JAKARTA – Hati mulai keras sering kali tidak disadari oleh seorang muslim. Ia masih shalat, masih membaca Al-Qur’an, bahkan masih hadir di majelis ilmu, tetapi nasihat tak lagi menyentuh, dosa terasa biasa, dan kebaikan orang lain mudah diremehkan. Inilah kondisi berbahaya yang oleh para ulama disebut sebagai qaswatul qalb, kerasnya hati yang menjadi penghalang terbesar antara hamba dan hidayah Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang bahaya hati yang mengeras setelah datangnya peringatan. Allah berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Tsumma qasat quluubukum min ba’di dzālika fahiya kal-hijārah au asyaddu qaswah
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(QS. Al-Baqarah: 74)
Hati Mulai Keras Bukan Tiba-Tiba
Ayat ini menunjukkan bahwa hati mulai keras bukan terjadi tiba-tiba. Ia adalah proses. Diawali dari menunda taubat, membiasakan dosa kecil, dan merasa aman dari murka Allah. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat yang diulang tanpa penyesalan akan meninggalkan titik hitam di hati, hingga hati kehilangan kepekaannya terhadap kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Innal ‘abda idzā adznaba nukitat fī qalbihi nuktatun saudā’
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, maka akan dititikkan satu titik hitam di hatinya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa hati mulai keras bukan karena kurangnya ibadah semata, tetapi karena dosa yang tidak segera dibersihkan dengan taubat dan istighfar. Banyak orang tertipu dengan rutinitas ibadah lahiriah, namun lalai membersihkan penyakit batin.
Para ulama salaf menyebutkan tanda-tanda hati yang mulai mengeras, di antaranya sulit menangis karena takut kepada Allah, ringan melakukan ghibah dan meremehkan dosa, serta merasa lebih suci dari orang lain. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah hati menjadi keras kecuali karena banyaknya dosa.”
Obat dari kerasnya hati telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
Alam ya’ni lilladzīna āmanū an takhsya’a quluubuhum lidzikrillāh
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini menunjukkan bahwa dzikir, tadabbur Al-Qur’an, dan mengingat kematian adalah cara utama melembutkan hati yang mulai keras. Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini adalah teguran penuh kasih agar kaum beriman tidak larut dalam kelalaian dunia.
Kesimpulannya, hati mulai keras adalah penyakit berbahaya yang sering datang tanpa disadari. Ia tidak selalu menghilangkan ibadah lahiriah, tetapi mematikan ruh ibadah. Jalan keselamatan adalah dengan memperbanyak taubat, menjauhi dosa kecil yang diremehkan, memperdalam tadabbur Al-Qur’an, dan selalu merendahkan diri di hadapan Allah. Wallahu a’lam.
Referensi:
– Al-Qur’an Al-Karim
– Tafsir Ibn Katsir
– Al-Jawab Al-Kafi, Ibnul Qayyim
– HR. Tirmidzi no. 3334

