JAKARTA – Pendek angan-angan merupakan salah satu sikap penting yang harus dimiliki seorang muslim agar hatinya tidak terlalu terpaut dengan dunia. Ketika seseorang terlalu panjang angan-angannya terhadap kehidupan dunia, dia akan mudah lalai dari akhirat, menunda taubat, dan merasa seolah hidupnya masih panjang. Karena itulah para ulama salaf selalu menasihatkan agar seorang hamba banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Cara lain agar kita nyaman dalam menempuh jalan hijrah ialah memendekkan angan-angan dan sering-seringlah mengingat akhirat. Karena angan tentang dunia yang terlalu panjang hanya akan menghambat proses seorang hamba untuk menjadi lebih baik, melupakan akhirat, dan kurang bersemangat untuk beramal saleh. Oleh karenanya, seorang penyair pernah menasihatkan,
قَصِّرِ الآمَالَ فِي الدُّنْيَا تَفُزْ * فَدَلِيلُ العَقْلِ تَقْصِيرُ الأَمَلِ
“Pendekkanlah angan-anganmu di dunia, niscaya engkau akan selamat. Ketahuilah, bahwa di antara bukti kecerdasan seseorang ialah pendeknya angan-angan.”[1]
Keberadaan kita di dunia bagaikan seorang musafir yang singgah sebentar di tempat peristirahatan, lalu kembali melanjutkan perjalanan ketika segala kebutuhan telah dituntaskan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat yang indah kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَو عَابِرُ سَبِيلٍ.
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing, atau seorang musafir.”[2]
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Hadis ini menjadi landasan utama agar seorang hamba memendekkan angan-angannya terhadap dunia. Seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat menetap baginya, kemudian merasa tenang hidup di dalamnya. Namun, hendaklah dia bagaikan seorang musafir yang mempersiapkan bekalnya selama perjalanan. Hal ini merupakan wasiat para Nabi dan semua orang yang mengikuti mereka.”[3]
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menasihatkan,
مَنْ تَفَكَّرَ فِي عَوَاقِبِ الدُّنْيَا أَخَذَ الحَذَرَ، وَمَنْ أَيْقَنَ بِطُولِ الطَّرِيقِ تَأَهَّبَ لِلسَّفَرِ.
“Barang siapa yang merenungkan kesudahan (akhir) dari dunia, niscaya dia akan mengambil sikap waspada. Dan barang siapa yang meyakini panjangnya jalan menuju akhirat, niscaya dia akan mempersiapkan bekal untuk melakukan perjalanan.”[4]
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.
[1] At-Taubah Wazhiifah al-‘Umur, hal. 203.
[2] HR. Al-Bukhari, no. 6416.
[3] Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam.
[4] Shaid al-Khaathir, hal. 40.




