JAKARTA – Bulan Zulkaidah sering kali datang tanpa banyak disadari, padahal ia termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Di bulan inilah seorang Muslim seharusnya mulai memperbanyak amal saleh, menjaga diri dari dosa, dan mempersiapkan hati menuju musim ibadah yang agung, yaitu Zulhijah.
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bulan-bulan tertentu sebagai musim ketaatan, mengangkat derajat orang yang mengagungkan syiar-Nya, dan mengkhususkan bulan-bulan haram dengan keagungan dan kedudukan yang tinggi. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.
Takwa adalah wasiat Allah kepada generasi terdahulu dan yang akan datang. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ …وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ… ﴾
“…Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah…”
(QS. An-Nisa: 131)
Seiring berjalannya waktu, umat Islam memasuki musim-musim kebaikan, salah satunya adalah bulan haram. Zulkaidah merupakan salah satu bulan haram yang sangat dimuliakan oleh Allah dalam kitab-Nya. Artikel ini akan menguraikan keutamaan bulan Zulkaidah dan urgensi menjaga diri dari maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Pembahasan
1. Kedudukan Bulan Zulkaidah sebagai Bulan Haram
Bulan Zulkaidah adalah satu dari empat bulan yang disucikan (bulan haram). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ…. ﴾
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu…”
(QS. At-Taubah: 36)
Bahkan pada masa jahiliah, bangsa Arab telah mengagungkan bulan ini dengan menahan diri dari peperangan. Islam kemudian datang untuk mengukuhkan pengagungan ini dan menambah kesuciannya.
Imam Az-Zamakhsyari rahimahullah menjelaskan terkait ayat “Itulah (ketetapan) agama yang lurus”, bahwa pengharaman empat bulan ini adalah agama yang lurus, yakni agama Nabi Ibrahim dan Ismail, di mana bangsa Arab memegangnya sebagai warisan dari keduanya. [1]
Penetapan bulan haram ini juga ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:
«إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ»
“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, serta bulan Rajab (suku) Mudar yang terletak antara Jumadilakhir dan Syakban.”
(HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)
2. Bulan Persiapan Menuju Puncak Ibadah
Seorang Muslim seyogianya menghabiskan waktunya dengan ketundukan, harapan, dan kekhusyukan, serta meningkatkan iman di bulan-bulan haram.
Zulkaidah juga termasuk dalam bulan-bulan ibadah haji, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ… ﴾
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi…”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Bulan-bulan haji adalah: Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.” [2]
Pada bulan ini, hati manusia mulai bersiap menyambut hari-hari terbaik di dunia, yakni sepuluh hari pertama Zulhijah. Oleh karena itu, Zulkaidah menjadi medan persiapan, kesempatan untuk bertobat, dan ruang untuk memperbanyak amal saleh.
3. Peristiwa Bersejarah di Bulan Zulkaidah
Bulan yang diberkahi ini menyimpan berbagai peristiwa agung dalam sejarah Islam.
Baiat Ridwan
Peristiwa di mana Allah memuji kaum mukminin yang berbaiat kepada Nabi di bawah pohon.
﴿ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ….. ﴾
“Sungguh, Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon…”
(QS. Al-Fath: 18)
Umrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah terjadi di bulan ini. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan tiga umrah secara terpisah di bulan Zulkaidah, dan umrah keempatnya dilakukan bersamaan dengan Haji Wada’.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
«اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Zulkaidah, kecuali umrah yang bersamaan dengan hajinya.”
(HR. Bukhari no. 4148)
4. Bobot Amal dan Dosa di Bulan Haram
Ketaatan adalah cahaya yang memenuhi hati dan ketenangan bagi jiwa. Ketaatan membuahkan ketaatan berikutnya.
Sebagaimana perkataan ulama salaf:
“Ketaatan adalah tanda diterimanya amal, dan barangsiapa yang diberi taufik untuk beramal saleh setelah ketaatan sebelumnya, maka ia termasuk orang-orang yang diberi kabar gembira.”
Sebaliknya, bermaksiat di bulan haram memiliki dosa yang jauh lebih besar. Ulama menjelaskan bahwa keburukan di bulan ini bukan sekadar maksiat, melainkan juga bentuk pelecehan terhadap kehormatan waktu yang diagungkan Allah.
Qatadah rahimahullah menegaskan:
“Amal saleh pada bulan-bulan haram lebih besar pahalanya, dan kezaliman (dosa) di dalamnya lebih besar pula bebannya.” [3]
Barangsiapa yang mengagungkan apa yang diagungkan Allah, maka itu adalah tanda hidupnya hati dan keselamatan fitrahnya.
﴿ ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ… ﴾
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya…”
(QS. Al-Hajj: 30)
5. Bahaya Dosa Berkhalwat (Dosa Tersembunyi)
Tantangan terbesar bagi keimanan adalah menjaga ketakwaan di saat bersendirian. Allah menjanjikan jalan keluar bagi mereka yang senantiasa bertakwa baik dalam keadaan ramai maupun sepi.
﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ……. ﴾
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…”
(QS. At-Thalaq: 2-3)
Dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi adalah ujian kejujuran seorang hamba dengan Tuhannya. Maksiat ini mungkin luput dari pandangan manusia, namun tidak pernah luput dari pandangan Allah.
﴿ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ ﴾
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”
(QS. Ghafir: 19)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras melalui hadis yang diriwayatkan oleh Tsauban radhiyallahu ‘anhu:
«لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا»
“Sungguh, aku mengetahui ada kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar pegunungan Tihamah yang putih, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menjadikannya debu yang berterbangan.”
Tsauban bertanya:
“Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka kepada kami, jelaskanlah kepada kami agar kami tidak menjadi bagian dari mereka tanpa kami sadari.”
Beliau bersabda:
«أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا»
“Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian sendiri. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) sebagaimana kalian melakukannya. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang apabila bersendirian dengan hal-hal yang diharamkan Allah, mereka melanggarnya.”
(HR. Ibnu Majah no. 4245)
Tobat saat bersendirian jauh lebih dicintai Allah daripada kesalehan semu di ruang publik. Allah berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Mulk: 12)
Kesimpulan
Bulan Zulkaidah merupakan momentum spiritual yang bernilai tinggi dalam Islam. Sebagai bulan haram dan pembuka musim haji, umat Islam dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjauhi kezaliman, sebab ganjaran pahala dan dosa di bulan ini dilipatgandakan secara kualitas.
Di samping itu, pengagungan terhadap waktu yang dimuliakan Allah harus disertai dengan integritas keimanan, yakni menghindari dosa-dosa yang tersembunyi. Ketaatan yang hakiki dibuktikan melalui rasa takut kepada Allah (khasyyah), baik dalam keramaian manusia maupun saat bersendirian.
Semoga Allah menjadikan batin kita lebih baik daripada lahiriah kita, menutupi aib kita di dunia dan akhirat, serta mengampuni segala dosa baik yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan.
Wallahu a’lam.
Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila
[1] Al Kassyaf 2/269
[2] Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Kitab Haji, Bab tentang firman Allah Ta’ala: ‘Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah diketahui’, (juz 2, halaman 141).
[3] Ma‘ālim at-Tanzīl fī Tafsīr al-Qur’ān karya Al-Baghawi (2/345), tahqiq: ‘Abdurrazzaq Al-Mahdi, terbitan Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi, Beirut, cetakan pertama 1420 H.



