BEKAL HIJRAH PART 1

BEKAL HIJRAH PART 1

JAKARTA – Bekal hijrah sering kali menjadi hal yang terlupakan ketika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik. Banyak yang bersemangat di awal, namun tanpa bekal hijrah yang kuat, langkah itu mudah goyah saat diuji. Padahal, perjalanan menuju jalan pulang kepada Allah bukan hanya tentang niat, tetapi juga tentang kesiapan hati, ilmu, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai rintangan yang akan datang.

Bagimu yang benar-benar ingin menuju jalan pulang, dengan penuh kemudahan berbalutkan kasih sayang, ada beberapa hal yang bisa membantumu untuk meraih keinginan itu.

Bekal Hijrah

1. Ikhlas

Keikhlasan untuk kembali menuju jalan pulang kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pengaruh besar bagi pengelananya; berupa kemudahan dalam taubat maupun ketenangan yang ia raih dari hijrahnya.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah mengatakan, “Apabila kenikmatan beribadah kepada Allah dan nikmatnya keikhlasan dalam menjalankannya telah menancap pada hati seorang hamba, maka baginya tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat, lebih lezat, lebih menyenangkan, dan lebih indah daripada ibadah yang ia lakukan itu…”[1]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,

فَالْمُؤْمِنُ الْمُخْلِصُ لِلّٰهِ مِنْ أَطْيَبِ النَّاسِ عَيْشاً، وَأَنْعَمِهِمْ بَالاً، وَأَشْرَحِهِمْ صَدْراً، وَأَسَرِّهِمْ قَلْباً، وَهَذِهِ جَنَّةٌ عَاجِلَةٌ قَبْلَ الْجَنَّةِ الآجِلَةِ

“Seorang Mukmin yang ikhlas kepada Allah adalah orang yang hidupnya paling tenteram, pikirannya paling tenang, dadanya paling lapang, dan hatinya paling bahagia. Itu semua merupakan surga yang disegerakan sebelum surga yang sesungguhnya.”[2]

Oleh karenanya, niatkan di setiap langkah kakimu ketika menuju jalan pulang atau hijrah, semata-mata ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala. Segala keburukan di masa lalu, segala hal-hal keliru yang telah berlalu, dan tentang segala luka dosa di lembaran kisah pilu, lusuh nan keruh, tinggalkan semua itu karena Allah tabaraka wa ta’ala, bukan karena yang lain.

Hasil kekayaan yang dihasilkan dari harta haram, rasa bahagia yang pernah dihadirkan dari cara terlarang, semua itu harus berani ditinggalkan. Segalanya harus berani ditumbangkan. Karena Allah, bukan karena seorang pujaan. Hijrahmu harus tulus agar tak mudah pupus. Dengan begitu, kuyakin istikamah akan dimudahkan untukmu, insya Allah.

Bersambung …

Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H

Sumber:

[1] Al-‘Ubuudiyyah, hal. 99.
[2] Al-Jawaab al-Kaafii, hal. 460.

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id