JAKARTA – Tidak sedikit kaum muslimin yang masih bingung tentang hukum mengqadha puasa, khususnya ketika ingin mengganti puasa enam hari Syawal di luar waktunya. Nah berikut penjelasannya…
Pendahuluan
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Namun, muncul pertanyaan penting di tengah kaum muslimin: apakah boleh mengganti atau mengqadha puasa enam hari Syawal di bulan selain Syawal, seperti Dzulqa’dah?
Berikut Penjelasan Hukum Mengqhada Puasa 6 Hari Syawal di Bulan Selain Syawal
Tulisan ini akan membahas permasalahan tersebut dengan pendekatan ilmiah, berdasarkan dalil dan pendapat para ulama.
Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal
Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”
📚 HR. Muslim no. 1164
Penjelasan
Para ulama menjelaskan bahwa:
- 1 kebaikan dilipatgandakan menjadi 10
- Ramadhan (30 hari) = 300 hari
- 6 hari Syawal = 60 hari
➡️ Total = 360 hari (seperti setahun penuh)
Apakah Harus di Bulan Syawal?
Zhahir hadits menunjukkan bahwa keutamaan tersebut terkait dengan pelaksanaan di bulan Syawal, karena Nabi ﷺ secara tegas menyebut:
“مِنْ شَوَّالٍ” (dari bulan Syawal)
Namun para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Perbedaan Pendapat Ulama Soal Mengqhada Puasa 6 Hari Syawal di Bulan Selain Syawal
Pendapat Pertama: Boleh di Luar Syawal dan Tetap Mendapat Keutamaan
Sebagian ulama dari kalangan Malikiyah dan sebagian Hanabilah berpendapat bahwa puasa enam hari tetap mendapatkan keutamaan meskipun dilakukan di luar Syawal.
Dalil dan Pernyataan Ulama
Berkata Al ‘Adawi al Maliki rahimahullah:
“وَإِنَّمَا قَالَ الشَّارِعُ: (مِنْ شَوَّالٍ) لِلتَّخْفِيفِ… لَا تَخْصِيصِ حُكْمِهَا بِذَلِكَ الْوَقْتِ”
“Penyebutan ‘Syawal’ dalam hadits hanyalah untuk memudahkan (pelaksanaan), bukan untuk membatasi hukumnya pada waktu tersebut.”
Beliau juga menambahkan:
“بَلْ فِعْلُهَا فِي ذِي الْقَعْدَةِ حَسَنٌ”
“Bahkan melaksanakannya di bulan Dzulqa’dah itu baik.” [1]
Berkata juga Ibnul ‘Arabi Al Maliki Rahimahullah:
“قَوْلُهُ: (مِنْ شَوَّالٍ) عَلَى جِهَةِ التَّمْثِيلِ”
“Penyebutan ‘Syawal’ itu hanya sebagai contoh (bukan pembatasan).” [2]
Berkata Ibnu Muflih rahimahullah:
“تَحْصُلُ الْفَضِيلَةُ بِصَوْمِهَا فِي غَيْرِ شَوَّالٍ”
“Ada kemungkinan keutamaan itu tetap didapat meskipun dilakukan di luar Syawal.” [3]
Kesimpulan Pendapat Pertama
- Boleh dilakukan di luar Syawal
- Tetap mendapatkan keutamaan
- Penyebutan Syawal hanya sebagai kemudahan
Pendapat Kedua: Boleh di Luar Syawal, Tapi Pahalanya Berkurang
Ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi’iyah.
Dalil dan Pernyataan
Berkata ibnu hajar Al Haitsami Rahimahullah:
“مَنْ صَامَهَا مَعَ رَمَضَانَ… كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ فَرْضًا، وَمَنْ صَامَهَا فِي غَيْرِهِ… كَانَ نَفْلًا”
“Barangsiapa berpuasa enam hari bersama (setelah) Ramadhan (di Syawal), maka seperti puasa setahun sebagai fardhu. Adapun yang melakukannya di luar Syawal, maka hanya bernilai puasa sunnah.” [4]
Kesimpulan Pendapat Kedua
- Boleh di luar Syawal
- Tetap dapat pahala
- Tapi tidak setara dengan keutamaan dalam hadits
Pendapat Ketiga: Tidak Mendapat Keutamaan Kecuali di Syawal
Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanbali.
Dalil dan Pernyataan
Berkata Al Buhuti rahimahullah:
“وَلَا تَحْصُلُ الْفَضِيلَةُ بِصِيَامِهَا فِي غَيْرِ شَوَّالٍ لِظَاهِرِ الْأَخْبَارِ”
“Keutamaan tersebut tidak didapat jika dilakukan di luar Syawal, berdasarkan zhahir hadits.” [5]
Kesimpulan Pendapat Ketiga
- Harus di bulan Syawal
- Tidak berlaku jika di luar Syawal
- Berdasarkan tekstual hadits
Bagaimana Jika Tidak Sempurna Karena Uzur?
Jika seseorang telah berusaha berpuasa di Syawal namun tidak sempurna karena uzur (sakit, safar, dll), maka diharapkan tetap mendapatkan pahala.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا”
“Jika seorang hamba sakit atau safar, dicatat baginya pahala seperti saat ia sehat dan mukim.”
📚 HR. Bukhari no. 2996
Penutup
Syariat Islam memberikan keluasan dalam beramal, dan rahmat Allah sangat luas.
فَضْلُ اللَّهِ وَاسِعٌ، وَعَطَاؤُهُ لَا يَنْتَهِي
Jika seseorang tetap berpuasa di bulan Dzulqa’dah sebagai pengganti, maka itu adalah amalan yang baik, dan diharapkan mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى.
Oleh Abu Utsman Surya Huda Aprila
[1] Hasyiyah Al ‘Adawi ‘Ala Syarhil Khirasyi (2/243)
[2]Tahdzibul Furuq al Qarafi (2/191)
[3] Al Furu’ (3/108)
[4] Tuhfatul Muhtaj (3/456)
[5] Kasyaful Qina’ (2/338)

