JAKARTA – Sembari berjalannya waktu, keimanan seseorang bisa memudar, sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Dalam sebuah hadis disebutkan, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إنَّ الإيمانَ لَيَخْلَقُ في جَوْفِ أحدِكُمْ كَما يَخلَقُ الثّوبُ ، فاسْألُوا اللهَ تعالَى: أنْ يُجَدِّدَ الإيمانَ في قُلوبِكمْ
“Sesungguhnya keimanan salah seorang di antara kalian itu bisa usang sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka, mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui keimanan di dalam hati kalian.”[1]
Dari hadis yang ibaratkan iman seperti sebuah pakaian bisa kita ambil beberapa faedah, di antaranya ialah:
1. Iman itu bisa naik dan turun
Rasulullah ﷺ dalam hadis ini menggambarkan iman dengan sebuah pakaian — sesuatu yang awalnya baru, bersih, dan indah, namun lama-kelamaan bisa lusuh, kotor, dan robek karena pemakaian. Demikian pula iman dalam hati manusia: pada awalnya mungkin kuat, segar, dan menyala, namun bisa melemah karena kelalaian, maksiat, kesibukan dunia, atau jauh dari zikir dan majelis ilmu.
Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita, bahwa iman bukan sesuatu yang statis, tetapi bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan amal dan kondisi hati.
Dalil lainnya yang menunjukkan hal tersebut, ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi,
﴿ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُه زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.”[2]
2. Pentingnya memperbanyak doa kepada Allah
Yaitu doa agar diistikamahkan dalam ketaatan dan keimanan. Di antaranya ialah doa yang paling sering diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: yaa muqallibal quluub, tsabbits qalbii ‘alaa diinika.
Suatu hari, Syahr bin Hausyab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ.
“Wahai Ummul Mukminin (Ummu Salamah), doa apakah yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berada di sisimu? Ia menjawab, ‘Doa yang paling sering beliau baca adalah, ‘Yā Muqallibal Qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik’ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Aku (Ummu Salamah) pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering sekali berdoa dengan kalimat itu?’
Beliau menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, tidaklah ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah, maka Dia akan meneguhkannya; dan siapa yang Allah kehendaki (untuk tergelincir), maka Dia akan memalingkannya.’
Mendengar hadis ini, Mu‘ādz radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan kepada kami petunjuk.’ — QS. Āli ‘Imrān [3]: 8”[3]
3. Jangan pernah merasa aman dari lemahnya iman
Mengapa bisa demikian? Jawabannya ialah, karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal tersebut, bahwa iman itu bisa usang, sebagaimana usangnya sebuah pakaian. Berarti hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa perlunya kita untuk berhati-hati dari lemahnya keimanan.
Di antara bentuk kehati-hatian diri kita dari lemahnya iman, ialah dengan cara kita mengetahui gejala-gejalanya. Dalam kitab Zhaahiratu Dha’fil Iimaan, karya asy-Syekh Muhammad Saleh al-Munajjid hafizhahullah disebutkan sekitar ada 20-an gejala, di antaranya:
a. Mulai suka dengan hal-hal yang berbau kemaksiatan.
b. Hati keras dan kasar.[4]
c. Beribadah mulai tidak sempurna.[5]
d. Hatinya sulit tersentuh ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
e. Pelit.
f. Merasa senang dengan kegagalan saudaranya.
g. Kurangnya sifat wara’ (kehati-hatian).
h. Retaknya hubungan persaudaraan sesama muslim.
i. Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap Islam.[6]
j. Banyak berdebat pada hal-hal yang kurang bermanfaat.
Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Ditulis Oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H
[1] HR. Ath-Thabrani, no. 14/70, al-Hakim, no. 5, dan dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’, no. 1590.
[2] QS. Al-Anfal: 2.
[3] HR. At-Tirmidzi, no. 3522 dan dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani.
[4] Contoh: Sulit untuk menerima nasihat, atau hatinya tidak tersentuh ketika ada musibah, semisal adanya kematian. Padahal dia yang mengangkat jenazah tersebut, namun hatinya tetap keras. Di kuburan tertawa sampai terbahak-bahak, dan yang semisalnya.
[5] Contoh: Sering telat berangkat/menunaikan salat wajib.
[6] Contoh: Malas untuk menyebarkan syiar Islam atau mendakwahkan agama ini.


