JAKARTA – Tidak disyariatkan mengusap leher saat wudhu merupakan salah satu perkara yang perlu dipahami oleh setiap muslim. Sebab, masih ada anggapan di tengah masyarakat bahwa mengusap leher merupakan bagian dari tata cara wudhu yang sempurna, padahal amalan tersebut tidak memiliki landasan dari Rasulullah ﷺ. Perlu diketahui bahwa tidak disyariatkan mengusap leher saat wudhu karena leher bukan termasuk bagian kepala yang diperintahkan untuk diusap. Tata cara wudhu adalah ibadah yang bersifat tauqifiyyah, yaitu harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ tanpa menambah ataupun mengurangi. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Leher itu tidak termasuk bagian dari kepala, jadi tidak perlu diusap. Bahkan, mengusap leher bersamaan dengan mengusap kepala termasuk perkara baru (bid’ah) yang dilarang. Alasan utamanya karena Nabi ﷺ dahulu tidak pernah mengusap leher beliau saat berwudhu. Dan segala sesuatu yang dijadikan sarana ibadah oleh manusia padahal tidak ada dasar (dalil) aslinya dari Nabi ﷺ, maka hal tersebut statusnya adalah bid’ah.” Penjelasan beliau menunjukkan bahwa tidak disyariatkan mengusap leher saat wudhu, sekalipun sebagian orang menganggapnya sebagai penyempurna wudhu. Justru, menambahkan tata cara ibadah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah ﷺ termasuk perkara yang harus dihindari. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim berusaha mencukupkan diri dengan tata cara wudhu yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Dengan demikian, tidak disyariatkan mengusap leher saat wudhu menjadi salah satu pemahaman penting agar ibadah yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan sunnah beliau. Diterjemahkan oleh: Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H. Referensi: Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, jilid 2, hlm. 7. https://www.youtube.com/watch?v=SLoWQiK_96E
TIDAK WAJIB ISTINJA (CEBOK) DI SETIAP KALI MAU WUDHU
JAKARTA – Tidak wajib istinja setiap kali hendak berwudhu merupakan hukum yang masih sering disalahpahami oleh sebagian kaum muslimin. Sebagian orang mengira bahwa setiap kali ingin mengambil wudhu, ia harus mengulang istinja (cebok), padahal anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Perlu dipahami bahwa tidak wajib istinja apabila tidak ada najis yang keluar dari qubul maupun dubur. Istinja hanya disyariatkan untuk menghilangkan najis setelah buang air kecil, buang air besar, atau keluarnya najis lainnya. Jika seseorang telah beristinja setelah buang hajat, kemudian beberapa jam berikutnya hendak berwudhu tanpa ada lagi najis yang keluar, maka ia cukup berwudhu tanpa perlu mengulang istinja. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Anggapan sebagian orang awam bahwa kita wajib cebok (istinja) setiap kali hendak mengambil wudhu, hal itu sama sekali tidak memiliki dalil.” Beliau juga menjelaskan, “Sebagian orang awam mengira bahwa cebok merupakan satu paket yang harus selalu menyertai wudhu. Sampai-sampai jika ada seseorang buang air kecil pada pagi hari, kemudian ketika masuk waktu Zuhur ia hendak berwudhu, ia sengaja cebok lagi, padahal sejak pagi tidak ada lagi najis atau kotoran yang keluar. Ini adalah anggapan yang keliru dan tidak memiliki dasar. Kesalahan tersebut muncul karena ketidaktahuan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim mempelajari hukum-hukum agamanya agar dapat beribadah kepada Allah dengan benar.” Penjelasan ini menunjukkan bahwa tidak wajib istinja setiap kali hendak berwudhu. Yang diwajibkan adalah menghilangkan najis ketika memang ada najis yang keluar, sedangkan wudhu merupakan ibadah tersendiri yang tidak selalu harus didahului dengan istinja. Dengan memahami hukum ini, kaum muslimin diharapkan dapat beribadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dan tidak memberatkan diri dengan sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh syariat. Singkatnya, tidak wajib istinja sebelum setiap wudhu apabila tidak ada najis yang harus dibersihkan. Diterjemahkan oleh: Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H. Referensi: Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, jilid 2, hlm. 7. Raf’ul Jahl fi Bayani Ma Laisa Lahu Ashl, karya Dr. Ibrahim bin Fahd al-Hawwas, hlm. 6. https://www.youtube.com/watch?v=CciAP8TuBQY&pp=0gcJCU8LAYcqIYzv
ENAM PRINSIP PENTING YANG HARUS DIKETAHUI OLEH WANITA
(Diambil dari kitab Takriimul Islaam lil Mar’ah karya asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah)) JAKARTA – Enam prinsip penting yang harus diketahui oleh wanita merupakan fondasi yang harus dipahami oleh setiap muslimah agar dapat meraih kemuliaan, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Prinsip-prinsip ini diambil dari intisari penjelasan para ulama yang menjelaskan bahwa kehormatan seorang wanita tidak ditentukan oleh pandangan manusia, melainkan oleh sejauh mana ia berpegang teguh kepada syariat Allah, menaati perintah-Nya, mewaspadai musuh-musuh agama, menggantungkan harapan hanya kepada-Nya, serta menjadikan takwa sebagai jalan menuju kemuliaan yang hakiki. Seorang muslim maupun muslimah yang ingin meraih kedudukan yang mulia wajib memahami beberapa prinsip penting dan aturan yang agung. Dengan mengetahui dan mengamalkannya, ia akan memperoleh kemuliaan yang hakiki, kenikmatan yang sempurna, serta kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat. Prinsip-prinsip pentingtersebut adalah sebagai berikut: Pertama: Meyakini bahwa Hukum Allah adalah Hukum yang Paling Sempurna Seorang hamba harus memiliki keyakinan yang kokoh bahwa aturan dan hukum yang paling baik, paling lurus, paling sempurna, serta paling indah adalah hukum Allah, Rabb semesta alam sekaligus Pencipta seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman, ﴿ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗاَمَرَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ﴾ “Ketetapan (hukum yang benar) itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40) Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ﴾ “Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50) Allah Ta’ala berfirman, ﴿ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ ﴾ “Dia (Allah) adalah Hakim yang terbaik.” Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ﴾ “Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin: 8) Dan Allah Ta’ala berfirman, ﴿ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ﴾ “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 59) Kedua: Kemuliaan Berbanding Lurus dengan Ketaatan Seorang hamba harus menyadari bahwa kebahagiaan dan kehormatan hidupnya sangat bergantung pada kadar ketaatan kepada Rabb-nya dan kepatuhan terhadap syariat-Nya. Semakin besar ketaatan seseorang, semakin besar pula kebahagiaan yang akan diraihnya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman, ﴿ اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ﴾ “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31) Allah Ta’ala juga berfirman dalam kisah seorang mukmin pada Surah Yasin, ﴿ اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِ قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَ بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ ﴾ “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabb kalian, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” Lalu dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” Ia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Rabb-ku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا ﴾ “Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10) Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا … يَهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ… ﴾ “Sungguh telah datang kepada kalian Rasul Kami … Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan keselamatan…” (QS. Al-Ma’idah: 15-16) Ketiga: Menyadari Banyaknya Musuh yang Menginginkan Kehinaan Kaum Muslimin Seorang muslim harus sadar bahwa kehidupan di dunia dipenuhi berbagai musuh yang ingin merusak kehormatan, kemuliaan, dan kebahagiaan kaum muslimin. Musuh terbesar adalah setan. Ia adalah musuh Allah, musuh agama Islam, sekaligus musuh seluruh orang yang beriman. Setan sangat membenci kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang beriman sehingga ia bertekad menyesatkan manusia dari segala arah. Allah Ta’ala berfirman, ﴿ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ … وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا ﴾ “Perdayakanlah siapa saja yang mampu engkau perdaya… dan tidaklah setan menjanjikan kepada mereka selain tipu daya.” (QS. Al-Isra’: 61-64) Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا ﴾ “Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian. Maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6) Karena itu, setiap muslim dan muslimah wajib selalu waspada terhadap tipu daya setan dan seluruh pihak yang berusaha menjauhkan mereka dari agama Allah. Keempat: Meyakini Bahwa Kemuliaan Berada di Tangan Allah Seorang hamba harus yakin bahwa taufik, kemudahan, kelurusan hidup, dan kemuliaan semuanya berada di tangan Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, ﴿ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍ ﴾ “Barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya.” (QS. Al-Hajj: 18) Karena itu, setiap muslim hendaknya memperbaiki hubungannya dengan Allah dan senantiasa memohon kemuliaan hanya kepada-Nya. Di antara doa yang selalu dibaca Rasulullah ﷺ adalah, اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير، واجعل الموت راحة لي من كل شر. “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga seluruh urusanku. Perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.” (HR. Muslim no. 272) Kelima: Menjadikan Takwa sebagai Jalan Meraih Kemuliaan Cita-cita terbesar seorang muslim adalah menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Kemuliaan yang sejati hanya dapat diraih melalui ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman, ﴿ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ﴾ “Mereka berada di dalam surga dalam keadaan dimuliakan.” (QS. Al-Ma’arij: 35) Allah Ta’ala juga berfirman, ﴿ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ﴾ “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika ditanya siapakah manusia yang paling mulia, أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ “Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bertakwa.” (HR. Al-Bukhari no. 3374) Karena itu, siapa saja yang mencari kemuliaan selain melalui jalan takwa, maka ia hanya mengejar fatamorgana dan akan berakhir pada kerugian. Keenam: Meyakini Kesempurnaan Syariat Allah bagi Wanita Seorang hamba, terlebih seorang wanita, wajib meyakini bahwa seluruh syariat Allah yang mengatur kehidupannya merupakan aturan yang paling sempurna, paling adil, dan paling bijaksana.