PANDUAN FIKIH MAKMUM MASBUQ

PANDUAN FIKIH MAKMUM MASBUQ

JAKARTA – Makmum masbuq adalah keadaan yang cukup sering dialami ketika seseorang datang terlambat ke masjid dan mendapati imam sudah memulai shalat berjemaah. Meski terlihat sederhana, kondisi ini memiliki sejumlah ketentuan fikih yang perlu dipahami, mulai dari cara bergabung dengan imam, menentukan apakah masih mendapatkan satu rakaat, hingga tata cara menyempurnakan rakaat yang tertinggal.

Pendahuluan

Shalat berjemaah merupakan salah satu syiar Islam paling utama yang memiliki keutamaan melimpah. Dalam praktiknya, tidak jarang seorang muslim terlambat hadir ke masjid sehingga mendapati imam telah menyelesaikan satu atau beberapa rakaat. Dalam terminologi fikih, orang yang mengalami kondisi ini disebut sebagai masbuq.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah (3/353):

الْمَسْبُوقُ : هُوَ مَنْ سَبَقَهُ الإِمَامُ بِكُلِّ الرَّكَعَاتِ أَوْ بَعْضِهَا

“Masbuq adalah orang yang didahului oleh imam dalam seluruh rakaat atau sebagian rakaatnya.”

Mengingat posisi masbuq memerlukan penyesuaian tata cara ibadah—mulai dari niat, gerakan, hingga rakaat susulan—para ulama telah merumuskan kaidah-kaidah hukum yang rinci untuk menjaga keabsahan shalatnya. Artikel ilmiah ini menguraikan hukum-hukum utama terkait makmum masbuq berdasarkan riwayat hadis dan fatwa para fukaha.

Kedatangan ke Masjid dan Prinsip Rakaat Masbuq

Pada dasarnya, seorang masbuq disunnahkan datang ke masjid dengan tenang (sakinah) dan penuh wibawa (waqar), tanpa tergesa-gesa. Selain itu, rakaat yang ia dapati bersama imam dihitung sebagai awal shalatnya, sedangkan rakaat yang tertinggal disempurnakan setelah imam salam.

Landasan utamanya adalah sabda Nabi ﷺ:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ ، وَلَا تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ ، فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar ikamah, berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan terhormat, serta janganlah terburu-buru. Apa yang kalian dapati maka shalatlah (bersama imam), dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari No. 600.

Sebagian ulama memberikan keringanan bagi orang yang khawatir kehilangan shalat berjemaah secara keseluruhan untuk mempercepat langkahnya secara wajar tanpa berlari.

Ketentuan Takbir Saat Mendapati Imam Sedang Rukuk

1. Keharusan Takbiratul Ihram dalam Keadaan Berdiri

Apabila masuk masjid dan mendapati imam sedang rukuk, makmum tetap wajib mengucapkan Takbiratul Ihram dalam keadaan berdiri tegak. Jika sebagian huruf Takbiratul Ihram diucapkan ketika sudah membungkuk menuju rukuk, maka shalat fardhunya tidak sah.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Al-Majmu’ (3/296):

يَجِبُ أَنْ يُكَبِّرَ لِلْإِحْرَامِ قَائِمًا حَيْثُ يَجِبُ الْقِيَامُ… فَإِنْ أَتَى بِحَرْفٍ مِنْهَا فِي غَيْرِ حَالِ الْقِيَامِ لَمْ تَنْعَقِدْ صَلَاتُهُ فَرْضًا ، بِلَا خِلَافٍ

“Wajib mengucapkan Takbiratul Ihram dalam keadaan berdiri pada shalat yang diwajibkan berdiri. Jika seseorang mengucapkan satu huruf saja darinya tidak dalam keadaan berdiri, maka shalat fardhunya tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat.”

2. Hukum Menggabungkan Takbiratul Ihram dan Takbir Rukuk

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (11/245) menjelaskan bahwa yang paling utama adalah bertakbir dua kali, yaitu Takbiratul Ihram saat berdiri dan Takbir Rukuk ketika mulai membungkuk.

Namun, apabila dikhawatirkan imam akan segera bangkit dari rukuk sehingga rakaat terlewat, maka cukup mengucapkan Takbiratul Ihram lalu langsung rukuk. Shalatnya tetap sah menurut pendapat yang lebih kuat.

Kriteria Mendapatkan Rakaat dan Hukum Keraguan

1. Patokan Mendapatkan Rakaat

Seorang makmum dianggap mendapatkan satu rakaat apabila sempat rukuk bersama imam dan memperoleh tuma’ninah, meskipun belum sempat membaca tasbih rukuk kecuali setelah imam mulai bangkit menuju i’tidal.

Seseorang tidak dianggap mendapatkan shalat berjemaah kecuali apabila ia mendapatkan minimal satu rakaat secara utuh.

Referensi: Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (6/225).

2. Jika Ragu Mendapati Rukuk

Apabila muncul keraguan apakah sempat mendapatkan rukuk atau tidak, maka acuannya adalah ghalabatuzh-zhan (prasangka yang lebih kuat).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Al-Syarh al-Mumti’ (3/383) menjelaskan:

  • Jika lebih yakin sempat rukuk, maka rakaat tersebut dihitung.
  • Jika lebih yakin terlambat, maka rakaat itu tidak dihitung.
  • Jika kedua kemungkinan sama kuat, maka kembali kepada hukum asal, yaitu dianggap belum mendapatkan rakaat sehingga harus menggantinya.

Kondisi Khusus Makmum Masbuq

1. Berdiri Sendiri di Belakang Saf

Apabila saf telah penuh dan tidak ada celah kosong setelah berusaha mencarinya, maka makmum masbuq diperbolehkan shalat sendirian di belakang saf.

2. Imam Menambah Rakaat

Apabila imam tanpa sengaja menambah rakaat, misalnya shalat Zuhur menjadi lima rakaat, maka makmum masbuq tidak boleh menjadikan rakaat tambahan tersebut sebagai pengganti rakaat yang tertinggal.

Menurut pendapat yang dipilih Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa (14/20), makmum tetap menunggu imam menyelesaikan shalatnya, kemudian berdiri menyempurnakan rakaat yang kurang.

3. Mengikuti Sujud Sahwi Imam

Apabila imam melakukan sujud sahwi sebelum salam, maka makmum masbuq wajib mengikutinya, meskipun ia baru bergabung setelah kesalahan imam terjadi.

Adapun jika sujud sahwi dilakukan setelah salam, makmum masbuq tidak ikut sujud bersama imam. Ia langsung berdiri untuk menyelesaikan rakaat yang tertinggal, kemudian melakukan sujud sahwi sesuai kondisinya apabila diperlukan.

4. Datang Setelah Rukuk Rakaat Terakhir

Apabila seseorang datang ketika imam sudah bangkit dari rukuk rakaat terakhir, ia tetap dianjurkan langsung bergabung bersama imam dan tidak menunggu jamaah baru terbentuk.

Referensi: Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (6/225).

5. Masbuq dalam Shalat Jumat

Makmum dianggap mendapatkan shalat Jumat apabila masih sempat mendapatkan rukuk rakaat kedua.

Apabila datang setelah imam bangkit dari rukuk rakaat kedua, maka ia tidak mendapatkan shalat Jumat dan wajib menyempurnakan shalatnya sebagai shalat Zuhur sebanyak empat rakaat setelah imam salam.

6. Kapan Berdiri Menyempurnakan Rakaat

Sikap yang paling hati-hati menurut para ulama adalah tidak berdiri menyempurnakan rakaat yang tertinggal sampai imam benar-benar selesai mengucapkan salam kedua.

Kesimpulan

Makmum masbuq tetap mendapatkan keutamaan shalat berjemaah selama mengikuti imam sesuai tuntunan syariat. Karena itu, ia hendaknya bergabung dengan tenang tanpa tergesa-gesa, memahami tata cara mendapatkan rakaat, mengetahui hukum ketika mendapati imam sedang rukuk, serta menyempurnakan rakaat yang tertinggal sesuai ketentuan para ulama. Dengan memahami panduan ini, seorang muslim dapat menjalankan shalat berjemaah dengan lebih yakin, tenang, dan sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.

Wallahu A’lam.

Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/246225/احكام-المسبوق-في-الصلاة?topic-reference=55

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id