JAKARTA – Niat puasa Ramadhan merupakan fondasi utama sah atau tidaknya ibadah puasa yang kita jalankan. Sebab dalam Islam, setiap amal bergantung pada niat, dan niatlah yang membedakan antara ibadah dan sekadar rutinitas menahan lapar serta dahaga. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap pembahasan niat, khususnya pada puasa Ramadhan yang hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memenuhi syarat.
Pendahuluan
Puasa dalam Islam bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi merupakan ibadah yang diharuskan adanya niat. Niat membedakan antara ibadah dan kebiasaan, serta membedakan antara satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap pembahasan niat puasa, khususnya puasa Ramadhan yang bersifat wajib.
Syarat-Syarat Niat Puasa Ramadhan
Apabila seseorang berniat melaksanakan puasa Ramadhan, maka harus terpenuhi tiga syarat berikut:
1. Tabyīt an-Niyyah (Berniat di Malam Hari)
Yang dimaksud dengan tabyīt adalah adanya niat puasa pada malam hari, yaitu sejak terbenam matahari sampai sebelum terbit fajar. Jika seseorang baru berniat setelah terbit fajar, maka niatnya tidak sah dan puasanya batal.
Dalil Hadis
قال رسول الله ﷺ:
«مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ»
(رواه الدارقطني 2/172، والبيهقي 4/202، وقال الدارقطني: رواته ثقات)
Artinya:
“Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya (tidak sah puasanya).”
Hadis ini menjadi dasar bahwa niat puasa Ramadhan harus dilakukan sebelum terbit fajar.
2. Ta‘yīn an-Niyyah (Menentukan Jenis Puasa)
Seseorang harus menentukan dalam hatinya bahwa ia berniat puasa Ramadhan. Tidak cukup hanya berniat “puasa” secara umum tanpa menentukan bahwa itu adalah puasa wajib Ramadhan.
Hal ini didasarkan pada kaidah bahwa setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.
Dalil Hadis
قال رسول الله ﷺ:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
(متفق عليه)
Artinya:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Makna hadis ini menunjukkan bahwa amal seseorang diarahkan sesuai jenis ibadah yang ia niatkan. Jika ia tidak menentukan puasa Ramadhan, maka puasanya tidak sah sebagai puasa Ramadhan.
3. Takrār an-Niyyah (Mengulang Niat Setiap Malam)
Niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap malam untuk puasa esok harinya. Tidak cukup satu niat untuk satu bulan penuh.
Hal ini karena puasa Ramadhan bukan satu ibadah tunggal, melainkan rangkaian ibadah yang berulang setiap hari. Setiap ibadah memerlukan niat tersendiri.
Perbedaan dengan Niat Puasa Sunnah
Berbeda dengan puasa Ramadhan, puasa sunnah memiliki keringanan dalam masalah niat:
- Tidak disyaratkan berniat pada malam hari (tabyīt).
- Tidak disyaratkan menentukan jenis puasa secara rinci (ta‘yīn).
- Boleh berniat pada siang hari sebelum waktu zawal (tergelincir matahari), selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Dalil Puasa Sunnah
Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها:
أن النبي ﷺ قال لها يوماً:
«هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ؟»
قالت: لا.
قال: «فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ»
(رواه الدارقطني)
Artinya:
“Nabi ﷺ bertanya kepadaku suatu hari: ‘Apakah kalian memiliki makanan siang?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Maka beliau bersabda: ‘Kalau begitu, aku berpuasa.’”
Hadis ini menunjukkan bahwa niat puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari selama belum makan atau minum.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:
1. Niat puasa Ramadhan memiliki tiga syarat utama:
- Berniat di malam hari sebelum fajar (tabyīt),
- Menentukan jenis puasa (ta‘yīn),
- Mengulang niat setiap malam (takrār).
2. Puasa sunnah lebih ringan ketentuannya:
- Boleh berniat pada siang hari,
- Tidak wajib menentukan jenis puasa sejak malam,
- Cukup dengan niat umum untuk berpuasa.
Perbedaan ini menunjukkan keluwesan syariat Islam dalam mengatur ibadah sesuai tingkat kewajibannya, serta menegaskan pentingnya niat sebagai fondasi sahnya amal.
Wallahu A’lam
Abu Utsman Surya Huda Aprila
(Disarikan dari kitab Al-Fiqh Al- Manhaji 2/82-83)



