JAKARTA – Setiap muslim tentu memiliki harapan besar untuk meraih meraih surga sebagai tujuan akhir dari seluruh amal dan ibadahnya. Harapan ini bukan sekadar angan-angan, tetapi merupakan motivasi yang dibenarkan dalam syariat, bahkan dianjurkan agar seorang hamba semakin bersungguh-sungguh dalam ketaatan.
Salah satu tujuan seorang hamba beramal dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah agar bisa masuk ke dalam surga. Dan hal yang seperti ini diperbolehkan, karena Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyampaikan hal tersebut, semisal di ayat berikut,
﴿ رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّاۖ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ١٩٣ رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ١٩٤ فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ … ﴾
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mendengar orang yang menyeru pada keimanan (dengan mengatakan), ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian!’ Lalu kami pun beriman. Wahai Rabb kami, maka ampunilah dosa-dosa kami, hapuslah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama dengan orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan. Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami sesuatu yang telah Engkau janjikan kepada para Rasul-Mu, dan tolong janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidaklah akan pernah mengingkari.’ Maka, Rabb mereka mengabulkan permintaan mereka dengan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan suatu amalan yang dilakukan oleh kalian, baik itu dari kalangan laki-laki maupun perempuan…’”[1]
Atau semisal di hadis berikut,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan penuh dengan keimanan dan berharap pahala (kepada Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[2]
Kedua dalil ini menunjukkan kepada kita bahwa meminta surga atau berharap pahala kepada Allah atas amal saleh yang kita kerjakan itu hukumnya diperbolehkan, tidak dilarang. Maka keliru jika ada orang yang menyatakan, “Belum dikatakan ikhlas jika beramal dan beribadah masih mengharapkan surga atau pahala.” Mengapa pernyataan semacam ini bisa dikatakan keliru? Jawabannya ialah karena pernyataan tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saudaraku yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah tabaraka wa ta’ala…
Berikut beberapa hal yang insya Allah bisa memotivasi kita agar lebih semangat lagi untuk meraih surganya Allah subhanahu wa ta’ala
1. Meyakini bahwa surga itu benar adanya
Ketika seorang hamba meyakini bahwa surga itu benar-benar ada, maka dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Berbeda halnya dengan orang yang menganggap bahwa surga itu tidak ada atau hanya fantasi belaka, maka dia tidak akan ada semangat untuk meraihnya.
Banyak dalil yang menyebutkan tentang keberadaan surga, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya ialah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَىٰ مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bersaksi pula bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, dia adalah Kalimat-Nya yang Allah berikan kepada Maryam, kemudian Allah berikan ruh kepadanya, bersaksi pula bahwa surga itu ada, neraka juga ada, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amalan yang ia miliki.”[3]
Dalam hadis di atas disebutkan, barangsiapa yang bersaksi bahwa surga dan neraka itu ada, maka dia pasti masuk ke dalam surga.
2. Apa saja yang ada di dalam surga lebih nikmat daripada yang ada di dunia
Hal lain yang bisa memotivasi kita agar semangat dalam meraih surga ialah dengan mengingat bahwa seluruh kenikmatan yang ada di dalam surga sangatlah jauh berbeda dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia.
Sebagai bukti, ialah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,[4] dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً. فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ، لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ. وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ.
“Sesungguhnya Allah menciptakan rahmat pada hari Dia menciptakannya sebanyak seratus rahmat. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan rahmat, dan Dia menurunkan kepada seluruh makhluk-Nya satu rahmat saja. Seandainya orang kafir mengetahui seluruh rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya ia tidak akan berputus asa dari (mendapatkan) surga. Dan seandainya orang mukmin mengetahui seluruh azab yang ada di sisi Allah, niscaya ia tidak akan merasa aman dari neraka.”
Bayangkan, kalau satu rahmat saja kita bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa ini, lalu bagaimana dengan yang sembilan puluh sembilan rahmat? Tak terbayang.
Dalil lainnya, kisah penghuni surga yang masuk paling terakhir masuk ke dalam surga. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا؛ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ كَبْوًا، فَيَقُولُ اللَّهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ! فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى. فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى، فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا، أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: تَسْخَرُ مِنِّي أَوْ تَضْحَكُ مِنِّي وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ وَكَانَ يَقُولُ: ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً.
“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui orang terakhir yang keluar dari neraka dan orang terakhir yang masuk surga: yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga!’ Maka ia mendatanginya, namun terbayang olehnya bahwa surga itu sudah penuh. Ia pun kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku mendapatinya sudah penuh.’
Allah berfirman lagi, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga!’
Ia pun mendatanginya, namun kembali terbayang olehnya bahwa surga itu telah penuh. Maka ia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku mendapatinya sudah penuh.’ Allah kembali berfirman, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga. Sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya,’ atau ‘Sesungguhnya bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’
Ia berkata, ‘Apakah Engkau mengolok-olokku atau menertawakanku, padahal Engkau adalah Raja?’[5]
Sungguh, aku (Ibnu Mas’ud) melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, dan beliau bersabda, ‘Itulah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.’”
Kedua dalil di atas menunjukkan kepada kita betapa luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan betapa besarnya kenikmatan surga.
3. Menyadari bahwa kenikmatan surga itu abadi selama-lamanya
Banyak dalil yang menyebutkan tentang hal ini, di antaranya ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut,
﴿ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا ٥٧ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan Kami masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka juga akan mendapatkan pasangan-pasangan yang suci, kemudian Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”[6]
Jadi, kenikmatan surga itu abadi selama-lamanya. Berbeda halnya dengan dunia yang kenikmatannya hanya sementara. Sudah mencarinya butuh usaha keras, ketika sudah mendapatkannya cepat habis atau usang. Demikianlah karakteristik dunia.
Oleh karena itu, kita harus cerdas. Kita harus bisa memprioritaskan kenikmatan yang abadi daripada yang sementara. Kita harus bisa mengutamakan surga daripada dunia. Ketika seorang hamba menyadari bahwa kenikmatan surga itu abadi selama-lamanya, maka dia akan semangat dan rela mengorbankan kenikmatan yang bersifat sementara (dunia) demi mendapatkan surga.
Dikisahkan dalam Shahih Muslim,[7] ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabatnya untuk menghadang kafilah Abu Sufyan di dekat sumur Badar. Beliau bersabda,
إِنَّ لَنَا طَلِبَةً، فَمَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِرًا فَلْيَرْكَبْ مَعَنَا!
“Sesungguhnya kita punya misi yang harus diselesaikan. Barangsiapa yang tunggangannya sudah siap (berada di tempat), hendaklah ia segera menungganginya dan berangkat bersama kami.”
Ketika mendengar ajakan beliau, beberapa dari para sahabat meminta izin untuk mengambil kendaraan-kendaraan mereka yang berada di luar wilayah Madinah yang jaraknya sekitar kurang-lebih 12 kilometer. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
لَا، إِلَّا مَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِرًا
“Tidak perlu, yang sudah siap saja. Kita berangkat sekarang!”
Maka rombongan yang kendaraannya sudah siap, mereka pun berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lokasi. Ketika sudah sampai di tempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar tidak ada satu pun dari mereka (para sahabat) yang maju sebelum mendapatkan aba-aba dari beliau.
Singkat cerita, bertemulah pasukan kaum Muslimin dengan pasukan kaum Musyrikin. Beliau pun berdiri dan menyeru kepada para sahabatnya untuk berperang. Beliau memberikan motivasi yang membakar semangat mereka.
قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ!
“Ayo bangkit, saatnya kita menuju surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi!”
Mendengar seruan itu, Umair bin al-Humam al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ؟
“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”
Beliau menjawab, “Iya.”
Umair pun berkata, “Bakh… bakh… (mantap… mantap…)”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang menyebabkanmu berkata seperti itu, wahai Umair?”
Dia menjawab,
لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِلَّا رَجَاءَةَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا
“Tidak ada maksud apa-apa, wahai Rasulullah. Aku tadi mengucapkannya hanya karena ingin menjadi bagian dari salah satu penghuninya.”
Beliau bersabda, “Kamu termasuk dari penghuni surga.”
Umair kemudian mengeluarkan beberapa butir kurma kering dari kantongnya, lalu memakannya agar tubuhnya bisa kuat. Di tengah memakan kurma-kurma itu, Umair berkata dalam hati,
لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هٰذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ
“Kalau aku masih menunda sampai kurma ini habis, berarti aku terlalu lama menunggu untuk menuju surga!”
Dia pun membuang beberapa butir kurma yang masih berada di genggamannya dan langsung menuju ke medan perang hingga syahid. Semoga Allah meridai Umair bin al-Humam.
4. Apapun yang kita inginkan ada di surga
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki keinginannya masing-masing, akan tetapi tak sedikit dari mereka ketika menginginkan sesuatu terhalang untuk mendapatkannya; baik itu dari segi larangan syariat, kemampuan finansial, fisik, atau waktu.
Berbeda halnya dengan keadaan di surga. Ketika kita menginginkan sesuatu (di surga), maka tidak ada batasannya dan tidak ada larangannya. Semua tersedia sesuai dengan keinginan nafsu kita.
﴿ اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَۗ ٣١ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian akan mendapatkan apa yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian minta.’”
Demikianlah empat poin yang semoga bisa memotivasi kita semua untuk lebih semangat lagi dalam meraih surga Allah subhanahu wa ta’ala.
Oleh: Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H
[1] QS. Ali ‘Imran: 193–195.
[2] HR. Bukhari, no. 1901 dan Muslim, no. 760.
[3] HR. Al-Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28.
[4] No. 6470.
[5] Kalau bahasa kita kurang lebih mungkin seperti ini, “Ah, jangan bercanda ya Allah, aku mendapatkan surga sebesar ini, padahal aku ini penghuni surga yang paling terakhir?!”
[6] QS. An-Nisa’: 57.
[7] No. 1901.



