AMALAN-AMALAN SEDERHANA YANG MENYAMAI PAHALA IBADAH HAJI

HUKUM BERUTANG UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH HAJI AMALAN-AMALAN SEDERHANA YANG MENYAMAI PAHALA IBADAH HAJI

JAKARTA – Pahala ibadah haji merupakan dambaan besar setiap muslim yang merindukan ampunan, keberkahan, dan kedekatan dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, tidak semua orang diberi kemampuan untuk menapaki perjalanan menuju Baitullah. Karena itulah, rahmat Allah begitu luas. Ada amalan-amalan sederhana yang bisa dilakukan dalam keseharian, tetapi memiliki keutamaan besar hingga disamakan dengan pahala ibadah haji dan umrah sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Pendahuluan

Bagi mereka yang hatinya terbakar oleh kerinduan terhadap Baitullah, air mata kerap menetes setiap kali musim haji tiba. Mereka seolah tidak nikmat menyantap makanan dan sulit memejamkan mata lantaran hati yang telah tertaut pada rumah Sang Kekasih (Allah Azza wa Jalla). Setiap kali Baitullah disebut, rindu itu membuncah; dan setiap kali menyadari kejauhan jarak, mereka merintih.

Allah Maha Mengetahui kondisi hati hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, melalui rahmat-Nya, Dia mengaruniakan amalan-amalan yang dapat menyejukkan dada dan memadamkan api kerinduan tersebut. Syariat menetapkan sejumlah amalan yang memberikan ganjaran setara dengan pahala orang yang berhaji dan berumrah. Amalan-amalan ini ibarat air dingin yang menyegarkan di kala dahaga, serta obat penawar yang menyembuhkan hati yang menyala-nyala karena rindu ingin menatap Ka’bah dan masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Pembahasan: Amalan yang Menyamai Pahala Ibadah Haji

2.1. Menunaikan Salat Fardu Berjemaah di Masjid

Melangkah menuju masjid untuk menunaikan salat wajib berjemaah memiliki keutamaan yang luar biasa. Fenomena keluarnya umat Islam dari rumah mereka dalam keadaan suci menuju satu titik (masjid) di waktu yang sama, pada hakikatnya menyerupai keluarnya jemaah haji menuju Baitullah.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَن مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي كحجة، ومَن مشى إلى صلاة تطوع فهي كعمرة نافلة”.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa berjalan menuju salat maktubah (wajib) secara berjemaah, maka pahalanya seperti ibadah haji. Dan barangsiapa berjalan menuju salat sunah, maka pahalanya seperti umrah sunah.”
(HR. Ahmad dengan sanad Hasan, dinilai sahih dalam Shahih al-Jami’: 6556)

Kecintaan memakmurkan masjid juga menjadi bukti keimanan seseorang, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ ﴾

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat…”
(QS. At-Taubah: 18)

2.2. Meraih Pahala Ibadah Haji dengan Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid

Belajar atau mengajarkan ilmu agama di masjid juga disetarakan dengan pahala haji yang sempurna.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَن غدا إلى المسجد لا يريد إلا أن يتعلَّم خيرًا أو يعلمه، كان كأجر حاج تامًا حجته”.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa berangkat ke masjid tanpa tujuan lain kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berhaji dengan haji yang sempurna.”
(HR. Thabrani no. 7473)

2.3. Berdiam Diri Usai Salat Subuh Hingga Terbit Matahari (Syuruq)

Duduk berzikir setelah menunaikan salat Subuh berjemaah hingga matahari terbit, lalu diakhiri dengan salat sunah dua rakaat, merupakan amalan agung yang pahalanya disetarakan dengan haji dan umrah.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَن صلى الفجر في جماعة، ثم قعد يذكُرُ اللهَ حتى تطلع الشمسُ، ثم صلى ركعتين؛ كانت له كأجر حَجَّةٍ وعمرةِ، تامة، تامة، تامة”.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa salat Subuh berjemaah, kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu dia salat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Silsilah As-Shahihah: 3403, Shahih al-Jami’: 6346)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلَّى الفجر لم يقم من مجلسه حتى تمكنه الصلاة، وقال: مَن صلَّى الصبح ثم جلس في مجلسه حتى تمكنه الصلاة كان بمنزلة عمرة وحجة متقبلتين”.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah salat Subuh tidak bangkit dari tempat duduknya hingga tiba waktu yang dibolehkan untuk salat (syuruq). Beliau bersabda: ‘Barangsiapa salat Subuh lalu duduk di tempat duduknya hingga tiba waktu dia bisa salat, maka kedudukannya seperti umrah dan haji yang mabrur.’”
(HR. Thabrani dalam Al-Awsath no. 5602, dihasankan oleh Al-Albani)

2.4. Dapat Pahala Ibadah Haji dengan Melaksanakan Umrah di Bulan Ramadan

Bagi yang kesulitan biaya untuk berhaji, namun mampu melangsungkan umrah, pelaksanaannya di bulan Ramadan memberikannya nilai yang setara dengan berhaji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “عُمرة في رمضان تعدل حَجَّة”.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Umrah di bulan Ramadan menyamai (pahala) haji.”
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Ibnu Abbas di Bukhari-Muslim disebutkan:
“Umrah di bulan Ramadan menggantikan haji, atau haji bersamaku.”
(Lihat juga Shahih al-Jami’: 4098 dari riwayat Anas)

2.5. Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain)

Pengabdian kepada orang tua, khususnya ibu, diletakkan sejajar dengan kedudukan mujahid, orang yang berhaji, dan yang berumrah.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَشْتَهِي الْجِهَادَ، وَإِنِّي لَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: هَلْ بَقِيَ أَحَدُ وَالِدَيْكَ؟ قَالَ: أُمِّي، قَالَ: “فَأَبْلِ اللهَ عُذْرًا فِي بِرِّهَا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ، إِذَا رَضِيَتْ أُمُّكَ، فَاتَّقِ اللهَ وَبَرَّهَا”.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Sesungguhnya aku ingin berjihad, namun aku tidak mampu melakukannya.”

Beliau bersabda, “Apakah masih ada salah satu dari kedua orang tuamu?”
Dia menjawab, “Ibuku masih ada.”

Beliau bersabda:
“Bersungguh-sungguhlah kamu dalam berbakti kepadanya. Jika engkau melakukan itu, maka engkau seperti orang yang berhaji, berumrah, dan berjihad. Jika ibumu ridha, maka bertakwalah kepada Allah dan berbaktilah kepadanya.”
(HR. Thabrani dalam Al-Awsath no. 4466)

3. Menghidupkan Syiar Haji (Tasyabbuh dengan Mereka)

Jika secara fisik tidak mampu bergabung dengan kafilah peziarah ke tanah suci, syariat memberikan ruang bagi umat Islam untuk merasakan “atmosfer ibadah haji”, antara lain melalui:

  • Menahan diri memotong rambut dan kuku (bagi yang berkurban): meniru para jemaah haji yang sedang berihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Barangsiapa memiliki hewan sembelihan yang akan disembelihnya, maka apabila telah masuk bulan Zulhijah, janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikit pun hingga dia berkurban.”
    (HR. Muslim no. 1977)
  •  Bersegera menuju salat Jumat: keberangkatan di jam-jam awal Jumat disetarakan dengan mempersembahkan hewan hadyu (kurban haji) ke Baitullah; mulai dari unta, sapi, domba bertanduk, ayam, hingga telur.
    (HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)
  • Majelis zikir sebagai pengganti Padang Arafah: Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang duduk di majelis-majelis zikir.
    (HR. Muslim no. 2701)
  • Memaksimalkan amal di sepuluh hari pertama Zulhijah: hari-hari ini adalah musim kebaikan yang mana amalan di dalamnya mengalahkan jihad. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (yakni 10 hari pertama Zulhijah)…”
    (HR. Ahmad no. 1993)

4. Kesimpulan

Karunia Allah sangat luas dan tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Firman-Nya menegaskan:

﴿ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾

“Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid: 21)

Bagi siapa saja yang jauh dari Tanah Suci, jangan sampai dia menjauhkan dirinya dari rahmat Allah dengan tumpukan dosa. Jika badan tak mampu hadir di Baitullah, maka hadapkanlah hati kepada Rabb (Pemilik) Baitullah, karena Dia lebih dekat dari urat leher. Barangsiapa yang gagal bermabit di Muzdalifah, biarlah dia menetapkan tekad (mabit) untuk senantiasa menaati-Nya. Dan jika tak sanggup menyembelih hewan kurban di Mina, maka sembelihlah hawa nafsunya di tempat dia berada.

Sebagaimana ungkapan para ulama salaf ketika melihat kepergian jemaah haji dengan derai air mata:
“Aduhai betapa lemahnya diriku! Ini barulah penyesalan orang yang terputus (gagal) sampai ke Baitullah, lalu bagaimanakah kiranya penyesalan orang yang terputus (gagal) sampai kepada Tuhan Pemilik Baitullah?”

Wallahu a’lam.

Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id