JAKARTA – Kiat-kiat meraih ketakwaan menjadi perkara penting dalam hidup seorang Muslim, karena definisi takwa sendiri adalah perkara agung dalam agama. Secara bahasa, takwa adalah al-wiqaayah (penjagaan, pencegahan, atau perlindungan). Adapun secara istilah yaitu; menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Ada ulama yang memberikan definisi takwa yang sempurna, yaitu:
بِأَنْ يَلْتَزِمَ الْمُسْلِمُ أَوَامِرَ اللهِ تَعَالَى وَيَجْتَنِبَ مَا نَهَى عَنْهُ، فَيَقُومَ بِالْوَاجِبَاتِ، وَالْمَنْدُوبَاتِ، وَيَتْرُكَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَالْمَكْرُوهَاتِ، فَيَجْعَلَ الْمُسْلِمُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى وَاقِيًا يَقِيهِ مِنْ عَذَابِهِ وَغَضَبِهِ، وَأَنْ يُقِيَ نَفْسَهُ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْمَعَاصِي، وَشُبُهَاتِ الدُّنْيَا، وَقَدْ قِيلَ فِي التَّقْوَى: إِنَّهَا ابْتِغَاءُ الْمُسْلِمِ فِي عَمَلِهِ الصَّالِحِ رِضَى اللهِ تَعَالَى وَحْدَهُ.
“Takwa yang sempurna, adalah komitmennya seorang Muslim untuk menaati segala perintah Allah ﷻ dan menjauhi semua larangan-Nya. Ia menunaikan kewajiban-kewajiban dan amalan-amalan yang dianjurkan, serta meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan (dibenci). Oleh karena itu, seorang Muslim menjadikan antara dirinya dan apa yang Allah haramkan sebagai penghalang (pelindung) yang melindunginya dari azab dan murka-Nya. Ia juga menjaga dirinya dari terjerumus ke dalam maksiat dan syubhat dunia. Telah dikatakan pula bahwa takwa adalah upaya seorang Muslim dalam amal shalihnya untuk mencari keridhaan Allah ﷻ semata.”
Mengapa kita harus bertakwa dan Meraih Ketakwaan?
Apabila ada yang bertanya, mengapa kita harus bertakwa dan meraih ketakwaan? Maka, jawabannya adalah, karena takwa merupakan wasiat dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Di antara dalilnya ialah sebagai berikut:
﴿ وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا ﴾
“Milik Allah-lah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kalian, dan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah. Apabila kalian ingkar (kafir), ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang ada di langit dan bumi semuanya milik Allah. Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”[1]
Dalil lainnya, ialah bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memberikan wasiat kepada Abu Dzar al-Ghifary, Abu Sa’id al-Khudry, dan kepada seorang musafir.
Wasiat beliau kepada Abu Dzar berbunyi:
أُوْصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ فِي سِرِّ أَمْرِكَ وَعَلَانِيَّتِهِ…
“Aku wasiatkan kepadamu (wahai Abu Dzar) agar bertakwa kepada Allah dalam segala urusan, baik itu yang sifatnya rahasia maupun terang-terangan.”[2]
Wasiat beliau kepada Abu Sa’id al-Khudry berbunyi:
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهُ رَأْسُ كُلِّ شَيءٍ…
“Aku wasiatkan kepadamu (wahai Abu Sa’id) agar bertakwa kepada Allah, sesungguhnya ketakwaan itu pokok (inti) dari segala urusan.”[3]
Wasiat beliau kepada seorang musafir berbunyi:
أُوْصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالتَّكْبِيرِ عَلى كُلِّ شَرَفٍ.
“Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah dan bertakbir setiap kali melalui jalan yang meninggi.”[4]
Beberapa kiat meraih ketakwaan
Setelah kita mengetahui apa itu takwa dan pentingnya untuk bertakwa, maka tugas selanjutnya ialah kita harus bisa meraih ketakwaan tersebut. Bagaimanakah caranya? Insya Allah akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Sekurang-kurangnya ada lima (5) kiat meraih ketakwaan, yaitu:
1. Mempelajari ilmu agama
Kita kembali pada definisi tadi, bahwa ringkasnya, takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kita bisa menerapkannya? Tentu, jawabannya ialah dengan belajar ilmu agama. Bagaimana mungkin orang yang tidak belajar lalu bisa mengetahui ini halal dan ini haram, ini tauhid dan ini syirik, ini sunnah dan ini bidah. Tidak mungkin bisa. Semua itu diketahui dengan belajar.
Inilah langkah pertama meraih ketakwaan, yaitu mempelajari ilmu agama, di mana ia merupakan sebab terbesar seseorang bisa meraih ketakwaan. Jangan sampai kita pandai dalam masalah dunia, namun bodoh dalam masalah akhirat. Sungguh, hal ini sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Selain sebab terbesar meraih ketakwaan, menuntut ilmu merupakan aktivitas wajib yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلى كُلِّ مُسلمٍ.
“Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib bagi setiap muslim.”
2. Berteman dengan orang-orang yang bertakwa
Kiat yang berikutnya agar kita bisa meraih ketakwaan, ialah berteman dengan orang-orang yang saleh dan bertakwa. Mengapa kita harus berteman dengan mereka? Jawabannya ialah, karena yang namanya teman itu bisa mempengaruhi kepribadian seseorang, oleh karenanya, kita harus berteman dengan orang yang bisa membawa kita pada kebaikan, bukan pada keburukan.
Saking pentingnya pertemanan ini, sampai-sampai Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpesan:
لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ!
“Sebisa mungkin bertemanlah engkau dengan orang yang beriman, dan sebisa mungkin orang yang memakan makananmu adalah orang yang bertakwa!”[5]
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah memberikan sebuah permisalan mengenai pertemanan. Beliau bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk, itu seperti halnya (engkau berteman) dengan seorang penjual minyak wangi dan pemandai besi. Ketika engkau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kau akan mendapatkan wanginya, baik itu dengan cara membeli maupun tidak. Berbeda halnya dengan pemandai besi, dirimu atau pakaian yang kau kenakan akan terkena cipratan bara api dari pukulan besinya, atau paling tidak tubuhmu akan memiliki bau yang tidak enak.”[6]
3. Merasa diawasi oleh Allah
Ketika seorang hamba menghadirkan muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah) dalam kehidupannya, maka dia akan berhati-hati dalam bertindak dan berucap. Dia tidak akan bermudah-mudahan untuk melihat sesuatu yang haram di media sosialnya, karena dia paham betul, bahwa Allah Melihatnya. Dia tidak akan bermudah-mudahan untuk mengatakan sesuatu yang diharamkan, berupa; perkataan kotor, ajaran yang menyimpang atau kata-kata yang kasar, karena dia paham, bahwa Allah Mendengar ucapannya. Dia tidak akan bermudah-mudahan untuk bermain fisik pada keluarganya, karena dia paham bahwa Allah mengawasinya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Mengetahui apa saja yang ada pada diri kalian, maka dari itu berhati-hatilah!”[7]
Allah ta’ala juga berfirman:
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا
“Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”[8]
Adanya muraqabatullah inilah seorang hamba bisa meraih ketakwaan. Pribadinya akan jauh lebih baik daripada sebelumnya; dari segi akhlak, adab maupun ibadahnya. Ketika seorang hamba selalu merasa diawasi oleh Allah, maka – atas taufik dari Allah ta’ala – dia akan mudah untuk menjauhi perbuatan dosa. Ketika dia menjauhi perbuatan dosa, di saat itulah keimanannya naik, dan ketika keimanannya naik, maka dia akan mudah untuk bertakwa.
4. Mentadabburi Al-Qur’an
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ القُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴾
“Mengapa mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci rapat?”[9]
5. Berdoa
Di antara doa yang sudah seharusnya kita baca, ialah doa yang pernah diajarkan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, semisal:
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
“Ya Allah, aku meminta kepadamu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.”[10]
Doa lainnya seperti:
اللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَولَاهَا.
“Ya Allah karuniakanlah pada hatiku ketakwaan, dan sucikanlah ia. Sungguh, Engkau adalah Dzat paling baik yang mampu untuk menyucikannya. Engkaulah penolong dan penguasanya.”[11]
Inilah beberapa kiat agar kita bisa meraih ketakwaan yang sebenar-benarnya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam bish showwab.[12]
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H
Referensi:
[1] QS. An-Nisa’: 131
[2] HR. Ahmad, no. 20592. Dinilai hasan lighairihi oleh Syekh al-Albani, Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib, no. 810
[3] HR. Ahmad, no. 11349. Dinilai hasan oleh Syekh al-Albani, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 555
[4] HR. Ahmad, no. 9347. Dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 1730
[5] HR. Abu Dawud, no. 4832, at-Tirmidzi, no. 2395. Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu. Dinilai hasan oleh Syekh al-Albani
[6] HR. Al-Bukhari, no. 2101. Dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu
[7] QS. Al-Baqarah: 235
[8] QS. Al-Ahzab: 52
[9] QS. Muhammad: 24
[10] HR. Muslim, no. 2721
[11] HR. Muslim, no. 2722
[12] Ditulis oleh Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H., Senin, 1 Dzulhijjah 1446 H / 28 Mei 2025 M [kajian tematik di Musala Al-Is’aad, Kedungmenjangan, Purbalingga, Jawa Tengah]


