JAKARTA – Makanan untuk besok sering kali disiapkan sebagai persediaan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Namun, bagaimana dengan kebiasaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebut tidak menyimpan sesuatu untuk hari berikutnya? Kisah ini mengajarkan tentang kesederhanaan, sifat zuhud, dan kuatnya tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sekaligus menjelaskan bagaimana beliau tetap memperhatikan kebutuhan keluarganya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan,
كانَ لا يَدَّخِرُ شيئًا لغدٍ
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyimpan sesuatu pun untuk besok.”[1]
Beliau tidak suka menimbun atau menyimpan harta dan makanan untuk besok serta buat keperluan pribadinya sendiri. Hal ini menunjukkan betapa besarnya sifat zuhud beliau terhadap dunia, serta kuatnya tawakal dan keyakinan beliau kepada rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mungkin ada yang bertanya, “Lalu, bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpan makanan pokok untuk keluarganya selama setahun?”
Ya, memang ada riwayat yang menyebutkan hal tersebut. Namun, makanan itu disimpan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi beliau. Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dia menyampaikan,
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَبِيعُ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ، وَيَحْبِسُ لِأَهْلِهِ قُوتَ سَنَتِهِمْ.
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menjual kurma (hasil kebun) Bani Nadhir, lalu beliau menyimpan makanan pokok untuk keluarganya selama setahun.”[2]
Sebagian ulama menjelaskan bahwa penyimpanan tersebut berkaitan dengan kebutuhan keluarga dan keadaan pada masa itu. Kurma dan gandum merupakan bahan makanan pokok yang penyediaannya berkaitan dengan masa panen, sehingga menyimpan persediaan untuk kebutuhan keluarga merupakan hal yang dapat dipahami.
Meskipun menyimpan makanan untuk keluarganya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap dikenal sangat dermawan. Beliau sering memberikan makanan kepada tamu atau utusan yang datang berkunjung, bahkan terkadang meminta sebagian persediaan keluarganya untuk diberikan kepada mereka. Jika persediaan itu terpakai, beliau akan menggantinya. Kesederhanaan hidup beliau juga terlihat ketika wafat, saat baju besinya masih tergadai untuk mendapatkan gandum yang digunakan sebagai makanan keluarganya.[3]
Dari kisah ini, setidaknya ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil:
- Kesederhanaan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan menghadapi berbagai kesulitan, meskipun beliau adalah seorang rasul yang memiliki kedudukan mulia.
- Sifat zuhud terhadap dunia. Beliau tidak menjadikan harta dan kemewahan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Sebaliknya, beliau lebih mengutamakan amal saleh dan kebaikan bagi sesama.
- Kuatnya tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau senantiasa bergantung kepada Allah dalam urusan rezeki, sembari tetap memperhatikan kebutuhan keluarganya dan memenuhi hak-hak mereka.
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.
[1] HR. At-Tirmidzi, no. 2363; Ibnu Majah, no. 6378; dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iimaan, no. 1478. Dinilai shahih oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Jaami’ ash-Shaghiir, no. 6865.
[2] HR. Al-Bukhari, no. 5357; Muslim, no. 1757; Al-Baihaqi, no. 15797; dan An-Nasa’i, no. 4140.
[3] Lihat: Ad-Durar as-Saniyyah.



