JAKARTA – Setiap orang tentu mendambakan rumah idaman yang nyaman dan indah, dengan lingkungan yang baik, fasilitas memadai, serta lokasi strategis. Namun, membangun rumah, baik di dunia maupun di akhirat, membutuhkan proses, usaha, dan kesabaran yang maksimal. Untuk rumah di surga, Allah menjanjikan rumah yang luar biasa indah, dengan bata emas dan perak, semennya minyak kasturi, sungai yang mengalir di bawahnya, perabotan dari emas dan permata, serta keindahan lain yang tiada bandingnya di dunia.
Agar dapat memperoleh rumah idaman di surga, Allah menganjurkan berbagai amalan yang bisa dilakukan sehari-hari, seperti membangun masjid, menunaikan salat sunnah, meninggalkan perdebatan, bersabar atas ujian, membaca doa tertentu, dan memperbanyak bacaan surah al-Ikhlas. Semua ini menunjukkan bahwa rumah di dunia bersifat sementara, sedangkan rumah di akhirat adalah tujuan abadi bagi orang-orang beriman yang bersungguh-sungguh.
Bismillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’d:
Setiap kita pasti menginginkan tempat tinggal yang nyaman. Biasanya barometer kenyamanan bagi kebanyakan orang yaitu; rumahnya enak dilihat, temboknya bagus, kramiknya dari marmer, adem, halamannya luas, ada garasinya, memiliki tetangga yang baik, dekat dengan masjid, tidak terlalu jauh dengan pasar, dan yang lainnya.
Ketika kita menginginkan sebuah tempat tinggal yang sangat kita idamkan, apakah kemudian hal tersebut bisa ujug-ujug langsung jadi? Jawabannya tentu tidak. Kita harus mengumpulkan harta terlebih dahulu, mencari lahan (sukur-sukur yang murah), lingkungan yang baik, bahan-bahan material yang diperlukan, dan lainnya. Semuanya butuh proses dan usaha maksimal.
Saudaraku rahimakumullah…
Jika untuk membangun sebuah tempat tinggal di dunia saja membutuhkan proses dan usaha yang maksimal, apalagi membangun sebuah tempat tinggal di akhirat, tentu jauh lebih membutuhkan proses dan usaha yang lebih maksimal lagi. Mengapa harus demikian? Jawabannya, ialah agar kita bisa mendapatkan rumah atau bahkan istana yang nyaman di surga.
Sifat rumah idaman di surga
Ketika kita berbicara tentang surga, maka satu hal yang harus kita ingat, bahwa apapun yang ada di surga semuanya berbeda dengan apa yang ada di dunia. Meskipun namanya sama, namun hakikatnya berbeda. Seperti halnya rumah. Rumah di surga sangat jauh berbeda dengan rumah di dunia. Jangan disamakan.
Karakteristik rumah Idaman di surga
Sebagaimana pada umumnya, sebuah rumah memiliki karakteristik yang unik. Namun jangan pernah menyamakan rumah di surga dengan di dunia, beda. Keduanya tidaklah sama. Mari kita simak penjelasan dari Al-Qur’an dan hadis yang menggambarkan tentang keindahan rumah di surga.
Kita akan membahas bagian luarnya terlebih dahulu, kemudian dalamnya:
1. Batanya terbuat dari emas dan perak, semennya minyak kasturi, tanahnya dari mutiara dan permata
Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa suatu hari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, bangunan di surga itu terbuat dari apa?”
Beliau pun menjawab:
لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِن ذَهَبٍ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الأَذْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤْ وَاليَاقُوتُ، وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ. مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُم.
“Bata-batanya terbuat dari perak dan emas. Semennya adalah kesturi yang paling harum. Kerikilnya adalah mutiara dan yakut (permata merah). Tanahnya adalah za’faran (saffron). Barang siapa yang memasukinya, maka dia akan hidup dalam kenikmatan, tidak akan pernah menderita, kekal dan tidak akan mati. Pakaian mereka tidak akan usang, dan masa muda mereka tidak akan sirna.”[1]
2. Kamar rumah idaman itu berjumlah banyak dan di bawahnya ada sungai yang mengalir
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِّنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌۙ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ وَعْدَ اللّٰهِۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ الْمِيْعَادَ ٢٠ ﴾
“Orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, maka bagi mereka kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat beberapa kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), dan mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan mengingkari janji.”[2]
3. Dipan di surga bertahtakan emas dan permata
Allah ta’ala berfirman:
﴿ عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ ١٥ ﴾
“Para penghuni surga akan berada di atas dipan yang bertahtahkan emas dan permata.”[3]
Apakah dipannya kosong? Tentu tidak! Mereka berada di kasur yang sangat empuk. Tidak sendirian di kamar. Ada para pelayan anak-anak muda yang selalu membawa kendi dan gelas yang telah terisi air dari sumbernya. Ketika meminum air tersebut, mereka tidak merasa pening dan mabuk karenanya. Para pelayan itu juga menyuguhkan buah-buahan dan daging burung yang diinginkan oleh mereka (para penghuni surga).
Selain itu, ada juga di sisi mereka para bidadari bermata indah lagi cantik jelita, yang tersimpan dengan baik nan terjaga. Para bidadari itu masih perawan dan seumuran. Obrolan di antara mereka tidak ada yang sia-sia. Semua berbobot dan bernilai. Mereka juga dikelilingi oleh pohon bidara yang tidak berduri, pohon pisang yang buahnya tersusun rapi, naungan yang terbentang luas, air yang tercurah, serta buah-buahan yang terus berbuah dan tidak ada larangan untuk memetiknya. Semua ini diperuntukkan bagi golongan kanan.[4]
4. Perabotannya terbuat dari emas
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِّنْ ذَهَبٍ وَّاَكْوَابٍۚ وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الْاَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْاَعْيُنُۚ وَاَنْتُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَۚ ٧١ ﴾
“Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas dan di dalamnya (surga) terdapat apa yang diingini oleh hati dan dipandang sedap oleh mata serta kamu kekal di dalamnya.”[5]
Beberapa amalan agar bisa mendapatkan rumah idaman di surga
Jika kita ingin memiliki rumah idaman di surga, maka lakukanlah amalan-amalan berikut:
1. Membangun masjid
Orang yang ikut serta membangun masjid di dunia, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga. Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا للهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أو أَصْغَرَ، بَنَى اللهُ لَهُ بَيتًا فِي الجَنَّةِ.
“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah meskipun sebesar sangkar burung, atau jauh lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.”[6]
2. Menunaikan salat sunnah rawatib sebanyak dua belas rakaat
Dari Ummu Habibah radhiyallahu’anha, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى اثْنَتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيتٌ فِي الجَنَّةِ.
“Barangsiapa yang menunaikan salat (sunnah) sebanyak dua belas rakaat sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.”
Ummu Habibah kemudian mengatakan:
فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.
“Sungguh, setelah mendengar sabda beliau, aku tidak akan pernah meninggalkan salat sunnah tersebut.” [7]
3. Meninggalkan perdebatan
Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ.
“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga, bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.”[8]
Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu’anhu, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ، وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ…
“Aku menjamin, dan yang namanya menjamin adalah bertanggungjawab. Aku menjamin bagi siapa saja yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berhijrah, maka ia akan mendapatkan rumah yang berada di sekeliling surga dan sebuah rumah di tengah-tengah surga. Aku juga menjamin, bagi siapa saja yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad di jalan Allah, maka dia akan mendapatkan rumah di sekeliling surga, tengah-tengah surga, dan di atas (tingkatan paling tinggi di) surga…”[9]
4. Membaca doa ketika masuk pasar
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فباعَ فيها واشْترى، فقالَ: لا إلَهَ إلّا اللهُ وحدَهُ لا شريكَ له، له المُلكُ، وله الحمدُ، يُحيي ويُميتُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ؛ كُتِبَ له ألفُ ألفُ حسنةٍ، ومُحِيَ عنه ألفُ ألفُ سيِّئةٍ، وبُنِيَ له بيتٌ في الجنَّةِ.
“Barangsiapa yang masuk ke dalam pasar, kemudian dia berjual-beli di dalamnya, lalu membaca doa, ‘Laa ilaaha illaallaah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiit wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir,’ maka akan dituliskan baginya sejuta (1.000.000) kebaikan, dihapuskan darinya sejuta (1.000.000) keburukan, dan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.”[10]
5. Bersabar atas meninggalnya anak
Abu Sinan pernah menceritakan, “Dahulu, ketika aku selesai menguburkan anakku yang bernama Sinan, aku melihat Abu Thalhah al-Khaulani di tepi kuburan. Tatkala aku hendak keluar dari pemakaman, dia memegang tanganku seraya mengatakan:
أَلَا أُبَشِّرُكَ يَا أَبَا سِنَانٍ؟
‘Wahai Abu Sinan, maukah engkau kuberitahu sebuah kabar gembira?’
Aku pun menjawab, ‘Tentu, apa itu?’
Dia mengatakan, ‘Telah menceritakan kepadaku adh-Dhahak bin Abdurrahman bin Arzab, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
“Apabila anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Apakah kalian telah mencabut anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Iya.’ (Allah) berfirman, ‘Kalian telah mencabut buah hatinya.’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah bertanya, ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat Istirja.’ Allah pun berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku satu rumah di surga, dan berilah nama dengan Baitul Hamd.’”[11]
6. Membaca surah al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali dalam sehari
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah menyampaikan:
مَنْ قَرَأَ ﴿ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴾ عَشْرَ مَرَّاتٍ، بَنَى اللهُ لَهُ بَيتًا فِي الجَنَّةِ.
“Barangsiapa yang membaca ‘Qul huwallaahu ahad’ sebanyak sepuluh kali, maka akan Allah bangunkan sebuah rumah di surga.”[12]
Kesimpulan pembahasan
Kajian ini sebagai nasihat bagi yang belum punya uang, atau sudah ada tapi harganya belum cocok, atau yang masih ngontrak pindah ke sana-kemari, bersabarlah sembari berusaha membangun rumah idaman di surga, karena sesungguhnya, apa saja yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Semuanya akan ditinggalkan.
Kajian ini juga sebagai pengingat bagi yang sudah memiliki rumah. Jangan sampai terlalu sibuk merawat rumah di dunia sampai lalai “membangun” rumah di akhirat. Namun bukan berarti pula melalaikan perawatan rumah di dunia.
Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H
Referensi:
[1] HR. At-Tirmidzi, no. 2527. Dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani
[2] QS. Az-Zumar: 20
[3] QS. Al-Waqi’ah: 15
[4] Selengkapnya silakan lihat: QS. Al-Waqi’ah: 10-38
[5] QS. Az-Zukhruf: 71
[6] HR. Ibnu Majah, no. 738. Dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani
[7] HR. Muslim, no. 728
[8] HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan
[9] HR. An-Nasa’i, no. 3133. Dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani
[10] HR. At-Tirmidzi, no. 3428, al-Hakim dalam al-Mustadraak-nya, no. 2001
[11] HR. At-Tirmidzi, no. 1021. Dinilai hasan oleh Syekh al-Albani
[12] HR. Ath-Thabrani, no. 397. Dinilai shahiih oleh Syekh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’, no. 6472


