JAKARTA – Menghadapi fitnah, musibah, dan berbagai kesulitan hidup membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, serta tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk bersabar ketika ujian datang, tetapi juga membekali mereka dengan doa-doa yang dapat diamalkan ketika berada dalam keadaan sulit, takut, cemas, maupun terhimpit oleh berbagai persoalan.
1. DOA PERLINDUNGAN DARI KEJAHATAN DAN PERUSUH
Ketika merasa terancam oleh tindakan atau niat buruk suatu kaum, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa kepasrahan total kepada perlindungan Allah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau sebagai penghalang di leher-leher mereka (untuk menolak kejahatan mereka), dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan mereka.”
Referensi: Hadis riwayat Abu Dawud (No. 1537), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (No. 1360).
2. ZIKIR PENENANG JIWA SAAT DITIMPA KESULITAN BERAT (KARB)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bacaan yang senantiasa diucapkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menghadapi kesulitan yang teramat sangat:
لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Artinya: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Rabb ‘Arsy yang agung; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Rabb langit, Rabb bumi, dan Rabb ‘Arsy yang mulia.”
Referensi: Hadis riwayat Bukhari (No. 6345) dan Muslim (No. 2730).
3. KALIMAT PEMBUKA JALAN KELUAR (KALIMAT AL-FARAJ)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan susunan kalimat tauhid ini sebagai Kalimat al-Faraj, yakni untaian doa yang mendatangkan kelapangan dari kemelut:
لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Artinya: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemurah; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Rabb tujuh lapis langit dan Rabb ‘Arsy yang mulia.”
Referensi: Riwayat Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ as-Saghir (No. 4571).
4. DOA PENGUAT DIRI SAAT BERHADAPAN DENGAN MUSUH ATAU PERJUANGAN
Ketika hendak berangkat berperang atau berhadapan dengan tekanan musuh, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memohon kekuatan kepada Allah:
اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَأَنْتَ نَصِيرِي وَبِك أُقَاتِلُ
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah pelindungku dan Engkau adalah penolongku, serta dengan pertolongan-Mu aku berperang.”
Referensi: Hadis riwayat At-Tirmidzi (No. 3584), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (No. 2836).
5. DOA NABI YUNUS ‘ALAIHISSALAM UNTUK PELEPAS MUSIBAH
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk tentang doa Nabi Dzun Nun (Yunus) saat berada di dalam perut ikan. Beliau menegaskan bahwa tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan doa ini dalam kondisi apa pun melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya:
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Referensi: Riwayat Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ as-Saghir (No. 2065).
6. PERLINDUNGAN DARI KEPANIKAN DAN BISIKAN SETAN
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kalimat-kalimat perlindungan ini kepada para sahabat saat mengalami kepanikan atau rasa takut yang mendalam:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan, dan dari kehadiran mereka kepadaku.”
Referensi: Hadis riwayat Abu Dawud (No. 3893), dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (No. 3294).
7. DOA ORANG YANG DITIMPA KESUSAHAN (DA’AWAT AL-MAKRUB)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebut lafal ini sebagai permohonan khusus bagi siapa saja yang jiwanya sedang terhimpit kesusahan berat:
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada rahmat-Mu aku berharap, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun, dan perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”
Referensi: Hadis riwayat Abu Dawud (No. 5090), dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (No. 4246).
8. MEMOHON PERTOLONGAN DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA HIDUP
Apabila suatu perkara memberatkan pikiran atau menimpakan duka mendalam, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertawasul dengan dua nama-Nya yang agung:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak membutuhkan makhluk-Nya), dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”
Referensi: Riwayat Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ as-Saghir (No. 4791).
9. DOA PENGHILANG DUKA AJARAN NABI KEPADA ASMA’ BINTI ‘UMAIS
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kalimat ringkas ini kepada Asma’ binti ‘Umais radhiyallahu ‘anha untuk dibaca ketika menghadapi kejenuhan, kesedihan, atau bahaya:
اللَّهُ رَبِّي لا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Artinya: “Allah adalah Rabbku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Referensi: Hadis riwayat Abu Dawud (No. 1525), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (No. 1349). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa barang siapa yang ditimpa kegelisahan, duka, penyakit, atau himpitan hidup lalu mengucapkannya, niscaya Allah akan mengangkat beban tersebut darinya.
Membiasakan diri melafalkan zikir dan doa-doa di atas merupakan wujud tawakal yang utuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di tengah derasnya ujian dan fitnah zaman, untaian risalah Nabawi ini menjadi benteng penenang jiwa sekaligus penunjuk jalan keluar yang paling aman bagi setiap muslim.
Wallahu A’lam
Abu Utsman Surya Huda Aprila


