JAKARTA – Membanyakkan sholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan salah satu ibadah yang memiliki keutamaan agung dalam Islam. Di antara faedah utamanya adalah menjadi sarana dicukupinya berbagai kerisauan dunia maupun akhirat serta diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Kendati demikian, pemahaman terhadap aspek sanad riwayat, adab berdoa, serta pemilihan lafal sholawat yang shahih sangat penting agar ibadah yang dilakukan senantiasa berada di atas tuntunan As-Sunnah.
RIWAYAT KEUTAMAAN SHOLAWAT DALAM MENGATASI KECEMASAN
Landasan utama mengenai keutamaan membaca sholawat sebagai pengganti doa permohonan bersumber dari riwayat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat sepertiga malam terakhir, kemudian Ubay mengajukan pertanyaan terkait porsi sholawat dalam doanya:
قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ ؛ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي ؟ فَقَالَ : مَا شِئْتَ . قَالَ : قُلْتُ : الرُّبُعَ ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَك . قُلْتُ : النِّصْفَ ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَك . قَالَ : قُلْتُ : فَالثُّلُثَيْنِ ؟ قَالَ : مَا شِئْتَ ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَك . قُلْتُ : أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا ، قَالَ : إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Artinya: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering memperbanyak sholawat kepadamu, lantas berapa porsi sholawat yang harus aku jadikan dalam doaku?’ Beliau menjawab: ‘Terserah engkau.’ Aku bertanya: ‘Seperempat?’ Beliau menjawab: ‘Terserah engkau, namun jika engkau menambahnya maka itu lebih baik bagimu.’ Aku bertanya: ‘Separuh?’ Beliau menjawab: ‘Terserah engkau, namun jika engkau menambahnya maka itu lebih baik bagimu.’ Aku bertanya: ‘Dua pertiga?’ Beliau menjawab: ‘Terserah engkau, namun jika engkau menambahnya maka itu lebih baik bagimu.’ Aku berkata: ‘Kalau begitu, aku jadikan seluruh doaku berupa sholawat kepadamu.’ Beliau bersabda: ‘Jika demikian, kecemasanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni.'”
Referensi: Hadis riwayat Ahmad dalam Al-Musnad (35/166) dan At-Tirmidzi (No. 2457). At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan.
Tinjauan Kritik Sanad
Secara keilmuan hadis, riwayat Ubay bin Ka’ab ini memiliki jalur tunggal (tafarrud) melalui Sufyan dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Sebagian besar kritikus hadis, seperti Ibnu Ma’in, Abu Hatim, dan Ibnu Hibban, menilai Abdullah bin Muhammad bin Aqil memiliki kelemahan dari sisi hafalan (layyin al-hadits / radi’ al-hifzh).
Namun, riwayat ini memiliki beberapa jalur penguat (shawahid), antara lain:
- Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh Ibn Abi ‘Ashim dan Al-Bazzar.
- Riwayat Habban bin Munqidh radhiyallahu ‘anhu: Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (4/35).
- Riwayat mursal Ya’qub bin Zaid At-Taimi: Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf (2/215).
Meskipun jalur-jalur pendukung tersebut tidak lepas dari kelemahan sanad, kelemahan pada riwayat Ubay bin Ka’ab dan mursal Ya’qub bin Zaid tidak tergolong sangat parah (laisa bi syadid ad-dha’f). Oleh karena itu, para ulama mentoleransi penggunaannya dalam bab Fadhail al-A’mal (keutamaan amal).
Prinsip ini diperkuat oleh hadis shahih riwayat Muslim (No. 384) dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا – “Sesungguhnya barang siapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali”). Seseorang yang mendapatkan limpahan sholawat (rahmat dan pujian) dari Allah secara terus-menerus tentu akan dicukupi segala urusan yang merisaukan hatinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah saat ditanya mengenai makna hadis Ubay bin Ka’ab menerangkan sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Jala’ al-Afham (hal. 76):
“Ubay bin Ka’ab memiliki doa khusus yang biasa ia panjatkan untuk dirinya sendiri. Lalu ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah ia sebaiknya menjadikan porsi doanya tersebut berupa sholawat kepada beliau. Ketika Ubay memutuskan menjadikan seluruh doanya berupa sholawat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kecemasan dan dosanya akan diampuni. Hal itu karena barang siapa yang bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali, Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali. Dan barang siapa yang dilimpahi sholawat oleh Allah, niscaya Allah akan mencukupi kerisauannya dan mengampuni dosanya.”
KETENTUAN FIKIH DAN ADAB BERDOA
Dalam mengamalkan sholawat, terdapat dua prinsip utama yang hendaknya diperhatikan oleh setiap muslim:
1. Memadukan Sholawat dengan Variasi Doa dan Pujian
Syariat Islam mengajarkan keanekaragaman bentuk zikir dan doa agar setiap sisi keimanan hamba dapat berkembang. Seorang muslim tidak sepatutnya meninggalkan seluruh bentuk permohonan hajat atau pujian kepada Allah hanya dengan membatasi diri pada bacaan sholawat sepanjang hidupnya.
Tuntunan berdoa yang paling utama adalah mengombinasikan pujian kepada Allah, pembacaan sholawat, lalu menyampaikan hajat pribadi secara langsung. Hal ini didasarkan pada hadis Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan mengagungkan Rabb-nya Azza wa Jalla dan memuji-Nya, kemudian membaca sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berdoa setelahnya dengan hajat yang ia kehendaki.”
Referensi: Hadis riwayat Abu Dawud (No. 1481) dan At-Tirmidzi (No. 3477). At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan shahih.
2. Mengutamakan Lafal Sholawat yang Ma’tsur
Di era modern, marak beredar berbagai formula sholawat susunan manusia di media sosial yang sebagian di antaranya memuat lafal yang meragukan atau berlebihan. Sikap yang paling selamat bagi seorang muslim adalah mencukupkan diri pada lafal-lafal sholawat yang diajarkan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ash-shighah al-ma’tsurah), seperti Sholawat Ibrahimiyyah.
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara bersholawat kepada beliau, maka beliau mengajarkan:
قُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya: “Ucapkanlah: ‘Ya Allah, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.'”
Referensi: Hadis riwayat Bukhari (No. 3370) dan Muslim (No. 406).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan penegasan dalam Majmu’ al-Fatawa (22/510):
“Tidak diragukan lagi bahwa zikir dan doa merupakan bagian dari ibadah yang paling utama. Landasan ibadah adalah tawqif (berdasarkan dalil syariat) dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi), bukan berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah. Doa dan zikir Nabawi merupakan pilihan terbaik yang dicari oleh penuntut kebaikan, dan orang yang menempuhnya berada di atas jalan keselamatan. Adapun bentuk zikir selainnya, terkadang bisa berstatus haram, makruh, atau bahkan memuat unsur syirik yang tidak disadari oleh banyak orang.”
Membanyakkan sholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ikhtiar batin yang sangat manjur untuk melapangkan dada dan mengikis kerisauan hidup. Keutamaan ini akan dicapai secara sempurna manakala seorang muslim menggabungkan semangat bersholawat dengan pengamalan doa-doa Nabawi yang ma’tsur, serta senantiasa memelihara adab-adab berdoa sebagaimana yang diteladani oleh para sahabat dan ulama salaf.
Wallahu A’lam
Abu Utsman Surya Huda Aprila



