2 SYARAT MUTLAK DITERIMANYA AMAL IBADAH DALAM ISLAM

2 SYARAT MUTLAK DITERIMANYA AMAL IBADAH DALAM ISLAM

JAKARTA – Diterimanya amal ibadah merupakan harapan terbesar setiap muslim ketika beribadah kepada Allah Ta’ala. Sebab, banyaknya amal belum tentu bernilai di sisi-Nya apabila tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan dalam syariat. Oleh karena itu, setiap muslim perlu memahami dua syarat utama yang menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu ibadah, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, dan para ulama.

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ.

Setiap muslim tentu menginginkan amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Namun, diterimanya amal ibadah dalam Islam tidak cukup hanya dengan semangat beribadah atau banyaknya amalan yang dilakukan. Syariat telah menetapkan bahwa setiap ibadah harus memenuhi dua syarat utama. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka amal tersebut tidak diterima di sisi Allah dan tidak bernilai pahala.

SYARAT PERTAMA DITERIMANYA AMAL IBADAH: IKHLAS KARENA ALLAH TA’ALA

Makna ikhlas adalah seorang hamba meniatkan seluruh ucapan dan perbuatannya, baik yang lahir maupun yang batin, semata-mata untuk mengharap rida dan wajah Allah Ta’ala, bukan demi pujian manusia, popularitas, ataupun keuntungan duniawi.

Dalil-dalil tentang Ikhlas

Allah Ta’ala berfirman:

QS. Al-Bayyinah: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”

QS. Al-Lail: 19-20

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى ۝ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى

“Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.”

QS. Al-Insan: 9

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih.”

QS. Asy-Syura: 20

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, niscaya Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, namun di akhirat ia tidak memperoleh bagian apa pun.”

QS. Hud: 15-16

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh selain neraka. Gugurlah segala amal yang telah mereka kerjakan dan sia-sialah apa yang dahulu mereka lakukan.”

Hadis

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari, no. 1).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan lalu ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim, no. 2985).

SYARAT KEDUA DITERIMANYA AMAL IBADAH: MUTABA’AH (MENGIKUTI SYARIAT NABI ﷺ)

Syarat kedua adalah kesesuaian amal tersebut dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Artinya, setiap ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan kebiasaan, akal, ataupun membuat tata cara ibadah baru (bid’ah).

Dalil-dalil tentang Mutaba’ah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718).

Beliau ﷺ juga bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2676; disahihkan oleh Al-Albani).

Penjelasan Para Ulama

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“Hadis ini merupakan salah satu landasan besar dalam Islam. Hadis ini menjadi timbangan untuk menilai lahiriah suatu amalan, sebagaimana hadis ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niat’ menjadi timbangan bagi batiniah amalan. Sebagaimana amal yang tidak diniatkan untuk Allah tidak berpahala, demikian pula amal yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya akan tertolak. Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu bukan bagian dari agama sedikit pun.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, 1/176).

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Allah menjadikan ikhlas dan mutaba’ah sebagai sebab diterimanya amal. Apabila keduanya hilang, maka amal tersebut tidak akan diterima.”

(Ar-Ruh, 1/135).

Tafsir Fudhail bin ‘Iyadh tentang “Amal Terbaik”

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2).

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “paling baik amalnya” ialah:

“Yang paling ikhlas dan yang paling benar (sesuai sunnah).”

Kesimpulan

Dua syarat diterimanya amal ibadah tidak boleh dipisahkan. Ikhlas menjadi penentu bersihnya niat dan hati dalam beribadah kepada Allah, sedangkan mutaba’ah menjadi penentu benarnya tata cara ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Keduanya ibarat dua sayap seekor burung. Burung tidak akan mampu terbang jika salah satu sayapnya patah. Demikian pula seorang hamba, amalnya tidak akan diterima di sisi Allah kecuali apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Wabillahi taufiq.

Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id