JAKARTA – Menggunakan media sosial di era digital seperti sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kaum muslimin. Menggunakan media sosial bisa menjadi sarana kebaikan, dakwah, dan silaturahmi, namun di saat yang sama juga dapat menjadi pintu maksiat jika tidak dikendalikan dengan iman dan takwa. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terjerumus pada dosa yang merusak hati dan amal.
Islam sejak awal telah meletakkan prinsip menjaga pandangan, lisan, dan hati. Allah Ta’ala berfirman:
﴿قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ﴾
“Katakankanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30)
Berlaku Ketika Menggunakan Media Sosial
Ayat ini bukan hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga ketika menggunakan media sosial. Pandangan mata terhadap gambar, video, dan konten digital tetap dicatat sebagai amal. Banyak orang tergelincir dalam maksiat karena menganggap layar ponsel bukan bagian dari ujian iman, padahal justru di sanalah ujian terbesar saat ini berada.
Selain pandangan, lisan juga sangat rawan saat menggunakan media sosial. Komentar kasar, ghibah, fitnah, dan adu domba sering terjadi karena seseorang merasa aman di balik layar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi kaidah penting dalam menggunakan media sosial. Setiap tulisan, komentar, dan unggahan adalah “ucapan” yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak sedikit orang rajin beribadah, namun pahalanya terkikis karena jarinya ringan mencela dan merendahkan orang lain di dunia maya.
Para ulama juga mengingatkan bahwa hati bisa rusak karena kebiasaan kecil yang terus dilakukan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dosa-dosa kecil yang dianggap remeh, jika terus diulang, dapat menghitamkan hati. Menggunakan media sosial tanpa kontrol iman bisa menumbuhkan riya’, ujub, dan cinta dunia, terutama saat seseorang mengejar likes, pujian, dan popularitas.
Namun, menggunakan media sosial juga bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Menyebarkan ilmu, mengingatkan dalam kebaikan, menjaga adab, dan menahan diri dari konten haram adalah bentuk ibadah. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Kesimpulan: Menggunakan media sosial adalah ujian iman di zaman modern. Jika tidak dibingkai dengan ilmu dan takwa, ia bisa menyeret pada maksiat pandangan, lisan, dan hati. Namun jika digunakan dengan niat yang lurus, adab yang benar, dan rasa takut kepada Allah, media sosial justru menjadi sarana pahala dan kebaikan.
Referensi:
Al-Qur’an Al-Karim
HR. Bukhari dan Muslim
Ibnul Qayyim, Ad-Da’ wad-Dawa’


