JAKARTA – Ucapan ketika iqamah berupa “Aqaamahallaahu wa adaamahaa” sudah dikenal oleh sebagian kaum muslimin. Namun, bagaimana sebenarnya kedudukan bacaan tersebut? Apakah memang ada dalil yang mendasarinya atau tidak? Berikut penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Mengenai ucapan makmum ketika iqamah, ‘Aqaamahallaahu wa adaamahaa’ (semoga Allah menegakkan salat ini dan mengekalkannya), memang ada riwayatnya dalam hadis Rasulullah ﷺ. Sebagian ahli ilmu menilai hadis tersebut dhaif (lemah), sedangkan sebagian yang lain menilainya hasan (cukup baik). Oleh karena itu, jika seseorang mengucapkannya maka tidak mengapa (boleh), dan jika dia meninggalkannya (tidak mengucapkannya) pun tidak mengapa.” Sumber: Fatawa Nuur ‘alad Darb (Jilid 7, hlm. 2). Rof’ul Jahl fii Bayaan maa Laisa lahul Ashl, karya Dr. Ibrahim bin Fahd al-Hawwas, hlm. 14. Teks Fatwa قول المأموم عند الإقامة أقامها الله وأدامها قال رحمه الله: “قول المأموم عند الإقامة أقامها الله وأدامها هذا قد روي فيه حديث عن رسول الله ﷺ ضعفه بعض أهل العلم وحسنه بعضهم فإذا قالها الإنسان فلا حرج وإن ترك ذلك فلا حرج”. Alih Bahasa:Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H https://www.youtube.com/watch?v=TuJBtbbaNMQ
YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH MUAZIN KETIKA MENGUCAPKAN “HAYYA ‘ALASH SHALAH/FALAH”
JAKARTA – Hayya ‘alash shalah/falah merupakan bagian dari lafaz azan yang tata cara pengucapannya telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang muazin hendaknya berhati-hati agar tidak menambah atau mengubah tata cara yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah cara memalingkan wajah ketika mengucapkan lafaz tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dalam penjelasan berikut. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah mengatakan, “Perbuatan yang dilakukan oleh sebagian muazin, yaitu mengucapkan kalimat ‘Hayya ‘ala…’ sambil tetap menghadap kiblat, baru setelah itu dia menengok (memalingkan wajah), itu tidak ada dasar dalilnya (tidak ada tuntunannya). Contoh yang mirip dengan itu adalah dalam masalah salam (di akhir salat). Sebagian imam mengucapkan ‘Assalamu ‘alaikum’ sebelum menengok, lalu baru mengucapkan ‘wa rahmatullah’ ketika mulai menengok. Perbuatan ini maupun itu, kedua-duanya tidak ada dasar dalilnya.” Sumber: Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadul Mustaqni’ (Jilid 2, hlm. 60). Majmu’ Fatawa wa Rasa-il Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (Jilid 12, hlm. 175). Rof’ul Jahl fii Bayaan maa Laisa lahul Ashl, karya Dr. Ibrahim bin Fahd al-Hawwas, hlm. 14. Teks Fatwa استقبال القبلة عند «حيَّ على الصلاة» ثم الالتفات قال رحمه الله: “وما يفعله بعض المؤذِّنين أنَّه يقول: «حيَّ على» مستقبل القبلة ثم يلتفت، لا أصل له. ومثلها التَّسليم، فإن بعض الأئمة يقول: السَّلام عليكم قبل أن يلتفت، ثم يقول: ورحمة الله حين يلتفت، ولا أصل لهذا ولا لهذا.” Alih Bahasa:Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H https://www.youtube.com/watch?v=lwalbN-OTQ8
RAGU TIDURNYA PULAS ATAU TIDAK, APAKAH MEMBATALKAN WUDHU?
JAKARTA – Membatalkan wudhu sering menjadi perkara yang membuat sebagian muslim diliputi keraguan, terutama ketika merasa sempat tertidur sejenak namun tidak yakin apakah tidurnya benar-benar pulas atau hanya sekadar mengantuk. Pendahuluan Dalam ibadah sehari-hari, seorang muslim sering kali dihadapkan pada rasa ragu mengenai status kesuciannya (thaharah). Salah satu keraguan yang sering muncul adalah, “Apakah wudhu saya batal jika saya merasa ragu telah buang angin atau sempat tertidur pulas?” Secara prinsip dasar syariat, ketika seorang muslim telah berwudhu dengan yakin, maka wudhunya tidak boleh dihukumi batal kecuali jika terdapat keyakinan yang pasti bahwa telah terjadi salah satu perkara yang membatalkan wudhu. Sekadar keraguan, bahkan meskipun terasa cukup kuat, tidak dapat menghilangkan status wudhu yang telah diyakini sebelumnya. Artikel ini akan mengulas kaidah fikih yang agung tersebut beserta penerapannya pada kasus tidur yang masih diragukan. Landasan Hadis Nabawi dan Kaidah Emas Fikih Prinsip dasar ini disandarkan pada petunjuk Rasulullah ﷺ ketika para sahabat mengadukan kondisi seseorang yang merasa seolah-olah telah berhadas ketika sedang shalat. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa seseorang diadukan kepada Nabi ﷺ karena merasa seakan-akan telah berhadas di dalam shalatnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا، أَوْ يَجِدَ رِيحًا “Janganlah ia membatalkan shalatnya sampai ia mendengar suara atau mendapati baunya.” Referensi: HR. Al-Bukhari, no. 137 dan Muslim, no. 361. Penjelasan dan Pandangan Para Ulama 1. Analisis Makna Hadis Menurut Imam An-Nawawi Imam An-Nawawi rahimahullah memberikan ulasan mendalam mengenai hadis di atas dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim: Makna Hakiki: Kalimat “sampai mendengar suara atau mendapati bau” esensinya adalah seseorang mengetahui secara yakin adanya salah satu dari keduanya. Berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama, tidak disyaratkan harus benar-benar terdengar telinga atau tercium hidung secara fisik, melainkan penekanannya adalah pada aspek keyakinan. Pilar Kaidah Fikih: Hadis ini merupakan fondasi utama dari pilar-pilar Islam dan sebuah kaidah fikih yang sangat agung (Al-Yaqinu La Yazulu Bis-Syak), yaitu: “Segala sesuatu dihukumi tetap berada pada hukum asalnya sampai diyakini ada perubahan yang menyelisihi hal tersebut, dan keraguan yang baru datang tidaklah memengaruhi hukum asal tersebut.” Lebih lanjut, beliau menegaskan cakupan hukum keraguan ini: وَلَا فَرْق بَيْن حُصُول هَذَا الشَّكّ فِي نَفْس الصَّلَاة , وَحُصُوله خَارِج الصَّلَاة . هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب جَمَاهِير الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف . قَالَا أَصْحَابنَا : وَلَا فَرْق فِي الشَّكّ بَيْن أَنْ يَسْتَوِي الِاحْتِمَالَانِ فِي وُقُوع الْحَدَث وَعَدَمه , أَوْ يَتَرَجَّح أَحَدهمَا , أَوْ يَغْلِب عَلَى ظَنّه , فَلَا وُضُوء عَلَيْهِ بِكُلِّ حَال “Tidak ada perbedaan dalam penerapan keraguan ini, baik terjadinya di dalam shalat maupun di luar shalat. Ini adalah mazhab kami (Syafi’i) dan mazhab mayoritas ulama dari kalangan salaf (terdahulu) maupun khalaf (kontemporer). Para sahabat kami berkata: Dalam masalah keraguan ini, tidak ada perbedaan apakah kedua kemungkinan (antara batal dan tidak) itu sama kuatnya, atau salah satunya lebih kuat, atau bahkan condong pada dugaannya yang kuat; dalam semua kondisi tersebut, dia tidak wajib berwudhu kembali.” Referensi: Syarh Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi. 2. Penerapan Kasus: Keraguan pada Tingkat Kenyenyakan Tidur Kaidah besar di atas langsung diterapkan pada masalah tidur yang dialami seseorang. Apabila seseorang mengantuk atau tertidur, lalu muncul keraguan: Apakah tidurnya tadi tergolong tidur lelap/nyenyak yang membatalkan wudhu, ataukah hanya sekadar kantuk ringan? Maka dalam kondisi seperti ini, wudhunya tetap dianggap sah dan tidak batal, karena kondisi asal tubuhnya adalah suci dan belum ada bukti yakin yang membatalkannya. Terkait hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan dalam fatwanya: النَّوْمُ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ : هَلْ حَصَلَ مَعَهُ رِيحٌ أَمْ لَا ؟ لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ ، لِأَنَّ الطَّهَارَةَ ثَابِتَةٌ بِيَقِينِ ، فَلَا تَزُولُ بِالشَّكِّ “Tidur yang diragukan: apakah telah menyebabkan keluarnya buang angin atau tidak, maka hal itu tidak membatalkan wudhu. Karena status suci (thaharah) telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka ia tidak dapat dihilangkan oleh sekadar keraguan.” Referensi: Majmu’ al-Fatawa (21/394). Kesimpulan Syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan dan ketenangan jiwa. Berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama, keraguan—dengan segala tingkatannya—tidak berkuasa meruntuhkan keyakinan awal. Selama seseorang yakin telah berwudhu, ia tetap berada dalam keadaan suci hingga ia benar-benar yakin 100% bahwa ia telah berhadas (seperti mendengar suara atau mencium bau buang angin yang pasti). Kaidah ini sangat efektif untuk mengikis penyakit waswas (keraguan yang berlebihan) dalam beribadah. Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/111837/اذا-شك-هل-كان-نومه-مستغرقاً-ام-لا-فهل-ينتقض-وضووه?topic-reference=55 Disarikan Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila https://www.youtube.com/watch?v=CciAP8TuBQY