gangguan, atau kesusahan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dengan itu sebagian dari dosa-dosanya.”[6] Jadi, rasa sakit yang sedang kita alami, atau kesedihan, dan segala hal yang tidak mengenakan hati, itu semua sebagai penggugur dosa-dosa kita. 5. Allah bersama orang yang bersabar Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾ “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”[7] Dari Ummu Salamah[8] pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ؛ إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللّٰهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ في مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا. “Setiap hamba yang terkena musibah, kemudian ia mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, ya Allah berikanlah pahala atas musibah yang menimpaku, dan berikanlah ganti yang jauh lebih baik dari sebelumnya,’ niscaya Allah akan memberikan pahala baginya atas musibah yang menimpa dirinya, dan Allah akan mengganti (sesuatu yang hilang darinya) dengan sesuatu yang jauh lebih baik.” Terbukti. Apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada Ummu Salamah langsung ia praktekkan. Ketika suaminya meninggal dunia, Ummu Salamah merasa bahwa tidak ada sosok pria yang jauh lebih baik daripada suaminya yang sebelumnya, hingga pada akhirnya Allah memberikan taufik kepadanya, kemudian dia berdoa dengan doa tersebut, dan Allah pun hadirkan sosok lelaki yang jauh lebih baik dari suaminya yang pertama, yaitu Muhammad bin Abdillah shallallahu’alaihi wa sallam. Penutup Kesedihan adalah bagian dari hidup. Namun jangan lupa, bahwa di setiap air mata yang jatuh, ada doa yang naik ke langit. Bersedihlah secukupnya, lalu bangkitlah dengan keyakinan, “Selama Allah masih membersamaiku, niscaya aku tidak akan pernah kehilangan arah.” Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum. Ditulis oleh:Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H [1] QS. Al-Baqarah: 155-157.[2] QS. Al-Baqarah: 286.[3] QS. Al-Insyirah: 5-6.[4] QS. Al-Mulk: 2.[5] QS. Al-‘Ankabut: 2.[6] HR. Al-Bukhari, no. 5643.[7] QS. Al-Baqarah: 153.[8] Nama asli beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah. https://www.youtube.com/watch?v=0ZXGZ4zo8Hs
PENTINGNYA BERIMAN KEPADA AL-QUR’AN
JAKARTA – Salah satu kewajiban seorang Muslim, iala beriman kepada Al-Qur’an. Mengapa harus demikian? Jawabannya ialah, karena Al-Qur’an, merupakan rukun Iman yang ke-3 dari enam rukun yang wajib kita Imani. Dalilnya ialah sebuah hadis panjang yang mengisahkan tentang kehadiran Jibril ‘alaihis salam di majelisnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, beliau bersabda, « الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » Iman adalah engkau beriman (percaya) kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang kurang baik.”[1] Pada hadis di atas di sebutkan, bahwa kita diperintahkan untuk beriman kepada kitab-kitab-Nya, dan di antara kitab-kitab yang Allah turunkan kepada manusia, ialah Al-Qur’an. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk beriman kepada Al-Qur’an. Allah berfirman, ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِه وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِه وَكُتُبِه وَرُسُلِه وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ١٣٦ ﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, rasul-rasul-Nya, dan kepada kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya (Muhammad). Kalian juga berimanlah kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari Akhir, sungguh, dia telah amat sangat tersesat.”[2] Bentuk beriman kepada Al-Qur’an Berikut beberapa bentuk beriman kepada Al-Qur’an, yaitu: 1. Meyakini, bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah (perkataan Allah) bukan makhluk Banyak sekali dalil yang menunjukkan, bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah, bukan makhluk, di antaranya ialah firman Allah berikut, ﴿ وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلَامَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَ ٦ ﴾ “Apabila salah seorang di antara kaum Musyrikin ada yang meminta pelindungan kepada engkau (Muhammad), lindungilah dia supaya dapat mendengar kalam (perkataan) Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”[3] 2. Meyakini bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril Di antara dalilnya ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi, ﴿ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢ ﴾ “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta beriman pada apa yang diturunkan kepada Muhammad, meyakini bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Rabb mereka, maka, Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.”[4] 3. Membenarkan semua isi yang ada di dalam Al-Qur’an Apa saja yang ada di dalam Al-Qur’an, isinya benar. Tidak ada kedustaan sama sekali. Karena yang menyampaikan adalah Dzat Yang tidak pernah berbohong, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. 4. Menerima dan tunduk pada hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an 5. Mentadabburi Al-Qur’an Demikianlah perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Perhatikan firman-Nya berikut, ﴿كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٩﴾ “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) yang penuh berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal sehat dapat mengambil pelajaran darinya.”[5] Berusaha untuk senantiasa membaca dan mengamalkan isi kandungannya. Ditulis oleh:Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H [1] HR. Muslim, no. 8.[2] QS. An-Nisa’: 136.[3] QS. At-Taubah: 6.[4] QS. Muhammad: 2.[5] QS. Shad: 29. https://www.youtube.com/watch?v=MY2O9Ks_Hz8
KHUTBAH JUMAT: 3 PERSIAPAN PENTING SAMBUT RAMADHAN
Khutbah Jumat Pertama الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،فيا أيها المسلمون، أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل، فإن تقوى الله خير زاد ليوم المعاد. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan yang agung, bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari neraka, yaitu bulan Ramadhan. Ramadhan bukan datang secara tiba-tiba tanpa persiapan. Barangsiapa ingin sukses di Ramadhan, maka hendaknya ia menyiapkan dirinya sejak sekarang. Pada khutbah ini kita akan membahas tiga persiapan penting sambut Ramadhan: 1. Taubat yang sungguh-sungguh2. Persiapan hati3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an Persiapan Pertama: Taubat yang Sungguh-Sungguh Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Taubat adalah kewajiban yang harus disegerakan, bukan ditunda-tunda. Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾ (QS. Ali ‘Imran: 133) Artinya: “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” Maka siapa pun yang masih bergelimang dalam maksiat, hendaknya segera bertaubat. Jangan mengatakan: “Nanti aku bertaubat saat Ramadhan.”Karena kita tidak tahu apakah kita masih hidup sampai Ramadhan atau tidak. Syarat Taubat Nasuha Para ulama menjelaskan syarat taubat yang benar:شروط التوبة النصوح هي: 1. الإقلاع عن الذنب2. الندم على ما فات3. العزم على عدم العودة إليهوإن كانت التوبة من مظالم العباد زيد شرط رابع:4. رد الحقوق إلى أصحابها أو التحلل منهم Artinya:Syarat taubat yang sungguh-sungguh adalah: 1. Meninggalkan dosa tersebut2. Menyesal atas perbuatan yang telah lalu3. Bertekad tidak mengulanginya Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka ditambah syarat keempat: 4. Mengembalikan hak atau meminta maaf kepada pemiliknya. Mengapa Taubat Itu Penting? Karena dosa dapat menghalangi seorang hamba dari ketaatan. Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata: «الرابع أن لا يحتقب الأوزار بالنهار فإن ذلك مما يقسي القلب ويحول بينه وبين أسباب الرحمة… قال رجل للحسن: يا أبا سعيد إني أبيت معافى وأحب قيام الليل وأعد طهوري فما بالي لا أقوم؟ فقال: ذنوبك قيدتك»(إحياء علوم الدين 1/356) Artinya:“Dosa itu mengeraskan hati dan menghalangi sebab-sebab rahmat. Ada seseorang berkata kepada Hasan Al-Bashri: ‘Aku sehat, aku ingin qiyamul lail, aku siapkan wudhuku, tapi aku tidak bisa bangun.’ Hasan berkata: ‘Dosamu telah membelenggumu.’” Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: «ومنها: حرمان الطاعة، فلو لم يكن للذنب عقوبة إلا أنه يصد عن طاعة ويقطع طريق طاعة أخرى… فينقطع عليه بالذنب طاعات كثيرة»(الداء والدواء ص 54) Artinya:“Di antara dampak dosa adalah terhalangnya seseorang dari ketaatan. Satu dosa dapat memutus jalan menuju banyak ketaatan.” Maka bersihkan dosa sebelum Ramadhan datang, agar kita masuk Ramadhan dalam keadaan ringan beribadah. Persiapan Kedua: Persiapan Hati Jamaah yang dirahmati Allah,Jika hati baik, maka ibadah akan terasa mudah.Rasulullah ﷺ bersabda: «أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»(HR. Bukhari dan Muslim) Artinya:“Dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak seluruh tubuh, itulah hati.” Para salaf berkata: «قال بعض السلف: أفضل الأعمال سلامة الصدور وسخاوة النفوس»(لطائف المعارف ص 267) Artinya:“Amalan terbaik adalah hati yang bersih dan jiwa yang lapang.” Maka dari itu amalan hati menjadi salah satu prioritas amal nabi kita dan para sahabatnya Ibnu Rajab رحمه الله berkata: «ولم يكن أكثر تطوع النبي صلى الله عليه وسلم وخواص أصحابه بكثرة الصوم والصلاة، بل ببر القلوب وطهارتها»(لطائف المعارف ص 448) Artinya:“Amalan sunnah Nabi dan para sahabat bukan semata banyak puasa dan shalat, tetapi kebersihan hati dan kuatnya hubungan dengan Allah.” Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam ketika diutus menghadapi Fir’aun, doa pertamanya adalah: ﴿رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي﴾(QS. Thaha: 25–26) “Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku.” Terlebih lagi Allah hanya melihat amal dan hati seorang hamba bukan dari harta dan parasnya Rasulullah ﷺ bersabda: «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»(HR. Muslim) Artinya:“Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” Maka bersihkan hati dari:Dengki, Iri, Dendam, Riya, Ujub Karena Ramadhan adalah ibadah hati sebelum ibadah fisik. Persiapan Ketiga: Memperbanyak Membaca Al-Qur’an Jamaah Jumat yang berbahagia, Para ulama dahulu mempersiapkan Ramadhan dengan Al-Qur’an. Ibnu Rajab رحمه الله berkata: «وقال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء»(لطائف المعارف ص 258) Artinya:“Bulan Sya’ban disebut sebagai bulannya para pembaca Al-Qur’an.” Dan beliau berkata: «وكان عمرو بن قيس إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن»(لطائف المعارف ص 259) Artinya:“Jika masuk bulan Sya’ban, Amru bin Qais menutup tokonya dan fokus membaca Al-Qur’an.” selain itu Alquran adalah kitab Allah yang penuh keberkahan Allah berfirman: ﴿وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ﴾(QS. Al-An’am: 155) Artinya:“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan penuh berkah.” Jika waktu kita sempit karena kesibukan dunia yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditunda, maka solusinya adalah Al-Qur’an. Bukan banyaknya waktu, tapi keberkahannya. Ibrahim bin Abdul Wahid berkata: «أكثر من قراءة القرآن فإنه يتيسر لك الذي تطلبه على قدر ما تقرأ»(ذيل طبقات الحنابلة 2/98) Artinya:“Perbanyak membaca Al-Qur’an, karena urusanmu akan dimudahkan sesuai kadar bacaanmu.” Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili hafizhahullah berkata di dalam sebuah muhadhorohnya: والله إذا قرأت القرآن في يومك تنجز من الأعمال ما لا تنجزه في أيامArtinya: “Demi Allah, jika engkau membaca Al-Qur’an dalam harimu, engkau akan menyelesaikan banyak pekerjaan yang tidak mampu kau selesaikan dalam beberapa hari.” Khutbah Kedua الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى.أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. Ma’asyiral muslimin, Mari kita sambut Ramadhan dengan: 1. Taubat yang sungguh-sungguh2. Membersihkan hati3. Menghidupkan Al-Qur’an Jangan sampai Ramadhan datang dalam keadaan kita belum siap. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم انك حميد مجيدوبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على ابراهيم وعلى آل ابراهيم انك حميد مجيد اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلَّها، وارزقنا التقوى، اللهم آتِ نفوسنا تقواها، وزكِّها أنت خيرُ من زكَّاها، أنت وليُّها ومولاها، اللهم اغفِرْ لنا ما قدَّمنا وما أخَّرنا، وما أسررنا وما أعلنَّا، وما أنت أعلمُ به مِنَّا، اللهم اهدنا الصراط