JAKARTA – Takbiratul ihram bersama imam merupakan salah satu keutamaan besar dalam salat berjemaah yang sering diremehkan banyak orang. Padahal, para ulama salaf sangat menjaga amalan ini hingga tidak rela tertinggal takbir pertama bersama imam meski hanya sekali. Mendapati takbir pertama bukan sekadar datang ke masjid lebih awal, tetapi juga menunjukkan kesungguhan seorang muslim dalam menjaga ibadah dan adabnya terhadap salat berjemaah.
1. Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du:
Di antara perkara yang sangat dianjurkan (mustahab) dalam syariat Islam adalah mendapati takbiratul ihram bersama imam dalam salat berjemaah. Terdapat banyak nas (dalil) dan atsar yang menjelaskan keutamaan amal ini.
2. Dalil dan Atsar tentang Keutamaan Takbiratul Ihram
2.1 Dalil Hadis Nabawi
Di antara dalil utama mengenai keutamaan ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ : بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ ، وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
Terjemahan:
“Barangsiapa yang salat karena Allah selama empat puluh hari secara berjemaah dengan mendapati takbir pertama, maka ditulis baginya dua kebebasan: kebebasan dari api neraka, dan kebebasan dari sifat kemunafikan.”
Referensi: HR. Tirmidzi (No. 241).
Status Hadis:
Hadis ini diriwayatkan secara mauquf (perkataan sahabat) pada Anas bin Malik dan juga secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi). Imam Tirmidzi dan Ad-Daraquthni lebih menguatkan statusnya sebagai mauquf, namun Syekh Al-Albani memilih untuk menghasankannya secara marfu’.
Baik berstatus marfu’ maupun mauquf, riwayat ini tetap dihukumi marfu’ (memiliki hukum dari Nabi), karena perkara gaib seperti ini tidak mungkin diucapkan oleh sahabat Anas bin Malik dari ijtihad pribadinya sendiri, sehingga jelas bahwa dia mengetahuinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Terdapat pula hadis-hadis marfu’ lainnya mengenai keutamaan takbiratul ihram, namun sanadnya tidak lepas dari kelemahan (Lihat: Majma’ az-Zawaid 2/123, At-Talkhis Al-Habir 2/27).
2.2 Atsar (Perkataan/Sikap) Ulama Salaf
Adapun riwayat dari para ulama salaf mengenai kesungguhan mereka dalam menjaga takbiratul ihram sangatlah banyak, di antaranya:
1. Riwayat Mujahid (Terkait Sahabat Ahli Badar)
Dari Mujahid, dia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang setahuku adalah alumni Perang Badar—berkata kepada putranya:
“Apakah engkau salat bersama kami?”
Putranya menjawab:
“Ya.”
Dia bertanya lagi:
“Apakah engkau mendapati takbir pertama?”
Putranya menjawab:
“Tidak.”
Dia lantas berkata:
لَمَا فاتك منها خير من مئة ناقة كلها سود العين
Terjemahan:
“Sungguh, apa yang luput darimu dari takbir tersebut lebih baik daripada seratus ekor unta yang semuanya bermata hitam.”
Referensi: Mushannaf Abdurrazzaq (No. 2021).
2. Perkataan Sa’id bin al-Musayyib
ما فاتتني التكبيرة الأولى منذ خمسين سنة
Terjemahan:
“Takbir pertama tidak pernah luput dariku sejak lima puluh tahun yang lalu.”
Referensi: Hilyatul Awliya’ (2/163).
3. Perkataan Waki’ tentang Al-A’masy
كان الأعمش قريبا من سبعين سنة ، لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من سنتين ، فما رأيته يقضي ركعة
Terjemahan:
“Al-A’masy selama hampir tujuh puluh tahun tidak pernah luput dari takbir pertama, dan aku bolak-balik menemuinya selama hampir dua tahun, tidak pernah sekalipun aku melihatnya mengqada (menambah) rakaat.”
Referensi: Musnad Ibnu Al-Ja’d (No. 755).
4. Perkataan Ibrahim An-Nakha’i
إذا رأيت الرجل يتهاون في التكبيرة الأولى فاغسل يدك منه
Terjemahan:
“Jika engkau melihat seseorang meremehkan takbir pertama, maka cucilah tanganmu darinya [maksudnya: tidak ada kebaikan padanya].”
Referensi: Hilyatul Awliya’ (4/215).
5. Perkataan Waki’ bin Al-Jarrah (Riwayat Yahya bin Ma’in)
Yahya bin Ma’in berkata: Aku mendengar Waki’ berkata:
من لم يدرك التكبيرة الأولى فلا ترج خيره
Terjemahan:
“Barangsiapa yang tidak mendapati takbir pertama, maka janganlah engkau harapkan kebaikannya.”
Referensi: Syu’abul Iman karya Al-Baihaqi (No. 2652).
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyimpulkan:
وَالْمَنْقُولُ عَنْ السَّلَفِ فِي فَضْلِ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى آثَارٌ كَثِيرَةٌ
Terjemahan:
“Riwayat yang dinukil dari kalangan salaf tentang keutamaan takbir pertama sangatlah banyak.”
(At-Talkhis Al-Habir, 2/131).
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh untuk selalu mendapati takbiratul ihram bersama imam.
3. Kriteria Mendapatkan Keutamaan Takbiratul Ihram
Dengan parameter apa seorang makmum dianggap telah mendapatkan keutamaan takbiratul ihram? Para ulama berbeda pendapat dalam beberapa pandangan:
- Pendapat Pertama: Makmum mendapatkan keutamaannya dengan hadir saat imam mengucapkan takbiratul ihram, lalu makmum langsung bertakbir setelahnya tanpa penundaan.
- Pendapat Kedua: Makmum mendapatkannya selama imam belum mulai membaca surah Al-Fatihah.
- Pendapat Ketiga: Makmum mendapatkannya jika ia mendapati imam sebelum selesai membaca surah Al-Fatihah. Ini adalah pendapat Waki’ ketika ditanya batas takbir pertama: “Selama imam belum menutup/menyelesaikan bacaan Fatihatul Kitab.” (Thabaqat Al-Muhadditsin karya Al-Asbahani: 3/219).
- Pendapat Keempat: Keutamaan didapat dengan mendapati posisi berdiri (qiyam) bersama imam, karena berdiri adalah tempat dilakukannya takbiratul ihram.
- Pendapat Kelima: Keutamaan ini tercapai dengan mendapati ruku’ pertama bersama imam. Ini merupakan mazhab Hanafiyah (Lihat: Radd Al-Muhtar 4/131, Al-Fatawa Al-Hindiyyah 3/11, Al-Majmu’ 4/206).
Tarjih (Pendapat yang Kuat): Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah Pendapat Pertama. Ini adalah mazhab mayoritas (jumhur) ulama dari kalangan Syafi’iyah, Hanabilah, dan selainnya.
Berikut adalah penegasan ulama mengenai pendapat pertama:
1. Imam An-Nawawi (Syafi’iyah)
يستحب المحافظة على إدراك التكبيرة الأولى مع الإمام ، وفيما يدركها به أوجه : أصحها بأن يشهد تكبيرة الإمام ويشتغل عقبها بعقد صلاته ، فإن أخر لم يدركها…
Terjemahan:
“Dianjurkan untuk menjaga dan mendapati takbir pertama bersama imam. Tentang bagaimana cara mendapatkannya, ada beberapa pendapat: Yang paling sahih adalah makmum menyaksikan takbir imam dan langsung memulai salatnya setelah imam bertakbir. Jika dia menundanya, maka dia tidak mendapatkannya…”
Referensi: Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin (1/446).
2. Ibnu Rajab Mengutip Imam Ahmad (Hanabilah)
ونص أحمد فِي رِوَايَة إِبْرَاهِيْم بْن الحارث عَلَى أَنَّهُ إذا لَمْ يدرك التكبيرة مَعَ الإمام لَمْ يدرك التكبيرة الأولى
Terjemahan:
“Imam Ahmad menegaskan dalam riwayat Ibrahim bin Al-Harits bahwa jika seseorang tidak mendapati takbir bersama imam, maka dia tidak mendapatkan (keutamaan) takbir pertama.”
Ibnu Rajab juga menyebutkan:
“Waki’ berkata: ‘Barangsiapa yang mendapati bacaan Amin bersama imamnya, maka dia telah mendapati keutamaan takbiratul ihram.’ Namun Imam Ahmad mengingkari hal tersebut dan berkata: ‘Keutamaan takbiratul ihram tidak akan didapat kecuali dengan mendapatinya bersama imam.’”
3. Ibnu Muflih (Hanabilah)
قَالَ جَمَاعَةٌ : وَفَضِيلَةُ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى لَا تَحْصُلُ إلَّا بِشُهُودِ تَحْرِيمِ الْإِمَامِ
Terjemahan:
“Sekelompok ulama berkata: Keutamaan takbir pertama tidak akan terwujud kecuali dengan menyaksikan/menghadiri takbiratul ihram imam.”
Referensi: Al-Furu’ karya Ibnu Muflih (1/521).
4. Al-Hijjawi
وإدراك تكبيرة الإحرام مع الإمام فضيلة، وإنما تحصل بالاشتغال بالتحرم عقب تحرم إمامه مع حضوره تكبيرة إحرامه
Terjemahan:
“Mendapati takbiratul ihram bersama imam adalah sebuah keutamaan, dan ia hanya dapat diraih dengan langsung bertakbiratul ihram setelah takbiratul ihram imamnya, disertai kehadirannya pada saat imam mengucapkan takbiratul ihram.”
Referensi: Al-Iqna’ (1/151).
5. Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
السنة : إذا كبر الإمام أن تبادر وتكبر حتى تدرك فضل تكبيرة الإحرام ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( إذا كبر فكبروا ) والفاء تدل على الترتيب والتعقيب ، يعني : من حين أن يكبر وينقطع صوته من الراء بقوله : ( الله أكبر ) فكبر أنت ولا تشتغل لا بدعاء ولا بتسوك ولا بمخاطبة من بجانبك ، فإن هذا يفوت عليك إدراك فضل تكبيرة الإحرام
Terjemahan:
“Sesuai Sunnah: Jika imam telah bertakbir, hendaknya engkau segera bertakbir agar mendapatkan keutamaan takbiratul ihram. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: ‘Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian.’ Huruf fa (maka/lalu) dalam hadis tersebut menunjukkan urutan dan ketersusulan secara langsung (tanpa jeda panjang). Artinya: Sejak imam selesai bertakbir dan suaranya terputus pada huruf ra dari ucapannya (Allahu Akbar), maka bertakbirlah engkau. Jangan menyibukkan diri dengan doa, bersiwak, atau berbicara dengan orang di sebelahmu, karena hal itu akan membuatmu kehilangan keutamaan takbiratul ihram.”
Referensi: Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh (2/192).
6. Syekh Shalih Al-Fauzan
ولا تحصل فضيلتها المنصوصة إلا بشهود تحريم الإمام
Terjemahan:
“Dan keutamaan yang dinaskan (disebutkan dalam dalil) tersebut tidak akan diperoleh kecuali dengan menyaksikan/menghadiri takbiratul ihram imam.”
Referensi: Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi (1/140).
Kesimpulan
Mendapati takbiratul ihram imam pada salat berjemaah merupakan amal yang memiliki keutamaan luar biasa, seperti terbebas dari api neraka dan kemunafikan jika dilakukan 40 hari berturut-turut. Para ulama salaf sangat menjaga amal ini hingga tidak melewatkannya selama berpuluh-puluh tahun.
Berdasarkan pendapat mayoritas ulama yang terkuat, keutamaan agung ini hanya bisa diklaim jika seorang makmum hadir saat imam mengucapkan takbiratul ihram dan segera menyusul bertakbir persis setelah imam selesai bertakbir tanpa menyibukkan diri dengan hal lain.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila



