JAKARTA – Takdir bukan alasan bagi seorang Muslim untuk berhenti berusaha, melainkan keyakinan yang dapat menguatkan iman dan mendorongnya untuk terus berikhtiar. Dengan memahami qadha dan qadar, seorang Muslim menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga dia tetap berusaha meraih tujuan sambil bertawakal dan meyakini pertolongan-Nya. Berikut Tanya-Jawab Terkait Takdir untuk Seorang Muslim Pertanyaan: Apakah iman kepada qadha dan qadar dapat membantu menambah keimanan seorang Muslim? Jawaban: Beriman kepada qadha dan qadar dapat membantu seorang Muslim dalam menjalankan urusan agama maupun dunianya. Hal ini karena perbuatannya didasari keimanan terhadap qudrah (kekuasaan) Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala sesuatu. Apabila Dia menghendaki sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya. Ketika seseorang mengimani hal tersebut, dia akan berusaha melakukan sebab-sebab yang dapat mengantarkannya kepada tujuan yang diinginkan. Dengan demikian, iman kepada qadha dan qadar tidak membuat seseorang meninggalkan usaha, tetapi justru mendorongnya untuk berikhtiar sembari meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagai contoh, dalam sejarah kita mengetahui bahwa kaum Muslimin pernah meraih banyak kemenangan besar, padahal jumlah mereka sangat sedikit dan persenjataan mereka sangat sederhana. Kemenangan tersebut diraih dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, disertai keimanan mereka terhadap janji Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka juga meyakini bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan terjadi berdasarkan qadha dan qadar-Nya. Keyakinan inilah yang menguatkan mereka untuk terus berusaha dan menghadapi berbagai kesulitan. Disampaikan oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, dalam kumpulan fatwa beliau, 1/54. Penukil: Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.
ANJURAN MENYEGERAKAN PULANG DARI SAFAR UNTUK KEMBALI KEPADA KELUARGA
JAKARTA – Dalam Islam, bepergian atau safar untuk mencari nafkah, menuntut ilmu, dan memenuhi keperluan lainnya merupakan perkara yang diperbolehkan. Namun, ketika urusan telah selesai, seorang Muslim dianjurkan untuk segera kembali kepada keluarganya dan tidak berlama-lama di perjalanan tanpa keperluan. Keluarga memiliki hak yang perlu ditunaikan, mulai dari memberikan pendidikan, bimbingan, dan perlindungan hingga mencurahkan kasih sayang. Kehadiran seseorang di tengah keluarganya juga memiliki peran penting dalam mendampingi mereka dan memenuhi kebutuhan yang tidak selalu dapat dipenuhi dari kejauhan. DALIL HADITS NABI ﷺ TENTANG BERSEGERA PULANG DARI SAFAR Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ “Safar (bepergian) itu adalah sebagian dari azab (siksaan). Safar menghalangi salah seorang dari kalian dari makan, minum, dan tidurnya. Maka, apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya dalam safar, hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya.” (Muttafaq ‘Alaih). Kata nahmatahu dalam hadits tersebut bermakna maksud atau urusan yang hendak diselesaikan. Dengan demikian, ketika keperluan safar telah terpenuhi, seorang Muslim dianjurkan untuk segera pulang dan kembali menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga. HIKMAH DAN PENJELASAN 1. Safar merupakan bagian dari kesulitan Rasulullah ﷺ menyebut safar sebagai bagian dari azab karena perjalanan dapat mengganggu kenyamanan seseorang, terutama dalam urusan makan, minum, dan tidur. Seorang musafir juga menghadapi berbagai kesulitan yang tidak selalu dijumpai ketika berada di rumah. Kesulitan tersebut semakin terasa pada masa dahulu, ketika perjalanan dilakukan dengan kendaraan sederhana, seperti unta, melewati teriknya musim panas ataupun dinginnya musim dingin. Karena itu, ketika urusan perjalanan telah selesai, tidak ada alasan untuk sengaja memperpanjang safar tanpa keperluan yang jelas. 2. Keluarga memiliki hak yang harus ditunaikan Ketika seseorang bepergian, dia meninggalkan keluarga yang mungkin membutuhkan kehadirannya untuk mendapatkan pendidikan, bimbingan, perlindungan, dan perhatian. Ada pula keadaan mendadak yang mengharuskan dia berada di tengah keluarga untuk memberikan bantuan secara langsung. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memperhatikan hak-hak keluarganya dan tidak membiarkan mereka terlalu lama tanpa kehadirannya jika urusan safar telah selesai. Kembali ke rumah menjadi salah satu cara untuk menunaikan tanggung jawab tersebut. 3. Menetap dan mengurus keluarga lebih utama daripada bepergian tanpa keperluan Pada dasarnya, menetap bersama keluarga dan menunaikan tanggung jawab terhadap mereka lebih utama daripada bepergian tanpa kebutuhan yang jelas. Safar dapat dilakukan untuk memenuhi keperluan yang dibenarkan, seperti mencari nafkah, menuntut ilmu, atau urusan lainnya. Namun, seseorang hendaknya tidak menjadikan perjalanan sebagai alasan untuk mengabaikan hak-hak keluarganya. Jika keperluan telah selesai, dia dianjurkan untuk segera kembali dan melanjutkan tanggung jawabnya di rumah. 4. Teladan kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabat Anjuran menyegerakan pulang dari safar juga sejalan dengan kisah Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu bersama sekitar 20 pemuda dari kaumnya. Mereka datang kepada Nabi ﷺ untuk belajar agama dan tinggal bersama beliau selama 20 malam. Ketika Nabi ﷺ melihat bahwa mereka mulai merindukan keluarga, beliau memahami keadaan mereka dan memerintahkan agar mereka kembali kepada keluarganya. Beliau bersabda: “Kembalilah kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, didiklah mereka, dan ajarilah mereka.” Kisah ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap keadaan para sahabat sekaligus pentingnya menunaikan tanggung jawab kepada keluarga. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membimbing mereka agar menerapkan ilmu tersebut di tengah keluarga masing-masing. Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 4/621. Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila
KEUTAMAAN MENDOAKAN SAUDARA SESAMA MUSLIM TANPA SEPENGETAHUANNYA (DOA BI ZAHRIL GHAIB)
JAKARTA – Di antara keindahan ajaran Islam adalah anjuran untuk saling mendoakan dalam kebaikan. Salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar adalah doa bi zahril ghaib, yaitu mendoakan saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuannya. Mendoakan orang lain tanpa diminta merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada sesama Muslim. Amalan ini juga mencerminkan keinginan seseorang agar saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dia menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Al-Qur’an dan As-Sunnah menjelaskan keutamaan mendoakan saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuannya. Di antara dalil yang menerangkan amalan tersebut adalah sebagai berikut. DALIL DARI AL-QUR’AN TENTANG MENDOAKAN SESAMA MUSLIM Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang doa orang-orang beriman: وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…’” (QS. Al-Hasyr: 10). Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk memohonkan ampun bagi kaum mukminin: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19). Selain itu, Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang memohonkan ampun bagi dirinya, kedua orang tuanya, dan kaum mukminin: رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa mendoakan sesama orang beriman merupakan amalan yang dicontohkan dalam Al-Qur’an. Seorang Muslim tidak hanya memohon kebaikan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk saudara-saudaranya seiman. DALIL DARI HADITS NABI ﷺ Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan mendoakan saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuannya. Di antara keutamaan tersebut adalah adanya malaikat yang mengaminkan doa sekaligus mendoakan kebaikan serupa bagi orang yang berdoa. Hadits Pertama Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidaklah seorang hamba Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu hal yang semisal.’” (HR. Muslim No. 2732). Hadits Kedua Dalam riwayat lain dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang mustajab. Di dekatnya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu akan berkata, ‘Amin, dan bagimu kebaikan yang semisal.’” (HR. Muslim No. 2732). Kedua hadits tersebut menjelaskan keutamaan besar mendoakan saudara sesama Muslim secara diam-diam. Ketika seseorang memohonkan kebaikan bagi saudaranya, malaikat turut mengaminkan doa tersebut dan mendoakan agar orang yang berdoa memperoleh kebaikan serupa. HIKMAH DAN PENJELASAN 1. Bukti kecintaan kepada saudara sesama Muslim Mendoakan orang lain tanpa diminta merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada sesama Muslim. Amalan ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ tentang kesempurnaan iman, yaitu seseorang mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri. 2. Amalan yang dicontohkan para nabi Mendoakan kaum mukminin bukan hanya amalan yang dianjurkan kepada umat Islam, tetapi juga dicontohkan oleh para nabi. Di antaranya adalah doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang memohonkan ampun bagi kaum mukminin, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 41. 3. Mendoakan sesama Muslim ketika shalat Seorang Muslim juga memohonkan keselamatan bagi orang-orang saleh ketika membaca tasyahud dalam shalat, melalui bacaan: “Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.” Artinya, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.” Bacaan tersebut mengandung doa keselamatan bagi diri sendiri dan hamba-hamba Allah yang saleh. 4. Keutamaan mendoakan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan Hadits tentang malaikat yang mengucapkan, “Amin, dan bagimu hal yang semisal,” menjelaskan keutamaan mendoakan saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuannya. Amalan ini dapat dilakukan atas inisiatif sendiri, tanpa harus menunggu permintaan dari orang yang didoakan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi saudara-saudaranya. Dia dapat memohonkan ampunan, keselamatan, petunjuk, dan kebaikan lainnya bagi mereka, meskipun mereka tidak mengetahui doa tersebut. Sumber: Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, 6/45. Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila