HUKUM, SYARAT, DAN KETENTUAN HAJI BADAL DALAM TINJAUAN FIKIH

HUKUM, SYARAT, DAN KETENTUAN HAJI BADAL DALAM TINJAUAN FIKIH

JAKARTA – Haji badal menjadi salah satu bentuk rukhsah (keringanan) dalam syariat Islam bagi muslim yang sudah wajib haji tetapi tidak lagi mampu menunaikannya secara langsung karena uzur permanen atau telah meninggal dunia. Namun dalam praktiknya, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami bahwa ibadah ini memiliki syarat, batasan, dan ketentuan fikih yang cukup ketat.

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada utusan Allah. Amma ba’du:

Banyak kaum muslimin yang masih bermudah-mudahan atau bersikap menyepelekan dalam urusan Haji Badal (Haji Pengganti). Padahal, pelaksanaan haji badal memiliki sejumlah batasan, syarat, dan hukum-hukum tersendiri yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah secara syariat. Berikut ini akan dipaparkan poin-poin penting terkait ketentuan haji badal, dengan harapan semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi umat.

1. Tidak Sah Haji Badal bagi Orang yang Mampu Secara Fisik

Haji badal untuk Hajjatul Islam (haji wajib yang pertama kali) tidak sah dilakukan untuk menggantikan orang yang masih mampu melaksanakannya dengan fisiknya sendiri.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

“لا يجوز أن يستنيب في الحج الواجب من يقدر على الحج بنفسه إجماعا ، قال ابن المنذر : أجمع أهل العلم على أن من عليه حجة الإسلام وهو قادر على أن يحج لا يجزئ عنه أن يحج غيره عنه”

Terjemahan: “Tidak boleh mewakilkan ibadah haji yang wajib bagi orang yang mampu untuk berhaji sendiri berdasarkan kesepakatan ulama (ijmak). Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang memiliki kewajiban haji Islam dan dia mampu untuk berhaji, maka tidak sah jika orang lain menghajikan untuknya.'”

Referensi: Al-Mughni (3/185).

2. Kriteria Orang yang Boleh Dibadalkan Hajinya

Haji badal hanya diperuntukkan bagi orang yang sakit dan tidak ada harapan sembuh, orang yang lemah fisiknya secara permanen, atau orang yang sudah meninggal dunia. Tidak berlaku bagi orang fakir atau orang yang tidak bisa berangkat karena kendala politik atau keamanan.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

“والجمهور على أن النيابة في الحج جائزة عن الميت والعاجز الميئوس من برئه ، واعتذر القاضي عياض عن مخالفة مذهبهم – أي : المالكية – لهذه الأحاديث في الصوم عن الميت والحج عنه بأنه مضطرب ، وهذا عذر باطل ، وليس في الحديث اضطراب ، ويكفى في صحته احتجاج مسلم به في صحيحه .”

Terjemahan: “Mayoritas ulama (Jumhur) berpendapat bahwa perwalian (niyabah) dalam haji diperbolehkan untuk orang yang telah meninggal dan orang lemah yang tidak ada harapan sembuh. Qadhi ‘Iyadh beralasan atas penolakan mazhab mereka—yaitu Malikiyyah—terhadap hadis-hadis puasa dan haji untuk mayit dengan klaim bahwa hadisnya mudhtharib (kontradiksi). Ini adalah alasan yang batil. Tidak ada idhthirab (kontradiksi) dalam hadis tersebut, dan cukuplah sebagai bukti kesahihannya bahwa Imam Muslim menjadikannya hujah dalam kitab Shahih-nya.”

Referensi: Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim (8/27).

Hadis yang diisyaratkan oleh Imam An-Nawawi tersebut adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ : إِنِّي تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ فَقَالَ : وَجَبَ أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ، قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا ؟ قَالَ : صُومِي عَنْهَا ، قَالَتْ : إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : حُجِّي عَنْهَا .

Terjemahan: Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika aku sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang wanita dan berkata: “Sesungguhnya aku telah menyedekahkan seorang budak wanita kepada ibuku, dan kini ibuku telah meninggal.” Beliau bersabda: “Pahalamu telah wajib (engkau dapatkan), dan warisan telah mengembalikannya kepadamu.” Wanita itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, ibuku memiliki utang puasa satu bulan, apakah aku boleh berpuasa untuknya?” Beliau menjawab: “Puasalah untuknya.” Wanita itu bertanya lagi: “Sesungguhnya dia belum pernah berhaji sama sekali, apakah aku boleh menghajikan untuknya?” Beliau menjawab: “Hajikanlah untuknya.”

Referensi: HR. Muslim (No. 1149).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“واتفق من أجاز النيابة في الحج على أنها لا تجزى في الفرض إلا عن موت أو عضَب – أي : شلل – ، فلا يدخل المريض ؛ لأنه يرجى برؤه ، ولا المجنون ؛ لأنه ترجى إفاقته ، ولا المحبوس ؛ لأنه يرجى خلاصه ، ولا الفقير ؛ لأنه يمكن استغناؤه”

Terjemahan: “Ulama yang membolehkan perwalian dalam haji sepakat bahwa hal tersebut tidak sah dalam haji wajib kecuali karena kematian atau ‘adhab—yaitu kelumpuhan (kelemahan permanen)—. Maka tidak termasuk orang yang sakit biasa karena ia masih bisa diharapkan kesembuhannya, tidak juga orang gila karena bisa diharapkan kewarasannya kembali, tidak pula orang yang dipenjara karena bisa diharapkan pembebasannya, dan tidak pula orang fakir karena bisa jadi ia akan menjadi kaya.”

Referensi: Fathul Bari (4/70).

Fatwa Ulama Komite Tetap (Lajnah Daimah):

“يجوز للمسلم الذي قد أدى حج الفريضة عن نفسه أن يحج عن غيره إذا كان ذلك الغير لا يستطيع الحج بنفسه لكبر سنِّه أو مرض لا يرجى برؤه أو لكونه ميتًا ؛ للأحاديث الصحيحة الواردة في ذلك ، أما إن كان من يراد الحج عنه لا يستطيع الحج لأمر عارض يرجى زواله كالمرض الذي يرجى برؤه ، وكالعذر السياسي ، وكعدم أمن الطريق ونحو ذلك : فإنه لا يجزئ الحج عنه”

Terjemahan: “Diperbolehkan bagi seorang muslim yang telah menunaikan ibadah haji wajib untuk dirinya sendiri agar menghajikan orang lain, jika orang lain tersebut tidak mampu berhaji sendiri karena faktor usia yang sangat tua, sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, atau karena ia telah meninggal dunia; berdasarkan hadis-hadis sahih yang datang tentang hal tersebut. Adapun jika orang yang ingin dibadalkan hajinya itu tidak mampu berhaji karena halangan yang sifatnya sementara dan bisa diharapkan hilangnya, seperti penyakit yang bisa disembuhkan, uzur politik, tidak amannya jalan, dan sejenisnya, maka tidak sah haji badal untuknya.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/51) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, Syaikh Abdullah bin Qa’ud.

3. Tidak Ada Haji Badal karena Ketidakmampuan Finansial

Haji badal tidak diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu secara finansial. Hal ini karena kewajiban haji memang gugur bagi orang yang fakir. Haji badal hanya untuk ketidakmampuan fisik.

Fatwa Lajnah Daimah ketika ditanya tentang menghajikan kerabat yang tidak punya biaya:

“قريبك المذكور لا يجب عليه الحج مادام لا يستطيع الحج ماليّاً ، ولا تصح النيابة عنه في الحج ولا في العمرة ؛ لأنه قادر على أداء كل منهما ببدنه لو حضر بنفسه في المشاعر ، وإنما تصح النيابة فيهما عن الميت ، والعاجز عن مباشرة ذلك ببدنه”

Terjemahan: “Kerabat Anda yang disebutkan tersebut tidak diwajibkan haji selama ia tidak mampu secara finansial, dan tidak sah perwalian (badal) atas namanya baik dalam haji maupun umrah; karena ia mampu melaksanakan keduanya dengan fisiknya seandainya ia hadir sendiri di tempat-tempat manasik (masya’ir). Perwalian dalam haji dan umrah hanya sah untuk orang yang telah meninggal atau orang yang secara fisik tidak mampu melaksanakannya secara langsung.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/52).

4. Pembadal Harus Sudah Berhaji untuk Dirinya Sendiri

Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain kecuali ia telah berhaji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika ia melakukannya, maka hajinya tersebut jatuh untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang yang diwakilinya.

Fatwa Lajnah Daimah:

“لا يجوز للإنسان أن يحج عن غيره قبل حجه عن نفسه ، والأصل في ذلك ما رواه ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم سمع رجلاً يقول : لبيك عن شبرمة ، قال : حججت عن نفسك ؟ قال : لا ، قال : حج عن نفسك ، ثم عن شبرمة”

Terjemahan: “Tidak boleh bagi seseorang menghajikan orang lain sebelum ia menghajikan dirinya sendiri. Dalil asalnya adalah riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berkata: ‘Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah)’. Beliau bertanya: ‘Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu sendiri?’ Ia menjawab: ‘Belum’. Beliau bersabda: ‘Berhajilah untuk dirimu sendiri, kemudian berhajilah untuk Syubrumah’.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/50).

5. Kebolehan Lintas Gender dalam Haji Badal

Wanita diperbolehkan menghajikan laki-laki, sebagaimana laki-laki diperbolehkan menghajikan wanita.

Fatwa Lajnah Daimah:

“والنيابة في الحج جائزة ، إذا كان النائب قد حج عن نفسه ، وكذلك الحال فيما تدفعه للمرأة لتحج به عن أمك ، فإن نيابة المرأة في الحج عن المرأة وعن الرجل جائزة ؛ لورود الأدلة الثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في ذلك”

Terjemahan: “Perwalian dalam haji adalah boleh apabila orang yang mewakili telah berhaji untuk dirinya sendiri. Demikian pula halnya dengan biaya yang Anda berikan kepada seorang wanita agar ia menghajikan ibu Anda; sesungguhnya perwalian wanita dalam haji untuk wanita lain maupun untuk laki-laki adalah diperbolehkan, berdasarkan dalil-dalil yang kuat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/52).

6. Satu Haji Hanya untuk Satu Orang

Tidak boleh seseorang berhaji atas nama dua orang atau lebih dalam satu kali pelaksanaan ibadah haji. Namun, ia boleh berumrah untuk dirinya sendiri (atau untuk satu orang lain) dan berhaji untuk orang yang berbeda di musim yang sama.

Fatwa Lajnah Daimah:

“تجوز النيابة في الحج عن الميت ، وعن الموجود الذي لا يستطيع الحج ، ولا يجوز للشخص أن يحج مرة واحدة ويجعلها لشخصين ، فالحج لا يجزئ إلا عن واحد ، وكذلك العمرة ، لكن لو حج عن شخص واعتمر عن آخر في سنة واحدة أجزأه إذا كان الحاج قد حج عن نفسه واعتمر عنها”

Terjemahan: “Diperbolehkan badal haji untuk mayit dan untuk orang yang masih hidup namun tidak mampu. Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan satu kali ibadah haji lalu niatnya digabungkan untuk dua orang. Haji tidak sah kecuali untuk satu orang, begitu juga umrah. Akan tetapi, seandainya ia berhaji untuk satu orang dan berumrah untuk orang yang berbeda dalam satu tahun (musim), hal itu sah, dengan syarat ia telah berhaji dan berumrah untuk dirinya sendiri.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/58).

7. Niat Haji Badal Tidak Boleh Sekadar Mencari Dunia/Harta

Orang yang melakukan haji badal tidak boleh menjadikan uang sebagai niat utamanya. Niatnya harus murni untuk beribadah di tanah suci dan berbuat baik (membantu) saudaranya yang tidak mampu berhaji.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“والاستنابة بالحج بعوض : إن كان الإنسان قصده العوض : فقد قال شيخ الإسلام رحمه الله : من حج ليأكل فليس له في الآخرة من خلاق – أي : نصيبٌ – وأما من أخذ ليحج : فلا بأس به ، فينبغي لمن أخذ النيابة أن ينوي الاستعانة بهذا الذي أخذ على الحج ، وأن ينوي أيضاً قضاء حاجة صاحبه… فينوي بذلك أنه أحسن إليه في قضاء الحج ، وتكون نيته طيبة”

Terjemahan: “…Adapun mewakili haji dengan imbalan: Jika maksud seseorang adalah mencari imbalan duniawi, maka Syaikhul Islam rahimahullah telah berkata: ‘Barangsiapa berhaji untuk makan (harta dunia), maka ia tidak mendapat bagian (kebaikan) di akhirat.’ Adapun orang yang mengambil harta agar ia bisa berangkat berhaji, maka hal itu tidak mengapa. Sepatutnya orang yang mengambil amanah badal meniatkan harta tersebut sebagai bantuan agar ia bisa sampai berhaji, dan meniatkan pula untuk memenuhi hajat saudaranya… sehingga niatnya adalah berbuat ihsan dalam menunaikan haji, dan ini adalah niat yang baik.”

Referensi: Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh (89 / Pertanyaan 6).

Beliau juga memaparkan:

“وإن من المؤسف أن كثيراً من الناس الذين يحجون عن غيرهم إنما يحجون من أجل كسب المال فقط ، وهذا حرام عليهم… يقول الله تعالى : ( مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )… تجد الذي تعرض عليه النيابة يكاسر ويماكس هذه دراهم قليلة ، هذه لا تكفي زد… مما يقلب العبادة إلى حرفة وصناعة…”

Terjemahan: “Sungguh disayangkan bahwa banyak orang yang menghajikan orang lain semata-mata demi meraup keuntungan finansial, dan hal ini diharamkan atas mereka… Allah Ta’ala berfirman: (Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan dan batallah apa yang telah mereka kerjakan – QS. Hud: 15-16)… Anda mendapati orang yang ditawari haji badal malah melakukan tawar-menawar harga; ‘Uang ini sedikit, ini tidak cukup, tambah lagi…’, yang mana hal ini mengubah ibadah menjadi sekadar profesi dan bisnis…”

Referensi: Ad-Dhiya’ Al-Lami’ min Al-Khutab Al-Jawami’ (2 / 477, 478).

8. Mewajibkan Badal Haji dari Harta Warisan Mayit yang Mampu

Jika seorang muslim wafat dan belum menunaikan kewajiban hajinya padahal ia sudah memenuhi syarat wajib haji semasa hidup, maka wajib dihajikan untuknya dengan menggunakan harta warisan yang ditinggalkannya.

Fatwa Lajnah Daimah:

“إذا مات المسلم ولم يقض فريضة الحج وهو مستكمل لشروط وجوبها وجب أن يحج عنه من ماله الذي خلفه سواء أوصى بذلك أو لم يوص ، وإذا حج عنه غيره ممن يصح منه الحج وكان قد أدى فريضة الحج عن نفسه : صح حجه عنه ، وأجزأ في سقوط الفرض عنه”

Terjemahan: “Jika seorang muslim meninggal dunia dan belum menunaikan haji wajib padahal ia telah memenuhi syarat wajibnya, maka wajib dihajikan atas namanya dari harta yang ditinggalkannya, baik ia mewasiatkannya atau tidak. Jika ada orang lain yang sah hajinya serta sudah berhaji wajib untuk dirinya sendiri menghajikan si mayit tersebut, maka hajinya sah untuk si mayit, dan telah mencukupi untuk menggugurkan kewajibannya.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/100).

9. Pembagian Pahala Antara Pembadal dan yang Dibadalkan

Apakah orang yang membadalkan haji akan mendapat pahala haji sempurna dan kembali bersih dari dosa seperti bayi baru lahir?

Fatwa Lajnah Daimah:

“وأما تقويم حج المرء عن غيره هل هو كحجه عن نفسه أو أقل فضلاً أو أكثر : فذلك راجع إلى الله سبحانه”

Terjemahan: “Adapun penilaian ibadah haji seseorang untuk orang lain, apakah pahalanya sama seperti berhaji untuk diri sendiri, atau lebih sedikit keutamaannya, atau lebih banyak: maka hal itu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/100).

Di tempat lain Lajnah Daimah menyatakan:

“من حج أو اعتمر عن غيره بأجرة أو بدونها فثواب الحج والعمرة لمن ناب عنه ، ويرجى له أيضًا أجر عظيم على حسب إخلاصه ورغبته للخير…”

Terjemahan: “Barangsiapa berhaji atau berumrah atas nama orang lain dengan upah atau tanpa upah, maka pahala pokok haji dan umrah tersebut adalah untuk orang yang diwakilinya. Dan diharapkan bagi pelaksana badal akan mendapatkan pahala yang besar pula sesuai dengan tingkat keikhlasannya dan kecintaannya pada kebaikan…”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/77, 78).

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

عن داود أنه قال : قلت لسعيد بن المسيب : يا أبا محمد ، لأيهما الأجر أ للحاج أم للمحجوج عنه ؟ فقال سعيد : إن الله تعالى واسع لهما جميعا . قال ابن حزم : صدق سعيد رحمه الله .

Terjemahan: Dari Dawud, ia berkata: Aku bertanya kepada Sa’id bin Al-Musayyab: “Wahai Abu Muhammad, siapakah yang mendapatkan pahala, apakah orang yang berhaji (pembadal) atau yang dihajikan?” Sa’id menjawab: “Sesungguhnya karunia Allah Ta’ala itu maha luas untuk mereka berdua.” Ibnu Hazm mengomentari: “Sa’id rahimahullah telah berkata benar.”

Referensi: Al-Muhalla (7/61).

Adapun amalan di luar inti manasik haji, maka pahalanya murni milik si pelaksana (pembadal). Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

“وثواب الأعمال المتعلقة بالنسك كلها لمن وكله ، أما مضاعفة الأجر بالصلاة والطواف الذي يتطوع به خارجا عن النسك وقراءة القرآن لمن حج لا للموكل”

Terjemahan: “Pahala amal-amal yang berkaitan secara inti dengan manasik haji seluruhnya adalah untuk orang yang diwakilinya. Adapun pelipatgandaan pahala seperti salat di Masjidil Haram, tawaf sunah di luar manasik haji, dan membaca Al-Quran, maka itu adalah milik orang yang berangkat haji (pembadal), bukan untuk yang mewakilkan.”

Referensi: Ad-Dhiya’ Al-Lami’ min Al-Khutab Al-Jawami’ (2/478).

10. Prioritas Siapa yang Menjadi Pembadal

Yang paling afdal adalah anak menghajikan orang tuanya, atau kerabat bagi kerabatnya. Namun jika menyewa orang asing (non-kerabat), maka hukumnya tetap diperbolehkan.

Ketika ditanya oleh penanya yang ingin menyewa orang membadalkan hajinya orang tuanya, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:

“إن حججت عنهما بنفسك واجتهدت في إكمال حجك على الوجه الشرعي : فهو الأفضل ، وإن استأجرت من يحج عنهما من أهل الدين والأمانة : فلا بأس . والأفضل أن تؤدي عنهما حجّاً وعمرة…”

Terjemahan: “Jika engkau menghajikan keduanya dengan dirimu sendiri serta bersungguh-sungguh menyempurnakan haji sesuai syariat: maka itu yang paling utama (afdal). Jika engkau menyewa seseorang yang dikenal baik agamanya dan amanah untuk menghajikan keduanya: maka tidak mengapa. Yang terbaik adalah engkau menunaikan haji dan umrah untuk keduanya…”

Referensi: Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz (16/408).

11. Tidak Disyaratkan Mengetahui Nama Orang yang Dibadalkan

Jika hendak menghajikan keluarga yang sudah wafat namun tidak diketahui namanya dengan pasti, cukup berniat menghajikan mereka sesuai urutan sifatnya.

Fatwa Lajnah Daimah:

“إذا كان الأمر كما ذكر : فمن عرفتَ اسمه من الرجال والنساء: فلا إشكال فيه ، ومن لم تعرف اسمه : فإنه يجوز لك أن تنوي عن الرجال والنساء من الأعمام والأخوال على حسب ترتيب أعمارهم وأوصافهم ، وتكفي النية في ذلك ، وإن لم تعرف الاسم”

Terjemahan: “Jika perkaranya seperti yang disebutkan, maka kerabat laki-laki maupun perempuan yang Anda ketahui namanya: tidak ada masalah (sebutkan namanya). Namun bagi yang tidak diketahui namanya: diperbolehkan bagi Anda untuk meniatkan haji badal untuk paman-paman dari pihak ayah atau ibu tersebut sesuai dengan urutan umur atau sifat-sifat mereka, dan niat saja sudah mencukupi dalam hal itu, meskipun tidak mengetahui namanya secara spesifik.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/172).

12. Larangan Mengalihkan Amanah Badal Tanpa Izin

Orang yang telah menerima amanah perwakilan haji tidak boleh mengopernya kepada orang lain kecuali atas rida dan izin pihak yang memberi amanah.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“ولا يحل لمن أخذ النيابة أن يوكل غيره فيها لا بقليل ، ولا بكثير إلا برضا من صاحبها الذي أعطاه إياها”

Terjemahan: “Tidak halal bagi seseorang yang telah mengambil amanah badal haji untuk mewakilkannya lagi kepada orang lain, baik dengan bayaran yang lebih sedikit maupun lebih banyak, kecuali atas keridaan dari pemilik amanah yang memberikannya wewenang tersebut.”

Referensi: Ad-Dhiya’ Al-Lami’ min Al-Khutab Al-Jawami’ (2/478).

13. Hukum Haji Badal untuk Haji Sunah (Nafil)

Terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat) ulama terkait hukum mewakilkan haji bagi orang yang sudah pernah berhaji (haji sunah).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memilih pendapat yang tidak membolehkannya:

“…والأقرب عندي : المنع ، وأنه لا يجوز لأحد أن يوكل أحداً يحج عنه أو يعتمر إذا كان ذلك نافلة ؛ لأن الأصل في العبادات أن يقوم بها الإنسان بنفسه… ونحن إذا قلنا بهذا القول صار في ذلك حث للأغنياء القادرين على الحج بأنفسهم ؛ لأن بعض الناس تمضي عليه السنوات الكثيرة ما ذهب إلى مكة اعتماداً على أنه يوكل من يحج عنه كل عام…”

Terjemahan: “…Dan pendapat yang lebih kuat menurutku adalah: Terlarang. Tidak boleh bagi seseorang mewakilkan haji atau umrahnya jika itu hanya bersifat ibadah sunah (nafilah). Hal ini karena hukum asal ibadah adalah ditunaikan sendiri oleh fisiknya… Jika kita mengambil pendapat (yang melarang) ini, maka akan menjadi motivasi bagi orang-orang kaya yang mampu secara fisik agar berangkat haji sendiri. Karena sebagian orang melewati bertahun-tahun tanpa pergi ke Makkah dengan alasan ia sudah menyewa orang untuk menghajikannya setiap tahun.”

Referensi: Fatawa Islamiyyah (2/192, 193).

14. Selektif Memilih Pelaksana Haji Badal

Diharuskan untuk mencari orang-orang yang baik, jujur, beramanah, dan memahami betul tata cara (manasik) haji untuk dijadikan wakil (pembadal).

Fatwa Lajnah Daimah:

“ينبغي لمن يريد أن ينيب في الحج أن يتحرى فيمن يستنيبه أن يكون من أهل الدين والأمانة حتى يطمئن إلى قيامه بالواجب”

Terjemahan: “Sepatutnya bagi orang yang ingin mewakilkan pelaksanaan haji untuk menyeleksi siapa yang akan ia tunjuk, yaitu orang yang memegang teguh agama dan sifat amanah, sehingga ia bisa merasa tenang bahwa orang tersebut akan melaksanakan kewajiban hajinya secara benar.”

Referensi: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (11/53).

Kesimpulan

Haji badal adalah syariat yang memiliki batasan ketat. Ia adalah bentuk keringanan yang Allah berikan khusus bagi mereka yang fisiknya sangat lemah atau telah tiada, bukan sebagai lahan bisnis duniawi atau jalan pintas kemalasan bagi mereka yang kaya dan sehat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila

 

Sumber : https://islamqa.info/ar/answers/111794/ضوابط-واحكام-حج-البدل

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id