JAKARTA – Menggunakan media sosial di era modern ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi seorang Muslim, aktivitas di dunia maya tidak boleh lepas dari adab dan etika Islam. Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika digunakan dengan benar, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa jika disalahgunakan. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami bagaimana etika menggunakan media sosial sesuai tuntunan syariat.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap tulisan, komentar, atau unggahan di media sosial akan dicatat dan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Menggunakan Media Sosial untuk Kebaikan
Seorang Muslim seharusnya menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah, berbagi ilmu, dan menyebarkan kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim no. 1893)
Posting sesuatu yang bermanfaat, mengingatkan kebaikan, atau membagikan ayat dan hadis adalah amal yang akan terus mengalir pahalanya.
Media sosial sering menjadi tempat munculnya makian, fitnah, dan ghibah. Padahal, Islam sangat melarang hal-hal tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)
Menulis komentar buruk dalam menggunakan media sosial sama saja seperti mengucapkannya langsung; keduanya akan dicatat oleh malaikat.
Menyebarkan informasi tanpa verifikasi adalah kebiasaan yang dilarang dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, yang akhirnya kalian menyesal atas perbuatan itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Sebelum membagikan sesuatu, pastikan kebenarannya agar tidak menyesal karena menjadi penyebar keburukan.
Bijak menggunakan media sosial juga jadi poin utama. Media sosial sering menjadi tempat terbukanya aurat dan interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan. Seorang Muslim wajib menjaga diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa. Allah Ta’ala berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)
Jagalah pandangan saat berselancar di media sosial, karena dosa bisa datang hanya dari satu klik.
Terlalu lama bermain media sosial bisa membuat lalai dari ibadah. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)
Gunakan waktu di dunia maya untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.
Kesimpulan
Menggunakan media sosial adalah bagian dari kehidupan modern yang tidak bisa dihindari. Namun, seorang Muslim wajib menjaga adab dan etika dalam menggunakannya:
- Gunakan untuk kebaikan dan dakwah.
- Jaga lisan dan tulisan dari keburukan.
- Hindari hoaks, fitnah, dan perdebatan sia-sia.
- Jaga pandangan serta waktu agar tidak lalai dari ibadah.
- Media sosial bisa menjadi ladang pahala atau dosa, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Referensi:
- QS. Qaf: 18
- QS. Al-Hujurat: 6
- QS. An-Nur: 30
- HR. Muslim no. 1893
- HR. Bukhari no. 6018, 6412
- Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
- Syarh Shahih Muslim – Ibnu Utsaimin


