Abu Utsman Surya Huda Aprila
KHUTBAH PERTAMA
Mukaddimah Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,* saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada hadirin sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
JAKARTA – Sesungguhnya di antara ibadah yang sangat mudah dilakukan, memiliki pahala yang sangat besar, namun sering dilalaikan oleh banyak dari kita adalah membasahi lisan dengan berzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi *Shallallahu ‘alaihi wasallam* pernah berwasiat kepada salah seorang sahabat:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Hendaknya lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Di antara sekian banyak zikir yang agung dan mendapat perhatian khusus dalam syariat adalah istighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah. Sungguh beruntung orang yang senantiasa melazimkan istighfar. Rasulullah *Shallallahu ‘alaihi wasallam* bersabda:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
“Sungguh beruntung seseorang yang kelak di hari kiamat mendapati pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)
Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling banyak beristighfar, meskipun beliau telah dijamin pengampunan dosanya. Beliau bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya hatiku terkadang merasakan penutup (rasa tidak nyaman/lalai sejenak), dan sesungguhnya aku memohon ampun (beristighfar) kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)
Di riwayat lain, beliau juga menyeru kepada umatnya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)
Jamaah rahimakumullah, ada beberapa alasan kuat mengapa kita di zaman ini sangat ditekankan untuk memperbanyak istighfar.
Pertama, mudahnya kita terjerumus dalam kemaksiatan di zaman modern. Hari ini, maksiat sangat mudah dilakukan dari dalam rumah sekalipun melalui perantara gadget dan media sosial. Jika zaman dahulu seseorang harus keluar rumah untuk melihat hal yang diharamkan, kini maksiat mata dan telinga begitu bebasnya masuk ke layar ponsel kita.
Berapa banyak aurat yang tersingkap yang sengaja maupun tidak sengaja kita lihat? Jika kita tidak banyak beristighfar, maka dosa-dosa itu akan terus menumpuk di hati kita.
Kedua, ketidakmampuan kita dalam mensyukuri nikmat Allah. Nikmat yang Allah berikan sangatlah banyak dan tidak mungkin kita mampu mensyukurinya dengan sempurna. Para ulama mencontohkan, hikmah mengapa setelah keluar dari toilet (jamban) kita disunnahkan membaca:
غُفْرَانَكَ
“(Aku memohon) ampunan-Mu ya Allah.” (HR. Abu Dawud)
Ini karena keluarnya kotoran dari tubuh adalah nikmat sehat yang luar biasa. Andai kotoran itu tertahan, akan timbul banyak penyakit. Kita membaca istighfar karena sadar betapa lemahnya kita dalam mensyukuri satu nikmat tersebut secara layak.
Ketiga, banyaknya kekurangan di dalam ibadah kita. Siapa di antara kita yang bisa salat dengan khusyuk seratus persen dari takbiratul ihram hingga salam? Pikiran kita sering melayang ke mana-mana. Itulah sebabnya, seusai ibadah yang mulia sekalipun, syariat menuntun kita untuk beristighfar. Selesai salat fardu, zikir pertama yang kita baca adalah: Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.
Orang-orang saleh mencontohkan hal ini. Setelah mereka menunaikan ibadah mulia di malam hari (Tahajud), mereka menutup malamnya menjelang subuh dengan istighfar. Allah memuji mereka di dalam Al-Qur’an:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampunan (beristighfar).” (QS. Az-Zariyat: 18)
Bahkan pada akhir rangkaian ibadah haji yang sangat melelahkan, setelah wukuf di Arafah, jamaah haji disyariatkan untuk beristighfar, sebagaimana firman Allah:
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan (beristighfarlah) kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 199)
Di akhir hayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah 23 tahun perjuangan dakwah beliau yang tanpa celah berbuah kesuksesan besar, Allah juga tetap memerintahkannya untuk beristighfar lewat surah An-Nasr:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya (beristighfarlah). Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nasr: 1-3)
Semoga Allah melembutkan hati kita agar lisan ini senantiasa ringan mengucapkan istighfar.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
Mukaddimah Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, ketahuilah, sejauh mana kita membersihkan dosa kita dengan istighfar di dunia, sejauh itu pula derajat kita akan diangkat di surga. Di akhirat kelak, ada seseorang yang terheran-heran karena derajatnya diangkat begitu tinggi di surga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, lalu hamba itu bertanya: ‘Wahai Rabb-ku, dari mana aku mendapatkan (derajat setinggi) ini?’ Allah menjawab: ‘Karena istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.'” (HR. Ahmad)
Dan ketahuilah, mengapa di Padang Mahsyar ketika matahari didekatkan dan semua manusia memohon syafaat, seluruh Nabi seperti Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimussalam menolak untuk memberi syafaat karena mereka merasa takut atas kesalahan mereka? Namun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam lah yang maju dan diizinkan memberikan syafaat (Syafaatul Uzhma). Hal itu tidak lain karena beliau sepenuhnya telah diampuni dosanya, sesuai janji Allah:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا * لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang…” (QS. Al-Fath: 1-2)
Karena beliau bersih tanpa dosa, beliau menduduki derajat tertinggi. Demikian pula kita, semakin habis dosa kita dikikis dengan istighfar, semakin tinggi kedudukan kita kelak. Oleh karenanya, mari basahi lisan kita dengan istighfar; di waktu pagi, petang, terlebih di waktu mustajab setelah salat tahajud.
Mari kita tutup khutbah ini dengan bermunajat kepada Allah.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.



