BAGAIMANA BERTAKZIAH KEPADA ORANG YANG DITINGGAL WAFAT?

BAGAIMANA BERTAKZIAH KEPADA ORANG YANG DITINGGAL WAFAT?

JAKARTA – Bertakziah kepada keluarga yang ditinggal wafat bukan berarti harus membuat acara besar atau mengumpulkan banyak orang di rumah duka. Inti takziah adalah memberikan penghiburan dan menguatkan hati orang yang sedang tertimpa musibah agar bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana tuntunan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Pertanyaan dari Yusuf Muhammad:

Bagaimanakah cara bertakziah kepada orang yang ditinggal wafat oleh seseorang?

Jawaban:

Takziah kepada orang yang ditinggal wafat adalah dengan menyampaikan perkataan yang dapat menguatkannya untuk bersabar dan menanggung musibah yang menimpanya.

Ucapan takziah terbaik adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi ﷺ kepada salah seorang putri beliau ketika anaknya sedang menghadapi kematian. Nabi ﷺ bersabda kepada utusan yang dikirim oleh putri beliau kepada Rasulullah ﷺ:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، مُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.

“Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya telah memiliki ajal yang ditentukan. Maka, perintahkanlah dia agar bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah.”

Inilah ucapan terbaik untuk disampaikan kepada orang yang tertimpa musibah.

Apabila seseorang menyampaikan takziah dengan ungkapan lain yang dapat menguatkan orang yang tertimpa musibah agar bersabar dan tabah menghadapinya, maka hal itu juga tidak mengapa. Namun, mengikuti ucapan yang diajarkan oleh sunnah tentu lebih utama daripada ucapan lainnya.

BERTAKZIAH BUKANLAH ACARA YANG HARUS DISELENGGARAKAN

Selanjutnya, takziah bukanlah sesuatu yang harus diselenggarakan dengan cara membuka pintu rumah lebar-lebar, menyalakan lampu-lampu, menyediakan kursi-kursi, dan menyiapkan berbagai hidangan makanan.

Semua itu termasuk perkara baru dalam agama yang dilarang.

Sebab, para sahabat radhiallahu ‘anhum dahulu menganggap kegiatan membuat makanan dan berkumpul untuk menyantapnya di rumah keluarga mayit sebagai bagian dari niyahah (meratap atas kematian). Sementara itu, niyahah diharamkan, bahkan termasuk dosa besar.

Oleh karena itu, menurut kami, takziah yang disyariatkan adalah ketika engkau menjumpai orang yang sedang tertimpa musibah, baik di rumah, di pasar, maupun di masjid, dan engkau melihatnya bersedih.

Hendaklah engkau menghiburnya dan mengatakan kepadanya:

“Bersabarlah dan harapkanlah pahala dari Allah. Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya telah memiliki ajal yang ditentukan. Apa yang telah terjadi tidak akan berubah dari ketetapan yang telah berlaku. Setiap orang di dunia ini pada akhirnya akan meninggalkannya.”

Atau perkataan-perkataan lain yang dapat membantunya menerima dan menanggung musibah tersebut.

ACARA TAKZIAH YANG BERLEBIHAN DAN PERKARA-PERKARA YANG MENYERTAINYA

Adapun hal yang engkau singgung mengenai kebiasaan sebagian orang yang menyelenggarakan acara takziah seolah-olah mereka sedang mengadakan pesta pernikahan, maka hal ini merupakan kemungkaran.

Terlebih lagi, terkadang dalam acara tersebut terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Terkadang pula mereka berkumpul untuk mendengarkan seorang qari yang dibayar agar membaca Al-Qur’an dengan anggapan bahwa pahalanya akan dihadiahkan kepada ruh orang yang telah meninggal.

Padahal, orang yang meninggal itu tidak memperoleh manfaat dari bacaan qari tersebut karena biasanya qari itu membaca dengan imbalan uang. Orang yang membaca Al-Qur’an demi uang tidak mendapatkan pahala, sebab suatu amalan yang semestinya dilakukan untuk mengharapkan wajah Allah, apabila ditujukan untuk memperoleh keuntungan duniawi, menjadi sia-sia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu pun di akhirat selain neraka. Gugurlah apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Hud: 15–16)

Nasihat saya kepada saudara-saudara yang telah terbiasa melakukan kebiasaan buruk ini adalah agar mereka bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kemudian menutup pintu rumah mereka dan tidak membuka rumah untuk menyelenggarakan acara semacam itu.

Saya juga menasihati saudara-saudara yang datang dari jauh untuk berbondong-bondong mendatangi keluarga mayit guna menyelenggarakan takziah, sebagaimana yang mereka anggap, agar tidak melakukan perjalanan tersebut. Hendaklah mereka tetap tinggal di daerah masing-masing, kemudian menghubungi keluarga yang tertimpa musibah melalui telepon untuk menyampaikan takziah atau mengirimkan surat berisi ucapan belasungkawa.

Adapun rombongan besar yang datang dari berbagai tempat, pada hakikatnya hal itu menimbulkan beban fisik, finansial, dan keagamaan. Sebab, mereka berkumpul untuk melakukan sesuatu yang tidak disyariatkan, bahkan merupakan perkara baru dalam agama.

Apakah Rasulullah ﷺ, para sahabat beliau, dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dahulu menyelenggarakan acara takziah seperti ini?

Sejarah kehidupan mereka ada di hadapan kita. Mereka sama sekali tidak melakukan hal tersebut. Ini merupakan perkara baru yang diada-adakan.

Bahkan, tidak tertutup kemungkinan kebiasaan ini muncul akibat penjajahan orang-orang Nasrani terhadap sebagian negeri Islam.

Orang-orang Nasrani dan kaum kafir lainnya memandang musibah kematian sebagai musibah yang bersifat material semata. Karena itu, mereka berusaha menghibur diri dari kesedihan dengan mengadakan perkumpulan-perkumpulan semacam ini.

Akan tetapi, seorang mukmin tidak menghibur dirinya dengan cara-cara semacam itu. Seorang mukmin memperoleh ketenangan melalui:

  • Keimanannya kepada Allah.
  • Tawakal dan ketergantungannya kepada Allah.
  • Keridaannya terhadap ketetapan dan takdir Allah.
  • Berbagai perkara maknawi dan rohani, bukan semata-mata perkara material sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang Yahudi, Nasrani, dan kaum kafir lainnya.

Namun, sebagian kaum Muslimin mengambil kebiasaan tersebut, kemudian menjadikannya sebagai tradisi.

Kita memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada kita dan saudara-saudara kita menuju jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Dia beri nikmat, dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur dan teguh membenarkan kebenaran (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.

Dijawab oleh:
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin

SUMBER

Fatawa Nur ‘ala Darb, 9/2.

Alih Bahasa:
Gilang Malcom Habiebie

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id