MENGAPA IMAN NAIK TURUN? INI PENJELASANNYA

MEREDAM GEJOLAK HAWA NAFSU DENGAN SABAR MENGAPA IMAN NAIK TURUN? INI PENJELASANNYA

JAKARTA – Iman naik turun adalah kenyataan yang dialami oleh setiap Muslim. Hari ini hati terasa ringan untuk beribadah, lisan basah dengan dzikir, dan amal terasa nikmat. Namun di waktu lain, semangat melemah, ibadah terasa berat, dan hati mudah lalai. Fenomena iman naik turun ini bukan tanda seseorang tidak beriman, justru menjadi bukti bahwa iman memang memiliki sifat bertambah dan berkurang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ﴾

“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka.” (QS. Al-Fath: 4)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa iman bisa bertambah. Jika iman bisa bertambah, maka konsekuensinya iman juga bisa berkurang. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disepakati oleh para ulama salaf.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata,
“Para ulama sepakat bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan, dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.”
(Shahih Al-Bukhari, Kitabul Iman)

Iman naik turun sangat berkaitan dengan amal perbuatan. Ketika seorang hamba memperbanyak ketaatan, iman akan menguat. Sebaliknya, ketika ia terjerumus dalam maksiat atau lalai dari dzikir, iman akan melemah. Inilah yang dirasakan oleh para sahabat Nabi ﷺ.

Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ,
“Hanzhalah telah munafik.”
Beliau ﷺ bertanya, “Mengapa demikian?”
Hanzhalah menjawab, “Jika kami bersama engkau, kami diingatkan tentang surga dan neraka hingga seakan-akan kami melihatnya. Namun ketika kami pulang dan sibuk dengan keluarga serta dunia, kami banyak lupa.”
(HR. Muslim no. 2750)

Hadis ini menunjukkan bahwa iman naik turun adalah fitrah manusia, bahkan dialami oleh para sahabat. Namun yang berbahaya bukanlah turunnya iman, melainkan ridha terhadap turunnya iman tanpa usaha memperbaikinya.

Sebab-Sebab Iman Naik Turun

Para ulama salaf menjelaskan bahwa iman naik turun dipengaruhi oleh beberapa sebab, di antaranya dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, bergaul dengan orang saleh, serta menjauhi maksiat. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman itu bukan angan-angan, tetapi sesuatu yang menetap di hati dan dibenarkan dengan amal.”

Karena itu, ketika iman turun, solusi bukanlah putus asa, melainkan kembali mengisi hati dengan ilmu, dzikir, dan amal saleh. Iman yang dijaga akan kembali naik, dengan izin Allah.

Kesimpulan:

Iman naik turun adalah sunnatullah dalam diri manusia. Yang dituntut dari seorang Muslim bukanlah selalu berada di puncak iman, tetapi terus berjuang menjaga dan memperbaikinya agar tidak jatuh dalam kelalaian yang berkepanjangan.

Referensi:
– Al-Qur’an Al-Karim
– Shahih Al-Bukhari, Kitabul Iman
– Shahih Muslim no. 2750
– Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah, Al-Lalikai

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id