BAHAYA SHALAT TARAWIH TERLALU CEPAT

Shalat BAHAYA SHALAT TARAWIH TERLALU CEPAT

JAKARTA – Shalat tarawih terlalu cepat menjadi fenomena yang kerap terjadi setiap bulan Ramadhan. Demi mengejar target rakaat atau ingin segera selesai, sebagian orang melaksanakan tarawih dengan gerakan yang tergesa-gesa hingga nyaris menghilangkan thuma’ninah. Padahal shalat bukan sekadar rangkaian gerakan fisik, melainkan munajat seorang hamba di hadapan Rabb-nya dengan penuh kekhusyu’an dan ketenangan.

Pendahuluan

Shalat merupakan ibadah yang paling agung setelah syahadat. Ia adalah waktu yang sangat singkat namun sangat berharga bagi seorang Muslim, karena saat itulah seorang hamba berdiri menghadap Rabbnya, bermunajat kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Seorang Muslim yang melaksanakan shalat hendaknya meninggalkan seluruh kesibukan duniawi dan menghadapkan hati serta jasadnya hanya kepada Allah ﷻ dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah. Jika shalat dilakukan dengan benar, memenuhi syarat dan rukunnya, maka shalat akan melahirkan dampak spiritual yang besar dalam kehidupan.
Allah ﷻ berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)

Penjelasan Ulama tentang Fungsi Shalat

Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat ini:

أن العبد المقيم لها، المتمم لأركانها وشروطها وخشوعها، يستنير قلبه، ويتطهر فؤاده، ويزداد إيمانه، وتقوى رغبته في الخير، وتقل أو تعدم رغبته في الشر، فبالضرورة، مداومتها والمحافظة عليها على هذا الوجه، تنهى عن الفحشاء والمنكر

“Sesungguhnya seorang hamba yang menegakkan shalat dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, serta kekhusyu’annya, maka hatinya akan bercahaya, jiwanya akan menjadi bersih, imannya akan bertambah, keinginannya terhadap kebaikan akan semakin kuat, dan keinginannya terhadap keburukan akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Maka dengan pasti, kontinuitas dalam melaksanakan shalat dan menjaganya dengan cara seperti ini akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 632, Mu’assasah ar-Risālah, 1423 H)

Tujuan terbesar shalat adalah dzikrullah dengan lisan, hati, dan anggota badan.

Bahaya Tidak Menyempurnakan Ruku’ dan Sujud

Rasulullah ﷺ menganggap orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya sebagai pencuri terburuk.

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ؟
قَالَ: لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.”
Para sahabat bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?”
Beliau menjawab: “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”
(HR. Ahmad 5/310; Shahih al-Jāmi’ no. 997)

Definisi Thuma’ninah

Thuma’ninah adalah diam sejenak hingga seluruh anggota badan kembali pada posisi stabil dalam setiap gerakan shalat.
Sayyid Sabiq رحمه الله berkata:

أقلُّ الطمأنينة أن يستقرَّ كلُّ عضوٍ في موضعه قدر تسبيحة

“Batas minimal thuma’ninah adalah sampai setiap anggota badan stabil pada tempatnya selama waktu membaca satu tasbih.”
(Fiqhus Sunnah, 1/124)

Kriteria Thuma’ninah dalam Ruku’

Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan bahwa thuma’ninah ruku’ tidak sah kecuali dengan:

  • Meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut
  • Merenggangkan jari-jemari
  • Meluruskan punggung
  • Diam sejenak hingga seluruh anggota badan stabil

(al-Qaul al-Mubīn fī Akhthā’ al-Mushallīn, hlm. 124)

Shalat Tanpa Thuma’ninah Tidak Sah

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

“Tidak sah shalat seseorang hingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Abu Dawud 1/533; Shahih al-Jāmi’ no. 7224)

Dan di dalam hadis lain rasulullah menyuruh seorang lelaki untuk mengulangi sholatnya karna tidak tuma’ninah.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ، فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلاَمَ، فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»، فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ، فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فَعَلِّمْنِي، قَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا»

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid lalu seorang masuk juga dan shalat, kemudian datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salamnya dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah lalu lakukanlah shalat karena kamu belum shalat!” Orang itu shalat kemudian mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Kembalilah lalu lakukanlah shalat karena kamu belum shalat!” Ini dilakukan sebanyak tiga kali. Lalu orang itu berkata, “Demi Allâh yang mengutusmu membawa kebenaran! Saya tidak bisa shalat lebih baik dari itu, maka ajarilah aku!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu ingin shalat maka bertakbirlah kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Qur`an kemudian ruku’lah sampai kamu thuma’nînah (tenang) dalam kedaan ruku’ kemudian sujudlah sampai kamu thuma’ninah dalam keadaan sujud. Lalu bangkitlah dari sujud sampai kamu thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian sujudlah kembali sampai kamu thuma’ninah dalam keadaan sujud. Kemudian berbuatlah seperti itu dalam shalat kamu seluruhnya (HR Bukhari 6251 dan Muslim 397)

Bahkan ada ancaman bagi mereka yang shalatnya terlalu cepat, sebagaimana hadis Abu Abdillah al-‘Asy’ari Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصْحَابِهِ، ثُمَّ جَلَسَ فِي طَائِفَةٍ مِنْهُمْ، فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَقَامَ يُصَلِّي، فَجَعَلَ يَرْكَعُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ، إِنَّمَا مَثَلُ الَّذِي يَرْكَعُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ كَالْجَائِعِ لَا يَأْكُلُ إِلَّا التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ، فَمَاذَا تُغْنِيَانِ عَنْهُ، فَأَسْبِغُوا الْوُضُوءَ، وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ، أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Abu Abdillah al Asy’ari Radhiyallahu anhu berkata, “(suatu ketika) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para Sahabatnya, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk. Melihat itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda,“Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih-nya 1/332; Shifat Shalatin Nabi, hlm. 131)

Pandangan Ulama Syafi’iyyah tentang Shalat Terlalu Cepat (Tarawih)

Ulama Syafi’iyyah menegaskan bahwa shalat yang terlalu cepat hingga menghilangkan thuma’ninah adalah bid’ah tercela.

Dalam Bughyah al-Mustarsyidīn sayyid abdurahman bin muhammad al masyhuur berkata:

وأمّا التخفيفُ المُفرِطُ في صلاةِ التراويح فمن البدعِ الفاشية
ومُقتضى عبارة التُّحفة لابن حجر الهيتمي
أنَّ الانفرادَ في هذه الحالة أفضلُ من الجماعة
بل إن علم المأموم أو ظنَّ أن الإمام لا يُتِمُّ بعضَ الأركان
لم يَصِحَّ الاقتداءُ به أصلًا

“Adapun meringankan shalat tarawih secara berlebihan maka termasuk bid’ah yang tersebar. Berdasarkan penjelasan Ibn Hajar al-Haitami, shalat sendirian lebih utama daripada berjamaah dalam kondisi ini. Bahkan jika makmum mengetahui atau menduga imam tidak menyempurnakan rukun shalat, maka tidak sah bermakmum kepadanya.”
(Bughyah al-Mustarsyidīn, 1/472)

Kesimpulan

  1. Thuma’ninah adalah rukun shalat, bukan sunnah.
  2. Shalat tanpa thuma’ninah adalah batal.
  3. Shalat yang terlalu cepat menghalangi khusyu’ dan dzikrullah.
  4. Ulama Syafi’iyyah menilai shalat tarawih super cepat sebagai bid’ah tercela.
  5. Jika imam tidak menyempurnakan rukun, maka tidak sah bermakmum kepadanya.

Wallahu A’lam


Abu Utsman Surya Huda Aprila

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id