JAKARTA – Bertanya dalam Islam adalah jalan utama menuntut ilmu, namun tidak setiap pertanyaan bernilai ibadah. Bertanya dalam Islam harus disertai adab agar mendatangkan manfaat dan keberkahan, bukan sekadar memuaskan rasa ingin tahu atau mencari perdebatan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa bertanya dalam Islam adalah perintah, namun para ulama menjelaskan bahwa perintah ini terikat dengan adab dan tujuan yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
“Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya.”
(HR. Abu Dawud no. 336)
Namun, tidak semua pertanyaan terpuji. Dalam Al-Qur’an, Allah juga memperingatkan tentang pertanyaan yang tidak bermanfaat:
﴿ لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ ﴾
“Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang jika dijelaskan akan menyusahkan kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 101)
Dari sini, para ulama menyimpulkan bahwa bertanya dalam Islam harus memenuhi beberapa adab:
Niat yang ikhlas, untuk mengamalkan ilmu, bukan menguji atau menjatuhkan.
- Memilih waktu dan kondisi yang tepat, tidak mengganggu.
- Menggunakan bahasa sopan dan jelas, tanpa merendahkan.
- Mendengarkan jawaban dengan tawadhu’, bukan membantah.
- Mengamalkan ilmu, karena ilmu tanpa amal adalah hujjah atas diri sendiri.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa seseorang bisa mendapatkan ilmu karena bagusnya pertanyaan dan bagusnya adab saat mendengar jawaban. Ini menunjukkan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada sikap penanya.
Di era media sosial, adab bertanya dalam Islam semakin penting. Banyak pertanyaan diajukan secara kasar, menyudutkan, atau bernada provokatif. Padahal, ilmu agama tidak akan masuk ke hati yang sombong.
Kesimpulan:
Bertanya dalam Islam adalah ibadah jika diniatkan dengan benar dan dilakukan dengan adab. Pertanyaan yang santun membuka pintu ilmu, sedangkan pertanyaan tanpa adab justru bisa menutup hidayah.
Referensi:
- QS. An-Nahl: 43
- QS. Al-Ma’idah: 101
- HR. Abu Dawud no. 336
- Ibnu Rajab, Jami’ Ulum wal Hikam


