ENAM PRINSIP PENTING YANG HARUS DIKETAHUI OLEH WANITA

HUKUM SEORANG WANITA MENEMUI SUPIR/ART LAKI-LAKI WANITA YANG SENANG PERGI KE PASAR TANPA KEPERLUAN ENAM PRINSIP PENTING YANG HARUS DIKETAHUI OLEH WANITA

(Diambil dari kitab Takriimul Islaam lil Mar’ah karya asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah))

JAKARTA – Enam prinsip penting yang harus diketahui oleh wanita merupakan fondasi yang harus dipahami oleh setiap muslimah agar dapat meraih kemuliaan, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Prinsip-prinsip ini diambil dari intisari penjelasan para ulama yang menjelaskan bahwa kehormatan seorang wanita tidak ditentukan oleh pandangan manusia, melainkan oleh sejauh mana ia berpegang teguh kepada syariat Allah, menaati perintah-Nya, mewaspadai musuh-musuh agama, menggantungkan harapan hanya kepada-Nya, serta menjadikan takwa sebagai jalan menuju kemuliaan yang hakiki.

Seorang muslim maupun muslimah yang ingin meraih kedudukan yang mulia wajib memahami beberapa prinsip penting dan aturan yang agung. Dengan mengetahui dan mengamalkannya, ia akan memperoleh kemuliaan yang hakiki, kenikmatan yang sempurna, serta kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat.

Prinsip-prinsip pentingtersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Meyakini bahwa Hukum Allah adalah Hukum yang Paling Sempurna

Seorang hamba harus memiliki keyakinan yang kokoh bahwa aturan dan hukum yang paling baik, paling lurus, paling sempurna, serta paling indah adalah hukum Allah, Rabb semesta alam sekaligus Pencipta seluruh makhluk.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗاَمَرَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ﴾

“Ketetapan (hukum yang benar) itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ﴾

“Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ ﴾

“Dia (Allah) adalah Hakim yang terbaik.”

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ﴾

“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin: 8)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

﴿ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ﴾

“Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 59)

Kedua: Kemuliaan Berbanding Lurus dengan Ketaatan

Seorang hamba harus menyadari bahwa kebahagiaan dan kehormatan hidupnya sangat bergantung pada kadar ketaatan kepada Rabb-nya dan kepatuhan terhadap syariat-Nya. Semakin besar ketaatan seseorang, semakin besar pula kebahagiaan yang akan diraihnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ﴾

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa’: 31)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam kisah seorang mukmin pada Surah Yasin,

﴿ اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِ ۝ قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَ ۝ بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ ﴾

“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabb kalian, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.” Lalu dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” Ia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Rabb-ku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا ﴾

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا … يَهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ… ﴾

“Sungguh telah datang kepada kalian Rasul Kami … Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan keselamatan…” (QS. Al-Ma’idah: 15-16)

Ketiga: Menyadari Banyaknya Musuh yang Menginginkan Kehinaan Kaum Muslimin

Seorang muslim harus sadar bahwa kehidupan di dunia dipenuhi berbagai musuh yang ingin merusak kehormatan, kemuliaan, dan kebahagiaan kaum muslimin.

Musuh terbesar adalah setan. Ia adalah musuh Allah, musuh agama Islam, sekaligus musuh seluruh orang yang beriman. Setan sangat membenci kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang beriman sehingga ia bertekad menyesatkan manusia dari segala arah.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ … وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا ﴾

“Perdayakanlah siapa saja yang mampu engkau perdaya… dan tidaklah setan menjanjikan kepada mereka selain tipu daya.” (QS. Al-Isra’: 61-64)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا ﴾

“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian. Maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)

Karena itu, setiap muslim dan muslimah wajib selalu waspada terhadap tipu daya setan dan seluruh pihak yang berusaha menjauhkan mereka dari agama Allah.

Keempat: Meyakini Bahwa Kemuliaan Berada di Tangan Allah

Seorang hamba harus yakin bahwa taufik, kemudahan, kelurusan hidup, dan kemuliaan semuanya berada di tangan Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍ ﴾

“Barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya.” (QS. Al-Hajj: 18)

Karena itu, setiap muslim hendaknya memperbaiki hubungannya dengan Allah dan senantiasa memohon kemuliaan hanya kepada-Nya.

Di antara doa yang selalu dibaca Rasulullah ﷺ adalah,

اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير، واجعل الموت راحة لي من كل شر.

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga seluruh urusanku. Perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.” (HR. Muslim no. 272)

Kelima: Menjadikan Takwa sebagai Jalan Meraih Kemuliaan

Cita-cita terbesar seorang muslim adalah menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Kemuliaan yang sejati hanya dapat diraih melalui ketakwaan.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ﴾

“Mereka berada di dalam surga dalam keadaan dimuliakan.” (QS. Al-Ma’arij: 35)

Allah Ta’ala juga berfirman,

﴿ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ﴾

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika ditanya siapakah manusia yang paling mulia,

أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ

“Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bertakwa.” (HR. Al-Bukhari no. 3374)

Karena itu, siapa saja yang mencari kemuliaan selain melalui jalan takwa, maka ia hanya mengejar fatamorgana dan akan berakhir pada kerugian.

Keenam: Meyakini Kesempurnaan Syariat Allah bagi Wanita

Seorang hamba, terlebih seorang wanita, wajib meyakini bahwa seluruh syariat Allah yang mengatur kehidupannya merupakan aturan yang paling sempurna, paling adil, dan paling bijaksana.

Tidak ada sedikit pun kekurangan, ketidakadilan, maupun kekeliruan di dalam syariat-Nya. Sebab, aturan tersebut berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Adil.

Oleh karena itu, termasuk dosa besar apabila seseorang menuduh syariat Allah—khususnya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita—sebagai aturan yang zalim, tidak adil, atau tidak relevan. Ucapan seperti itu menunjukkan kurangnya pengagungan kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

﴿ مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلّٰهِ وَقَارًا ﴾

“Mengapa kalian tidak mengagungkan kebesaran Allah?” (QS. Nuh: 13)

Mengagungkan Allah diwujudkan dengan menerima syariat-Nya, menaati perintah-Nya, dan meyakini bahwa seluruh aturan-Nya mengandung keselamatan, kemuliaan, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Seluruh prinsip di atas merupakan fondasi penting yang wajib dipahami oleh setiap muslim dan muslimah. Dengan berpegang teguh kepadanya, seorang hamba akan mengetahui di mana letak kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu dalam keimanan, ketakwaan, dan ketundukan kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diterjemahkan oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id