JAKARTA – Tanda Riya’ adalah salah satu penyakit hati yang paling halus dan berbahaya, karena bisa merusak amal sekalipun terlihat baik secara lahiriah. Orang yang melakukan ibadah karena ingin dilihat atau dipuji manusia, bukan semata-mata karena Allah, termasuk golongan yang amalnya terancam tidak diterima. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
(“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan ikhlas, menegakkan salat, dan menunaikan zakat; itulah agama yang lurus.” – QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menekankan bahwa tujuan ibadah adalah keikhlasan untuk Allah semata. Ketika ada niat selain itu, seperti ingin dipuji, mendapatkan perhatian, atau membanggakan diri, maka ibadah tersebut mulai tercampur dengan tanda riya’. Dalam kehidupan sehari-hari, riya’ bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang rajin membaca Al-Qur’an tetapi hanya saat berada di depan orang lain, atau menunaikan sedekah hanya ketika ada yang menyaksikan dan memuji. Hal-hal kecil ini sering tidak disadari, padahal Allah melihat segala niat yang tersembunyi di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ أَصْلَ الْعَمَلِ النِّيَّةُ وَإِنَّمَا يُعْطِي كُلُّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
(“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” – HR. Bukhari & Muslim)
Tanda Riya’ Dikenali dari Hati
Tanda riya’ juga bisa dikenali dari perasaan hati saat beribadah. Bila seseorang merasa senang karena diperhatikan orang lain, atau cemas jika amalnya tidak dilihat, ini menjadi indikator bahwa hatinya terkontaminasi riya’. Contoh lain adalah menahan diri dari ibadah di rumah karena merasa sepi, tetapi meningkat drastis ketika ada orang lain, atau melakukan kebaikan sambil membanggakan diri di media sosial. Semua itu menunjukkan bahwa niat belum murni untuk Allah.
Dalam sejarah para salaf, mereka sangat menjaga keikhlasan dan waspada terhadap riya’. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sesungguhnya aku takut bahwa amalanku yang paling aku sukai adalah yang dicampuri riya’.” Ini menunjukkan bahwa tanda riya’ kadang muncul pada amal yang kita anggap paling tulus. Oleh karena itu, muhasabah atau introspeksi hati menjadi penting.
Mengobati riya’ harus dilakukan dengan meneguhkan niat dan memperbanyak amal yang hanya diketahui Allah. Misalnya, sedekah diam-diam, salat di rumah tanpa diketahui orang lain, atau menahan diri dari berbicara tentang kebaikan yang telah dilakukan. Allah berfirman:
﴿وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِلَّهِ وَيُحْسِنُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ﴾
(“Dan apa saja kebaikan yang kamu nafkahkan adalah untuk Allah, dan Dia akan memperbaikinya; dan Dialah sebaik-baik Pemberi rezeki.” – QS. Saba’: 39)
Dengan memurnikan niat, hati menjadi tenang, amal diterima, dan pahala meningkat. Hamba yang terhindar dari riya’ akan dicintai Allah, karena keikhlasan adalah inti dari segala amal shaleh.
Kesimpulan: Tanda Riya’ adalah penyakit hati yang menodai ibadah. Tanda-tandanya bisa terlihat dari perhatian terhadap pujian manusia, meningkatnya ibadah saat ada yang melihat, atau bangga pada amal sendiri. Pencegahannya adalah dengan meneguhkan niat hanya untuk Allah, melakukan amal diam-diam, dan selalu introspeksi diri. Dengan begitu, ibadah menjadi murni, hati tenang, dan pahala Allah pun sempurna.
Referensi:
Al-Qur’an, QS. Al-Bayyinah: 5; Saba’: 39
HR. Bukhari & Muslim, Kitab Al-Iman
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi


