BEKAL HIJRAH PART 2: RASA CINTA KEPADA ALLAH

BEKAL HIJRAH PART 2: RASA CINTA KEPADA ALLAH

JAKARTA – Bekal hijrah bukan sekadar niat untuk berubah, tetapi juga kesiapan hati, ilmu, dan kesungguhan untuk menempuh jalan yang penuh ujian. Banyak orang ingin berhijrah, namun tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena tidak menyiapkan bekal yang cukup.

Bekal Hijrah dengan Cinta kepada Allah

Langkah berikutnya agar kita mudah untuk menempuh jalan hijrah, ialah hadirkan rasa cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena rasa cinta merupakan penggerak hati yang paling kuat. Setiap amalan akan dikerjakan terasa nyaman dan mudah jika dilandasi oleh cinta. Oleh karenanya, hadirkanlah rasa cinta dalam dada kepada Allah ‘azza wa jalla.

Coba kau perhatikan bagaimana seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, atau sebaliknya. Ia akan rela berkorban melakukan apapun demi yang dicinta. Ia akan rela berjuang menempuh jarak sejauh mana pun demi yang terdamba. Mengapa bisa demikian? Jawabannya sederhana, karena ia telah meletakkan sang pujaan hati pada jiwanya. Namanya telah melekat erat pada hati. Pengorbanan jiwa, raga, harta dan segalanya siap diberikan asal yang dicinta tetap mencintai.

Perubahan perilaku akan terlihat. Makanan favorit, warna kesukaan, bahkan sampai hobi yang semenjak lahir ia tekuni pun bisa tergantikan, dikarenakan mengekor pada yang dicinta. Terus terang, demikianlah cinta sejati. Cepat atau lambat akan menyocoki sosok yang dicintai.

Begitulah seharusnya kita, bahkan lebih dari itu, ketika mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, kita harus rela berkorban, bukan hanya dengan harta, namun juga jiwa nan raga. Ini bukan sesuatu yang berlebihan, karena memang pantas bagi Allah untuk mendapatkan itu semua, atas segala hal yang telah Dia berikan kepada kita. Justru jika dengan skala perbandingan, tidaklah cukup pengorbanan kita untuk membalas segala kebaikan yang telah Dia berikan. Meski pada hakekatnya, Dia tidaklah butuh dengan apapun, karena yang kita anggap “apapun” itulah yang sejatinya butuh kepada-Nya.

Atas dasar cinta, semua akan dimudahkan. Atas dasar cinta, segala harapan terkabulkan.

Perhatikan hadis Qudsi berikut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وما يَزالُ عَبدي يَتَقَرَّبُ إليَّ بالنَّوافِلِ حتّى أُحِبَّه، فإذا أحبَبتُه كُنتُ سَمعَه الذي يَسمَعُ به، وبَصَرَه الذي يُبصِرُ به، ويَدَه التي يَبطِشُ بها، ورِجلَه التي يَمشي بها، وإن سَألَني لَأُعطيَنَّه، ولَئِنِ استَعاذَني لَأُعيذَنَّه …

“Apabila hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, maka Aku pun akan mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan membimbing pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku juga akan membimbing penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku juga akan membimbing tangannya yang ia gunakan untuk bertindak, dan Aku juga akan membimbing kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkan permintaannya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya….”[1]

Hadis di atas menunjukkan, bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan membimbing hamba tersebut di jalan kebenaran. Hijrahnya benar-benar di atas bashirah, bukan sekadar sangkaan. Ilmunya kuat nan kokoh tanpa ada keraguan.

Dalam masalah cinta ini, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memiliki perkataan yang sangat indah. Berikut untaiannya:

“Sungguh, kecintaan kepada Allah merupakan sumber kehidupan bagi hati, bekal makanan bagi ruh. Tidak ada kelezatan yang paling lezat, kenikmatan yang paling nikmat, kesenangan yang paling menyenangkan dan kehidupan lain bagi hati, melainkan dengan kecintaan tersebut.

Apabila hati kehilangan rasa cinta kepada Allah, maka rasa sakit yang dirasakan jiwa lebih pedih dan lebih besar kerugiannya daripada penyakit yang menimpa mata ketika sudah tidak lagi bisa melihat. Lebih besar pula kerugiannya daripada penyakit yang menimpa telinga ketika sudah tidak bisa lagi mendengar. Lebih besar pula kerugiannya daripada penyakit yang menimpa hidung ketika sudah tidak bisa lagi mencium aroma. Lebih besar pula kerugiannya daripada penyakit yang menimpa lidah ketika sudah tidak bisa lagi berbicara.

Bahkan, kerusakan yang diakibatkan karena kekosongan hati dari Pencipta, jauh lebih besar daripada kerusakan yang dialami tubuh ketika sudah ditinggal oleh ruh yang ada di dalamnya.

Masalah seperti ini tidak akan dipercayai melainkan oleh orang yang hatinya masih hidup. Adapun orang yang hatinya telah mati, maka tidak akan bisa merasakannya sedikit pun.”[2]

Beliau rahimahullah juga mengatakan:

“Kecintaan pada Allah merupakan sebab yang paling kuat untuk menghadirkan sifat sabar dalam menghadapi godaan untuk berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya, karena orang yang mencintai akan taat kepada yang dicintainya. Setiap kali kecintaan itu bertambah kuat dalam hati, maka akan semakin kuatlah kemampuannya untuk menunaikan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Kemaksiatan dan penyimpangan hanyalah akan terjadi akibat lemahnya kecintaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, seorang hamba yang meninggalkan kemaksiatan karena rasa takut terhadap ancaman dan balasan yang akan ditimpakan oleh tuannya, berbeda halnya dengan seorang hamba yang meninggalkan kemaksiatan karena didorong oleh rasa cinta dalam hatinya.”[3]

Beliau rahimahullah juga menyampaikan:[4]

“Seorang hamba yang benar-benar mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia akan senantiasa merasa diawasi oleh Kekasihnya yang selalu melindungi hati dan anggota tubuhnya. Menetapnya perasaan diawasi dan dilindungi inilah merupakan ciri dari kebenaran cintanya terhadap Allah.”

Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H

Sumber:
[1] HR. Al-Bukhari, no. 6502. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[2] Al-Jawaab al-Kaafii, hal. 541–542; at-Taubah Wazhiifah al-‘Umur, hal. 198.
[3] Thariiq al-Hijratain, hal. 449; at-Taubah Wazhiifah al-‘Umur, hal. 198–199.
[4] At-Taubah Wazhiifah al-‘Umur, hal. 199.

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
BEKAL HIJRAH PART 1

May 1, 2026/

JAKARTA – Bekal hijrah sering kali menjadi hal yang terlupakan ketika seseorang ingin berubah menjadi lebih...

Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id