HUKUM PELAKSANAAN HAJI BAGI PENYANDANG DISABILITAS RUNGU DAN WICARA: TINJAUAN FIKIH DAN DALIL SYAR’I

TANDA-TANDA HAJI YANG DITERIMA JAKARTA - Banyak muslimah yang bertanya-tanya soal ini apa hukum mengonsumsi pil pencegah haid, apalagi kalau lagi bersiap untuk umrah atau haji. HUKUM PELAKSANAAN HAJI BAGI PENYANDANG DISABILITAS RUNGU DAN WICARA: TINJAUAN FIKIH DAN DALIL SYAR'I

Mukadimah

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:

Artikel ini membahas tentang hukum dan tata cara pelaksanaan ibadah haji bagi umat Muslim yang memiliki keterbatasan fisik, secara khusus penyandang disabilitas rungu (tuli) dan wicara (bisu). Pembahasan ini mencakup kewajiban dasar, niat, talbiyah, serta hukum perwakilan (niyabah) dalam pelaksanaan manasik haji.

1. Kewajiban Haji bagi Setiap Mukalaf

Ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang balig (dewasa) dan berakal sehat. Penyandang disabilitas rungu dan wicara, sama halnya dengan mukalaf pada umumnya, tetap memiliki kewajiban untuk menunaikan ibadah haji apabila mereka telah balig, berakal, dan mampu (istitha’ah). Hal ini karena haji merupakan salah satu dari rukun Islam.

Dalil Al-Qur’an:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
(QS. Ali ‘Imran: 97)

Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِسْلامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَان، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلا

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ﷺ, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.”
(HR. Muslim no. 8)

2. Gugurnya Kewajiban pada Hal yang Tidak Disanggupi

Dalam kaidah syariat, barangsiapa yang tidak mampu atau lemah (uzur) dari melakukan salah satu kewajiban, maka kewajiban tersebut gugur darinya, dan ia hanya diwajibkan melakukan apa yang ia sanggupi.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
(QS. At-Taghabun: 16)

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Dan apabila aku memerintahkan suatu perintah kepadamu, maka kerjakanlah darinya sesuai dengan kesanggupanmu.”
(Muttafaq ‘alaih)

3. Ketentuan Niat dan Talbiyah bagi Tunarungu dan Tunawicara

Diketahui bersama bahwa mengucap ihlal (mengeraskan suara) dan talbiyah saat manasik pada hakikatnya hanyalah bentuk lisan (penyebutan) dari niat yang telah tertanam kuat di dalam hati untuk memulai ibadah haji/umrah. Ucapan tersebut bukanlah niat itu sendiri.

Oleh karena itu, jika seorang penyandang tunarungu atau tunawicara ini mampu menghadirkan niat dengan baik, maka ia wajib melakukannya, dan cukup baginya berniat di dalam hati.

Disyariatkan pula bagi pendampingnya untuk melantunkan talbiyah atas nama dirinya (mewakilkannya), jika ia tidak mampu melafalkan talbiyah atau tidak mampu mempelajarinya.

Perkataan Ulama tentang Perwakilan Talbiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al-‘Uddah fi Syarh Al-‘Umdah menjelaskan secara rinci:

قَالَ – فِي رِوَايَةِ حَنْبَلٍ -: […] فَإِنْ عَجَزَ عَنِ التَّلْبِيَةِ، بِأَنْ لَا يُحْسِنَهَا بِالْكُلِّيَّةِ، أَوْ يَكُونَ أَخْرَسَ، أَوْ مَرِيضًا لَا يُطِيقُ الْكَلَامَ، أَوْ صَغِيرًا: فَقَالَ أَحْمَدُ – فِي رِوَايَةِ أَبِي طَالِبٍ -: الْأَخْرَسُ وَالْمَرِيضُ وَالصَّبِيُّ: يُلَبَّى عَنْهُمْ. وَظَاهِرُهُ: أَنَّهُ إِذَا عَجَزَ عَنِ الْجَهْرِ: يُلَبَّى عَنْهُ. وَذَلِكَ لِأَنَّ جَابِرًا ذَكَرَ أَنَّهُمْ: كَانُوا يُلَبُّونَ عَنِ الصِّبْيَانِ، وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِعَجْزِهِمْ عَنِ التَّلْبِيَةِ؛ فَفِي مَعْنَى الصِّبْيَانِ: كُلُّ عَاجِزٍ. وَلِأَنَّ أُمُورَ الْحَجِّ كُلَّهَا تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ إِذَا عَجَزَ عَنْهَا، كَالرَّمْيِ وَنَحْوِهِ. فَإِذَا عَجَزَ عَنِ التَّلْبِيَةِ بِنَفْسِهِ: لَبَّى عَنْهُ غَيْرُهُ، وَيَكُونُ كَمَا لَوْ لَبَّى عَنْ مَيِّتٍ، أَوْ مَعْضُوبٍ إِنْ ذَكَرَهُ فِي التَّلْبِيَةِ فَحَسَنٌ، وَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى النِّيَّةِ جَازَ. قَالَ أَصْحَابُنَا، الْقَاضِي وَمَنْ بَعْدَهُ: وَالتَّلْبِيَةُ سُنَّةٌ لَا شَيْءَ فِي تَرْكِهَا؛ لِأَنَّهَا ذِكْرٌ مَشْرُوعٌ فِي الْحَجِّ، فَكَانَ سُنَّةً كَسَائِرِ أَذْكَارِهِ مِنَ الدُّعَاءِ بِعَرَفَةَ وَمُزْدَلِفَةَ وَمِنًى وَغَيْرِ ذَلِكَ.

(Syarh Al-‘Umdah, 4/431 – Cetakan Dar ‘Alam al-Fawaid)

Terjemahan Perkataan Ibnu Taimiyah:
“Imam Ahmad berkata -dalam riwayat Hanbal-: … Maka jika ia tidak mampu bertalbiyah karena tidak bisa sama sekali, atau ia seorang yang bisu (akhras), atau sakit sehingga tidak kuat berbicara, atau masih anak-anak: Imam Ahmad berkata -dalam riwayat Abu Thalib-: ‘Orang bisu, orang sakit, dan anak-anak: ditalbiyahkan (diwakilkan talbiyah) untuk mereka.’

Makna lahiriahnya adalah: apabila ia tidak mampu mengeraskan suara, maka diwakilkan talbiyahnya. Hal ini dikarenakan Jabir menyebutkan bahwa para sahabat dahulu membacakan talbiyah untuk anak-anak kecil, dan hal itu tidak lain karena ketidakmampuan anak-anak tersebut untuk bertalbiyah. Maka setiap orang yang tidak mampu (uzur), hukumnya dikiaskan dengan anak-anak.

Karena semua perkara haji dapat dimasuki hukum perwakilan (niyabah) jika tidak sanggup melaksanakannya, seperti melempar jumrah dan semacamnya. Jika ia tidak mampu bertalbiyah sendiri, maka orang lain bertalbiyah untuknya. Jika orang yang mewakili menyebutkan namanya dalam talbiyah maka itu baik, namun jika ia hanya mencukupkan dengan niat saja, maka itu diperbolehkan.

Ulama mazhab kami, seperti Al-Qadhi dan setelahnya, mengatakan: Talbiyah adalah sunnah, tidak dikenakan sanksi (fidyah/dam) jika ditinggalkan; karena ia adalah zikir yang disyariatkan dalam haji, sehingga statusnya sunnah sama seperti zikir-zikir haji lainnya berupa doa di Arafah, Muzdalifah, Mina, dan selainnya.”

4. Legalitas Perwakilan (Niyabah) dalam Manasik

Hukum asal diperbolehkannya mewakilkan ibadah haji (seperti niat dan talbiyah) bagi anak-anak dan orang-orang yang senasib dengan mereka—yakni mereka yang tidak mampu berbicara atau tidak memahami cara berniat—didasarkan pada hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Dalil Hadis:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ، فَقَالَ: (مَنِ الْقَوْمُ؟) قَالُوا: الْمُسْلِمُونَ، فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: (رَسُولُ اللَّهِ)، فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا، فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: (نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ)

“Dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bertemu dengan rombongan musafir di daerah Rauha’. Beliau bertanya: ‘Siapakah kaum ini?’ Mereka menjawab: ‘Kaum Muslimin.’ Kemudian mereka balik bertanya: ‘Siapa engkau?’ Beliau menjawab: ‘Rasulullah.’ Lalu seorang wanita mengangkat seorang anak kecil ke arah beliau dan bertanya: ‘Apakah anak ini bisa berhaji?’ Beliau menjawab: ‘Ya, dan bagimu pahala.’”
(HR. Shahih Muslim no. 1336)

Hadis ini menunjukkan syariat tentang diperbolehkannya mewakilkan (niyabah) seseorang pada perkara yang ia tidak mampu lakukannya sendiri.

Penjelasan Ulama

Imam Al-Khattabi menjelaskan hadis di atas sebagaimana dinukil dalam kitab Awn Al-Ma‘bud (5/110):

قال الخطابي : إنما كان له الحج من ناحية الفضيلة ، دون أن يكون محسوبا عن فرضه لو بقي حتى يبلغ ويدرك مدرك الرجال . وهذا كالصلاة ؛ يؤمر بها إذا أطاقها ، وهي غير واجبة عليه وجوب فرض، ولكن يكتب له أجرها ، تفضلا من الله سبحانه وتعالى، ويكتب لمن يأمره بها ويرشده إليها أجر . فإذا كان له حج : فقد علم أن من سننه أن يوقف به المواقف، ويطاف به حول البيت محمولا ، إن لم يطق المشي . وكذلك السعي بين الصفا والمروة ، ونحوها من أعمال الحج . وفي معناه : المجنون ، إذا كان ميئوسا من إفاقته.

“Al-Khattabi berkata: Haji anak kecil tersebut sah dari sisi keutamaan (sunnah), namun tidak dihitung sebagai haji wajib yang menggugurkan kewajibannya jika ia hidup hingga dewasa kelak. Ini sama seperti salat; ia diperintahkan untuk mengerjakannya jika sudah mampu, meskipun belum berstatus wajib secara fardu atasnya, namun tetap dicatatkan pahala untuknya sebagai karunia dari Allah ﷻ, dan dicatat pula pahala bagi orang yang memerintahkan dan membimbingnya.

Jika ia melaksanakan haji, maka diketahui bahwa di antara ketentuannya adalah ia dibawa berdiam (wuquf) di tempat-tempat wuquf, dan dibawa tawaf mengelilingi Ka‘bah dengan cara digendong jika ia belum mampu berjalan. Begitu pula dengan sa‘i antara Shafa dan Marwah, dan amalan haji lainnya. Hal ini juga berlaku (dikiaskan) kepada orang gila, apabila ia sudah tidak ada harapan untuk sembuh.”

Kesimpulan

Haji tetap wajib bagi penyandang tunarungu dan tunawicara yang balig dan berakal. Ketidakmampuan mereka dalam melafalkan talbiyah atau doa tidak menggugurkan kewajiban haji. Mereka cukup berniat di dalam hati, sementara lantunan talbiyah dapat diwakilkan oleh pendampingnya.

Seluruh amalan manasik yang membutuhkan suara atau tidak mampu dilakukan secara mandiri, dapat disesuaikan dengan kemampuan fisik atau dibantu oleh pendamping sesuai prinsip kemudahan dalam syariat Islam.

Wallahu a’lam.


Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/287201/كيف-يودي-الاخرس-تلبية-الحج

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id