TIGA PESAN UNTUKMU YANG MENIKAH

HUKUM MENIKAH ATAU MELAMAR di BULAN MUHARRAM TIGA PESAN UNTUKMU YANG MENIKAH

JAKARTA – Menikah adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Namun, agar bahtera rumah tangga tetap kokoh, ada tiga pesan penting yang patut dijaga.

Tiga Pesan untukmu yang Menikah

Pada kesempatan ini terdapat tiga pesan penting bagi kedua mempelai yang menikah:

  1. Bersyukur
  2. Bersabar atas hal-hal yang tidak menyenangkan
  3. Berta’awun dalam kebaikan dan ketaatan

1. Bersyukur

Bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, khususnya bagi kedua mempelai. Menikah adalah nikmat besar. Banyak orang ingin menikah tetapi belum dimudahkan, sementara Allah memberi kalian kemudahan.

Mengapa menikah atau pernikahan disebut nikmat besar?

a. Penyempurna separuh agama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صالحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ البَاقِي «

“Barangsiapa dikaruniai Allah istri salihah, sungguh Allah telah membantunya dalam menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang lain.” (HR. Ath-Thabrani, al-Hakim, al-Baihaqi)

Menikah membantu seseorang menjaga agamanya jika mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.

b. Sarana meraih pahala besar

Dalam sebuah hadis, dari Abu Dzar al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Suatu hari, pernah ada beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluh kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya bisa memperoleh pahala yang banyak, di sisi lain mereka juga menunaikan salat sebagaimana kami mengerjakannya, mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa, sementara mereka bisa melebihi kami dalam bersedekah dengan harta yang mereka miliki.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

أَوَ لَيسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ.

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk disedekahkan? Sesungguhnya setiap ucapan tasbih (سُبْحَانَ اللهِ) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (اللّٰهُ أَكْبَرُ) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (الْحَمْدُ لِلّٰهِ) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ) adalah sedekah, memerintahkan kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian pun terdapat sedekah.”

يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟

“Wahai Rasulullah, apakah ketika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya), lalu dia mendapat pahala dari hal itu?”

أَرَأَيتُمْ لَو وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا.

“Bagaimana pendapat kalian, seandainya dia menyalurkannya pada yang haram, bukankah dia akan mendapatkan dosa karenanya? Demikian pula apabila dia menyalurkannya pada yang halal, dia mendapatkan pahala karenanya.”[2]

2. bersabar atas hal-hal yang tidak disukai setelah menikah

Setelah bersyukur, maka jangan lupa bersabar, karena tidaklah setiap kenikmatan yang kita dapatkan di dunia ini, malainkan setelahnya ada kesedihan. Salah seorang ulama pernah mengatakan,

لا تَجِدُ لِعَبْدٍ لَذَّةً فِي الدُّنْيَا إِلَّا وَفِي عَاقِبَتِهَا حُزْنٌ

“Tidaklah seorang hamba merasakan kenikmatan dunia, melainkan pada akhirnya akan disertai kesedihan.”[3]

Suatu hari nanti, engkau (wahai mempelai pria) akan melihat kekurangan yang ada pada istrimu, demikian pula sebaliknya, maka bersabarlah.

Wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Ia mudah untuk melakukan kesalahan, maka tugas seorang suami adalah senantiasa menasihatinya dengan kebaikan, namun jangan terlalu keras, karena jika dipaksakan untuk lurus, maka ia bisa patah, namun bukan berarti dibiarkan begitu saja, karena ia akan terus bengkok.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.

“Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya dengan paksa, engkau akan mematahkannya; tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah untuk berbuat baik kepada para wanita.”[4]

Suami adalah seorang pemimpin, maka, ketika ada hal-hal yang tidak mengenakkan, nasihatilah ia dengan lemah lembut, mukadimah yang baik, dan gunakan kata-kata yang baik, jangan sampai seperti seorang guru mengajari anak-anak TK.

Selain itu, ketika suatu waktu pasangan/keluarga kita sulit dinasihati, maka kita harus mengintrospeksi diri, karena sejatinya, tidaklah keburukan pasangan kita itu nampak, melainkan karena dosa-dosa kita.

Dalam sebuah riwayat disebutkan,

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ أَوْ فِي الإِسْلَامِ فَيُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam, kemudian mereka berpisah, melainkan karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari keduanya.”[5]

Oleh karena itu, sampai-sampai ada salah seorang ulama mengatakan,

إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذٰلِكَ مِنْ خُلُقِ حِمَارِي وَخَادِمِي.

“Sesungguhnya aku terkadang bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetahui (dampak maksiat itu) dari perubahan sikap keledai tungganganku dan pelayan rumahku.”[6]

3. berta’awun dalam kebaikan dan ketaatan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلى البِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعاوَنُوا عَلى الإثْمِ وَالعُدْوَانِ ﴾

“Kalian saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan. Janganlah kalian saling tolong menoloh dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”[7]

Di antara bentuk tolong menolong dalam kebaikan; mengajarkan ilmu agama dan membaca Al-Qur’an. Begitu pula dalam amalan-amalan sunnah, seperti membangunkan untuk salat tahajud atau yang semisalnya.

Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H

[1] HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath, (972), al-Hakim (2681), dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iimaan (5487). Para ulama menilai bahwa hadis ini sanadnya shahiih, ada pula yang menilai hasan.
[2] HR. Muslim, no. 1006.
[3] Ada yang mengatakan, bahwa ini adalah ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.
[4] HR. Muslim, no. 1468. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[5] HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 401.
[6] Ucapan al-Fudhail rahimahullah.
[7] QS. Al-Ma’idah: 2.

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id