JAKARTA – Untukmu yang sedang bersedih, setiap dari kita pasti pernah merasakan kesedihan. Entah karena masalah ekonomi, kebutuhan pokok yang makin naik, pekerjaan yang sulit, atau hutang yang tak kunjung lunas. Mungkin juga karena keluarga, anak yang belum mau salat, pasangan yang sulit diajak ke arah kebaikan, atau karena teman dan lingkungan yang mengecewakan.
Semua itu bagian dari sunnatullah, fitrah kehidupan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧ ﴾
“Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”[1]
Untukmu yang sedang bersedih. Sedih itu manusiawi, tapi jangan sampai berlarut-larut. Di balik setiap ujian, pasti akan selalu ada hikmah dan pelajaran dari Allah ‘azza wa jalla.
Lima pengingat bagi hati yang sedang bersedih
Berikut beberapa dalil dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah yang semoga bisa menjadi penenang bagi hati yang sedang bersedih:
1. Allah ta’ala tidak membebani seorang hamba di luar kemampuannya
Hal ini sebagaimana yang Allah kabarkan dalam firman-Nya,
﴿ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ ﴾
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”[2]
Apa pun masalah kita hari ini, sesulit apa pun tampaknya, Allah tahu, kita mampu menjalaninya.
2. Bersama kesulitan ada kemudahan
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an,
﴿ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”[3]
Para ulama kita menjelaskan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beratnya beban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah dakwah. Beliau harus menghadapi gangguan dari kaumnya, penolakan, celaan, bahkan sampai pengusiran. Maka, Allah ta’ala hibur beliau dengan dua ayat ini.
Keunikan ayat
Jika kita perhatikan dua ayat ini, maka di dalamnya terdapat empat kali penekanan, bahwa ketika ada kesulitan pasti bersamanya ada kemudahan:
a. Pada ayat disebutkan إِنَّ yang artinya; ‘sesungguhnya’. Hal ini memberikan penekanan makna pada ayat-ayat setelahnya.
b. Adanya pengulangan kata.
c. Dalam ayat disebutkan kesulitan hanya satu kali, sementara kemudahan dua kali. Sehingga tidak mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan.
d. Allah menggunakan kata مع yang artinya; ‘bersama’ bukan setelah. Ini menunjukkan, bahwa kesulitan itu pasti disertai dengan kemudahan.
3. Kesedihan adalah cermin keimanan
Ketika seseorang bersedih, maka terlihat keimanan pada dirinya; apakah dia termasuk orang-orang yang keimanannya baik, atau justru sebaliknya. Dan keimanan itu biasanya nampak pada amalan. Oleh karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
﴿ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ.. ﴾
“Dialah (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang amalannya paling baik.”[4]
Perhatikan ayat di atas, Allah mengatakan, ‘yang paling baik amalannya,’ bukan yang paling banyak.
Dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman,
﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴾
“Apakah manusia mengira, bahwa mereka dibiarkan berkata, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka belum diuji?”[5]
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ujian yang sampai membuat kita mengalami kesedihan, adalah cara Allah mengukur seberapa dalam iman kita. Bukan untuk menyiksa, tapi untuk menaikkan derajat.
4. Kesedihan menggugurkan dosa
Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, atau sakit, atau kegelisahan, atau kesedihan, atau gangguan, atau kesusahan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dengan itu sebagian dari dosa-dosanya.”[6]
Jadi, rasa sakit yang sedang kita alami, atau kesedihan, dan segala hal yang tidak mengenakan hati, itu semua sebagai penggugur dosa-dosa kita.
5. Allah bersama orang yang bersabar
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”[7]
Dari Ummu Salamah[8] pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُولُ؛ إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللّٰهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ في مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا.
“Setiap hamba yang terkena musibah, kemudian ia mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, ya Allah berikanlah pahala atas musibah yang menimpaku, dan berikanlah ganti yang jauh lebih baik dari sebelumnya,’ niscaya Allah akan memberikan pahala baginya atas musibah yang menimpa dirinya, dan Allah akan mengganti (sesuatu yang hilang darinya) dengan sesuatu yang jauh lebih baik.”
Terbukti. Apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada Ummu Salamah langsung ia praktekkan. Ketika suaminya meninggal dunia, Ummu Salamah merasa bahwa tidak ada sosok pria yang jauh lebih baik daripada suaminya yang sebelumnya, hingga pada akhirnya Allah memberikan taufik kepadanya, kemudian dia berdoa dengan doa tersebut, dan Allah pun hadirkan sosok lelaki yang jauh lebih baik dari suaminya yang pertama, yaitu Muhammad bin Abdillah shallallahu’alaihi wa sallam.
Penutup
Kesedihan adalah bagian dari hidup. Namun jangan lupa, bahwa di setiap air mata yang jatuh, ada doa yang naik ke langit. Bersedihlah secukupnya, lalu bangkitlah dengan keyakinan, “Selama Allah masih membersamaiku, niscaya aku tidak akan pernah kehilangan arah.”
Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H
[1] QS. Al-Baqarah: 155-157.
[2] QS. Al-Baqarah: 286.
[3] QS. Al-Insyirah: 5-6.
[4] QS. Al-Mulk: 2.
[5] QS. Al-‘Ankabut: 2.
[6] HR. Al-Bukhari, no. 5643.
[7] QS. Al-Baqarah: 153.
[8] Nama asli beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah.



