JAKARTA – Amal banyak sering kali dijadikan ukuran kesalehan, tetapi tidak sedikit orang yang memiliki amal banyak namun akhlaknya tidak berubah. Shalatnya rajin, puasanya rutin, bahkan lisannya fasih berdalil, namun sikapnya keras, mudah merendahkan orang lain, dan sulit menerima nasihat. Fenomena ini menjadi tanda bahwa amal yang dikerjakan belum sepenuhnya menyentuh hati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa tujuan ibadah bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi pembentukan akhlak dan ketakwaan. Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat yang benar seharusnya berdampak pada akhlak. Jika seseorang memiliki amal banyak tetapi tetap gemar berbuat zalim, berkata kasar, dan meremehkan orang lain, maka patut dipertanyakan kualitas keikhlasan dan kekhusyukan amal tersebut.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa amal tanpa akhlak yang baik bisa menjadi sia-sia. Beliau bersabda:
إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Inna min akmalil-mu’minīna īmānan aḥsanuhum khuluqā
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Amal Banyak Dilihat dari Akhlak
Para ulama menjelaskan bahwa akhlak adalah buah dari iman dan amal. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa amal yang tidak melahirkan ketundukan hati dan kelembutan akhlak dikhawatirkan hanya menjadi kebiasaan fisik tanpa ruh.
Allah Ta’ala bahkan memperingatkan orang yang tertipu dengan amalnya sendiri. Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
Afara’aita manittakhadza ilāhahū hawāh
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Sebagian ulama menafsirkan ayat ini termasuk orang yang beramal namun mengikuti hawa nafsunya, merasa paling benar, dan menolak nasihat. Amal banyak tidak lagi menjadi sarana mendekat kepada Allah, tetapi justru menjadi sebab munculnya kesombongan.
Kesimpulannya, amal banyak adalah nikmat besar, tetapi harus dibarengi dengan muhasabah dan perbaikan akhlak. Amal yang benar akan melahirkan kerendahan hati, kasih sayang, dan ketakutan kepada Allah. Jika amal belum mengubah akhlak, maka yang perlu diperbaiki bukan jumlah amal, tetapi keikhlasan dan pemahaman hati. Wallahu a’lam.
Referensi:
– Al-Qur’an Al-Karim
– Tafsir Ibn Katsir
– Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim
– HR. Tirmidzi no. 1162

