2 JENIS SARANA ISTIQAMAH DALAM MENGHADAPI FITNAH AKHIR ZAMAN

2 JENIS SARANA ISTIQAMAH DALAM MENGHADAPI FITNAH AKHIR ZAMAN

JAKARTA – Sarana istiqamah menjadi bekal penting bagi seorang muslim yang ingin tetap teguh menjalankan agama di tengah banyaknya fitnah, godaan, dan perubahan zaman. Keteguhan iman tidak cukup hanya dengan keinginan, tetapi perlu dijaga dengan doa, amal saleh, berpegang kepada Sunnah, serta menjauhkan diri dari berbagai hal yang dapat menyeret kepada kesesatan.

Pendahuluan

Kehidupan di era modern ditandai dengan derasnya arus ujian, syubhat, dan syahwat (godaan hawa nafsu) yang berpotensi menggoyahkan keteguhan iman seorang muslim. Kondisi ini dalam syariat dikenal sebagai zaman al-fitan (masa merebaknya fitnah).

Agar seorang muslim tidak tergelincir dan tetap kokoh di atas jalan Islam, syariat memberikan panduan mengenai sarana-sarana peneguh iman (wasail at-tsabat). Secara garis besar, para ulama mengklasifikasikan sarana peneguh iman tersebut menjadi dua kategori utama: sarana peningkatan kualitas iman/ketaatan dan sarana benteng perlindungan dari fitnah. Artikel ini menguraikan rincian ilmiah dari kedua kategori tersebut.

Kategori Pertama untuk Istiqamah: Sarana Peningkat Iman dan Keyakinan (Izdiyad al-Iman wa al-Yaqin)

Kategori pertama mencakup sarana-sarana yang mendorong seorang hamba untuk meningkatkan ketaatan, memperbanyak amal shalih, serta mengecap manisnya kelezatan iman.

1. Memohon Hidayah Keteguhan dalam Doa

Mendoakan diri agar tetap berada di atas jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) adalah kebutuhan harian setiap muslim. Selain membaca Surah Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa khusus meminta keteguhan.

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا شَدَّادَ بْنُ أَوْسٍ إِذَا رَأَيْتَ النَّاسَ قَدِ اكْتَنَزُوا الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنِزْ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ…

“Wahai Syaddad bin Aus, jika engkau melihat manusia berlomba-lomba menimbun emas dan perak, maka simpanlah kalimat-kalimat ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan dan tekad bulat untuk di atas kebenaran, serta aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mendatangkan rahmat-Mu dan ketetapan ampunan-Mu…'”

Referensi: Hadis Riwayat At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (No. 7135), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah (No. 3228).

2. Komitmen Istiqamah Tanpa Membeda-bedakan Syariat

Allah Ta’ala menjamin keteguhan di dunia dan di alam kubur (akhirat) bagi orang-orang yang istiqamah menjalankan perintah-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-An’am ayat 153 dan Surah Ibrahim ayat 27. Imam Qatadah rahimahullah menjelaskan tafsir Surah Ibrahim ayat 27 dalam Tafsir Ibn Katsir (4/502):

أما الحياة الدنيا فيثبتهم بالخير والعمل الصالح ، ( وَفِي الْآخِرَةِ ) في القبر

“Adapun di kehidupan dunia, Allah meneguhkan mereka dengan kebaikan dan amal shalih. Sedangkan di akhirat, Allah meneguhkan mereka saat berada di dalam kubur.”

3. Berpegang Teguh pada Sunnah Nabawiyah

Di tengah perpecahan dan kebingungan, berpegang pada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin adalah kunci keselamatan.

Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Referensi: Hadis Riwayat Abu Dawud (No. 4607), dishahihkan oleh Al-Albani.

4. Memperbanyak Zikrullah

Zikir merupakan perisai dada dari bisikan setan. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan sebagaimana terekam dalam Tafsir At-Thabari (24/709-710): “Setan itu bertengger di atas hati anak Adam. Jika ia lalai dan lupa, setan akan membisikkan keraguan. Namun jika ia berzikir mengingat Allah, setan akan mundur terdesak.”

Kategori Kedua: Sarana Benteng Perlindungan dari Fitnah (Al-‘Ishmah min al-Fitan)

Kategori kedua berfokus pada upaya preventif (sadd adz-dzari’ah) untuk membentengi diri agar tidak terperosok ke dalam lubang fitnah.

1. Bersabar Menghadapi Tekanan Ujian

Memegang teguh agama pada masa fitnah membutuhkan kesabaran ekstra. Dari Abu Tsa’labah Al-Khushani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ ، الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Bersabar pada hari-hari itu bagaikan memegang bara api. Orang yang beramal shalih di masa itu akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang mengerjakan amalan serupa (dari kalangan sahabat).”

Referensi: Hadis Riwayat Abu Dawud (No. 4341), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

2. Berlindung Kepada Allah dari Fitnah

Seorang muslim diajarkan untuk senantiasa memohon perlindungan dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: (تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ – “Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi”) (HR. Muslim No. 2867).

3. Menjaga Batasan-Batasan Allah (Muraqabatullah)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ – “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu”) (HR. At-Tirmidzi No. 2516).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Uthaimin rahimahullah memberikan penjelasannya dalam Syarh Riyadhus Shalihin (hal. 70):

“Makna kalimat ini menunjukkan bahwa setiap kali manusia menjaga agama Allah, maka Allah akan menjaganya. Penjagaan Allah mencakup badannya, hartanya, keluarganya, serta agamanya. Penjagaan agama adalah hal yang paling utama, yaitu Allah menyelamatkannya dari kesesatan dan penyimpangan. Sebab semakin seseorang mengambil petunjuk, Allah akan menambah petunjuk baginya.”

4. Memilih Lingkungan dan Sahabat Shalih

Pergaulan memiliki pengaruh dominan terhadap pola pikir dan keteguhan iman. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya; ia mencegah kerugian atas saudaranya (yakni membantunya dari kebinasaan) dan menjaganya dari belakang (membela serta melindunginya).”

Referensi: Hadis Riwayat Abu Dawud (No. 4918), dihasankan oleh Al-Albani.

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: (الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ – “Seseorang itu berada di atas agama/tabiat sahabat karibnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan sahabat karib”) (HR. Abu Dawud No. 4833).

5. Menjauhi Sumber Fitnah dan Syubhat

Prinsip paling fundamental dalam menjaga keselamatan iman adalah tidak secara sengaja mendatangi atau menantang sumber fitnah, melainkan berusaha menghindarinya. Hal ini dicontohkan dalam petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi fitnah terbesar akhir zaman (Dajjal):

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ ، فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Barang siapa mendengar keberadaan Dajjal, maka hendaknya ia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya ada seorang pria yang mendatangi Dajjal dan menyangka dirinya adalah seorang mukmin yang kuat, namun kemudian ia justru mengikutinya akibat keraguan-keraguan (syubhat) yang dihembuskan oleh Dajjal tersebut.”

Referensi: Hadis Riwayat Abu Dawud (No. 4319), dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Kesimpulan

Sikap istiqamah di masa fitnah memerlukan kombinasi antara ikhtiar batiniah dan langkah praktis. Seseorang harus senantiasa memperkuat fondasi keimanannya melalui zikir, doa, dan kepatuhan pada Sunnah, sekaligus mengambil tindakan preventif dengan menjaga batas hukum Allah, memilih pergaulan yang shalih, serta menjauhi lokasi atau perdebatan yang mengandung syubhat. Dengan mengombinasikan dua kategori sarana ini, seorang muslim dapat menjaga kemurnian imannya hingga akhir hayat.

Wallahu A’lam.

Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id