KISAH TAUBATNYA PEMUDA YANG TERLENA DENGAN DUNIA

KISAH TAUBATNYA PEMUDA YANG TERLENA DENGAN DUNIA

JAKARTA – Taubat sering kali berawal dari satu momen sederhana yang menggugah hati, bukan dari peristiwa besar yang direncanakan. Dalam perjalanan hidup, ada masa ketika seseorang terlena oleh dunia, hingga akhirnya Allah bukakan pintu kesadaran melalui nasihat, kejadian, atau perenungan singkat.

Dahulu, hiduplah seorang pria saleh bernama Shilah bin Asyam.[1] Ia kerap mengasingkan diri menuju sebuah tempat sunyi di pinggiran kota untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam perjalanan hidupnya, ia seringkali berpapasan dengan sekelompok pemuda yang tengah asyik bersenda gurau, dan menghabiskan waktu dengan permainan yang sia-sia.

Setiap kali melewati mereka, Shilah akan berhenti sejenak dan melemparkan sebuah pertanyaan yang sarat makna,
“Wahai anak-anak muda, ceritakanlah kepadaku tentang sekelompok orang yang hendak melakukan perjalanan jauh, namun mereka justru membuang waktu di siang hari dan tertidur lelap di malam hari. Jika demikian, kapankah mereka akan sampai ke tujuan?”

Ia terus melakukan hal itu setiap hari ketika mereka lewat, memberi nasihat singkat tersebut, lalu berlalu. Hingga pada suatu hari, saat kalimat yang sama diucapkan, salah seorang pemuda di antara mereka tersentak. Kesadaran tiba-tiba menghunjam jantungnya.

Pemuda itu menoleh ke arah teman-temannya dan berseru dengan nada bergetar, “Wahai kawan-kawan! Demi Allah, yang ia maksud itu tidak lain adalah kita! Kita menghabiskan siang dengan kesia-siaan, dan melewatkan malam dengan tidur terlelap.”

Seketika itu juga, sang pemuda memutuskan untuk mengikuti langkah Shilah. Ia meninggalkan masa lalunya dan ikut pergi ke tempat ibadah itu. Hari demi hari, ia setia mendampingi Shilah dalam sujud dan zikirnya, hingga maut akhirnya menjemput mereka berdua.

Semoga Allah merahmati keduanya.[2]

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari kisah di atas, di antaranya:

1. Dakwah dengan Lemah Lembut dan Perumpamaan

Shilah bin Asyam tidak menghardik para pemuda tersebut dengan kasar. Beliau menggunakan metode analogi (perumpamaan) yang menyentuh logika agar mereka menyadari kesalahan tanpa merasa dipojokkan.

Oleh karenanya, Allah ta’ala berfirman:

﴿ اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ … ﴾

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”[3]

2. Bahaya Melalaikan Waktu (Sia-Sia)

Perumpamaan “musafir yang tidur di malam hari dan bermain di siang hari” adalah gambaran orang yang lupa bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju akhirat.

Maka, orang-orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik, sejatinya mereka adalah golongan yang tertipu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

نِعمَتانِ مَغبونٌ فيهما كَثيرٌ مِنَ النّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ.

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”[4]

3. Pentingnya Lingkungan dan Teman Bergaul

Pemuda tersebut mendapatkan hidayah setelah berpisah dari kelompoknya yang lalai dan memilih mengikuti orang saleh (Shilah bin Asyam). Lingkungan menentukan arah perjalanan hidup seseorang.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuturkan:

الرجلُ على دينِ خليلِه فلْينظر أحدُكم من يخالِلْ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.”[5]

4. Hidayah adalah Milik Allah, Namun Memerlukan Pintu Pembuka

Kalimat Shilah mungkin sederhana, namun karena disampaikan dengan ketulusan, Allah membuka pintu hati sang pemuda. Ini menunjukkan bahwa satu kalimat yang tepat bisa mengubah hidup seseorang selamanya.

5. Istiqamah hingga Akhir Hayat (Husnul Khatimah)

Kisah ini berakhir dengan kalimat bahwa sang pemuda terus beribadah bersama Shilah hingga mereka wafat. Perubahan yang benar adalah perubahan yang bertahan lama (konsisten), bukan sekadar semangat sesaat.

Ditulis oleh:

Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H

[1] Dia adalah Silah bin Asyam al-Adawi, seorang lelaki yang kemasyhurannya bukan terpahat pada mahkota, melainkan pada sujud-sujud panjangnya. Di tanah Basra, ia dikenal dengan julukan Abu al-Shahba’, seorang tokoh dari generasi Tabi’in yang namanya harum sebagai pilar ibadah dan puncak kezuhudan di masanya. Dunia mengenalnya sebagai sosok yang telah selesai dengan urusan bumi. Namun, takdir menjemputnya di medan laga yang jauh dari rumah. Pada tahun 75 Hijriah—atau dalam hitungan lain tahun 115 Hijriah—Silah mengembuskan napas terakhirnya di Kabul, gugur dalam kancah perjuangan saat fajar kekuasaan Al-Hajjaj bin Yusuf baru saja menyingsing. Meski begitu, gema sejarah menyimpan versi lain yang tak kalah getir; ada yang meriwayatkan bahwa ia telah syahid lebih awal, di bawah langit kekuasaan Yazid bin Mu’awiyah. Namanya tercatat abadi dalam lembaran-lembaran kitab para ulama: Ibnu Hibban menempatkannya dalam jajaran orang-orang terpercaya (At-Thiqat). Al-Bukhari mengabadikan sosoknya dalam At-Tarikh al-Kabir tanpa sedikit pun celaan. Ia adalah pribadi yang murni, tegak tanpa cacat di mata para penguji riwayat. Jika engkau ingin menyelami lebih dalam tentang keindahan jiwanya, carilah jejaknya dalam kitab Hilyat al-Awliya’. Di sana, kisah Silah bin Asyam bukan sekadar deretan angka dan tanggal, melainkan sebuah simfoni tentang keteguhan hati yang tak lekang oleh zaman.

[2] Kitaab at-Tawwaabiin, hal. 257.
[3] QS. An-Nahl: 125.
[4] HR. Al-Bukhari, no. 6412. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
[5] HR. At-Tirmidzi, No. 2378 dan beliau menilai hadis ini hasan gharib. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id