JAKARTA – Ucapan ketika iqamah berupa “Aqaamahallaahu wa adaamahaa” sudah dikenal oleh sebagian kaum muslimin. Namun, bagaimana sebenarnya kedudukan bacaan tersebut? Apakah memang ada dalil yang mendasarinya atau tidak? Berikut penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.
Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
“Mengenai ucapan makmum ketika iqamah, ‘Aqaamahallaahu wa adaamahaa’ (semoga Allah menegakkan salat ini dan mengekalkannya), memang ada riwayatnya dalam hadis Rasulullah ﷺ. Sebagian ahli ilmu menilai hadis tersebut dhaif (lemah), sedangkan sebagian yang lain menilainya hasan (cukup baik). Oleh karena itu, jika seseorang mengucapkannya maka tidak mengapa (boleh), dan jika dia meninggalkannya (tidak mengucapkannya) pun tidak mengapa.”
Sumber:
- Fatawa Nuur ‘alad Darb (Jilid 7, hlm. 2).
- Rof’ul Jahl fii Bayaan maa Laisa lahul Ashl, karya Dr. Ibrahim bin Fahd al-Hawwas, hlm. 14.
Teks Fatwa
قول المأموم عند الإقامة أقامها الله وأدامها
قال رحمه الله:
“قول المأموم عند الإقامة أقامها الله وأدامها هذا قد روي فيه حديث عن رسول الله ﷺ ضعفه بعض أهل العلم وحسنه بعضهم فإذا قالها الإنسان فلا حرج وإن ترك ذلك فلا حرج”.
Alih Bahasa:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H




