JAKARTA – Membatalkan puasa sunnah menjadi salah satu pembahasan penting dalam fiqih yang sering menimbulkan pertanyaan di kalangan kaum muslimin. Hal ini karena tidak sedikit orang yang ragu apakah membatalkan puasa sunnah setelah memulainya diperbolehkan atau justru menimbulkan kewajiban tertentu.
Pendahuluan
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Puasa sunnah merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, muncul pertanyaan penting dalam fiqih:
– Apakah seseorang yang telah memulai puasa sunnah wajib menyempurnakannya, atau boleh membatalkannya tanpa kewajiban qadha?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat utama.
Pendapat Pertama: Tidak Wajib Menyempurnakan Puasa Sunnah
Pendapat ini dipegang oleh:
- Madzhab Syafi’iyyah
- Madzhab Hanabilah
Mereka berpendapat:
Orang yang berpuasa sunnah tidak wajib menyempurnakannya, dan boleh membatalkannya tanpa kewajiban qadha.
Dalil-dalil Soal Membatalkan Puasa Sunnah Setelah Memulainya:
1. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: «هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» فَقُلْنَا: لَا، قَالَ: «فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ» ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ: «أَرِينِيهِ، فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا» فَأَكَلَ
رواه مسلم (1154)
Terjemah:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
Suatu hari Nabi ﷺ masuk dan bertanya: “Apakah kalian punya makanan?” Kami menjawab: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa.”
Kemudian pada hari lain kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah hais (makanan).” Maka beliau bersabda: “Tunjukkan kepadaku, karena tadi pagi aku berniat puasa.” Lalu beliau memakannya. HR Muslim 1154
Istidlal:
Nabi ﷺ membatalkan puasa sunnah tanpa menggantinya, menunjukkan tidak wajib menyempurnakan.
2. Kisah Salman dan Abu Darda’
عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ … فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ: كُلْ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ: مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ فَأَكَلَ
… فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «صَدَقَ سَلْمَانُ»
Terjemah:
Abu Darda’ berkata ia sedang berpuasa, namun Salman memintanya makan dan ia pun makan. Ketika hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Salman benar.” HR Bukhari 1968
Istidlal:
Nabi ﷺ membenarkan pembatalan puasa sunnah dari abu darda’
3. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: صَنَعْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ طَعَامًا … فَقَالَ رَجُلٌ: إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «دَعَاكَ أَخُوكَ، وَتَكَلَّفَ لَكَ، أَفْطِرْ، وَصُمْ مَكَانَهُ إِنْ شِئْتَ»
رواه الدارقطني (2/24)، وحسنه ابن حجر في فتح الباري (4/210)
Terjemah:
Nabi ﷺ bersabda: “Saudaramu mengundangmu dan telah bersusah payah untukmu, maka berbukalah. Dan berpuasalah di hari lain jika engkau mau.” HR Daraqutny 2/24 dan dihasankan ibnu hajar al ‘asqalani di fathil bari 4/210
Istidlal:
Adanya pilihan (إن شئت) menunjukkan qadha tidak wajib.
4. Hadits Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha
عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَفْطَرْتُ وَكُنْتُ صَائِمَةً فَقَالَ: «أَكُنْتِ تَقْضِينَ شَيْئًا؟» قَالَتْ: لَا قَالَ: «فَلَا يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا»
Terjemah:
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah berbuka padahal aku berpuasa.”
Beliau bertanya: “Apakah itu puasa qadha?”
Aku menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda: “Tidak mengapa jika itu puasa sunnah.” HR Abu Daud No 2456 Dan Disahihkan oleh Syaikh Albani
Pendapat Kedua: Wajib Menyempurnakan dan Harus Qadha Jika Dibatalkan
Pendapat ini dipegang oleh:
- Madzhab Hanafiyyah
Dalil mereka:
1. Hadits Aisyah dan Hafshoh
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أُهْدِيَ لِي وَلِحَفْصَةَ طَعَامٌ وَكُنَّا صَائِمَتَيْنِ فَأَفْطَرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
«صُومَا مَكَانَهُ يَوْمًا آخَرَ»
Terjemahan:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Dihadiahkan kepadaku dan kepada Hafshah suatu makanan, sementara kami berdua sedang berpuasa, lalu kami pun berbuka. Maka Nabi ﷺ bersabda:
‘Berpuasalah sebagai gantinya pada hari yang lain.’”
HR. Abu Dawud no. 2457, At-Tirmidzi no. 735
Catatan Ulama:
“Dalam sanadnya terdapat (perawi bernama) Zumail. Disebutkan dalam At-Taqrib bahwa ia adalah majhul (tidak dikenal). Hadits ini juga dilemahkan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/396), oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/84), dan juga dilemahkan oleh Al-Albani.”
Tarjih (Pendapat yang Lebih Kuat)
Pendapat yang lebih kuat adalah:
Tidak wajib menyempurnakan puasa sunnah dan tidak wajib qadha
Alasannya:
- Dalilnya shahih dan jelas
- Dalil lawan lemah
- Didukung praktik Nabi ﷺ
Perkataan Ulama
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata:
“Apabila seseorang sedang berpuasa sunnah, lalu ada sesuatu yang mengharuskannya untuk berbuka, maka ia boleh berbuka. Inilah yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau pernah datang kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan bersabda: ‘Apakah kalian memiliki sesuatu (makanan)?’ Ia menjawab: ‘Kami diberi hadiah hais (sejenis makanan).’ Maka beliau bersabda: ‘Perlihatkan kepadaku, karena aku tadi pagi dalam keadaan berpuasa.’ Lalu beliau pun memakannya. Dan ini terjadi pada puasa sunnah, bukan pada puasa wajib.”
Selesai, dari Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 20
Kesimpulan
- Puasa sunnah boleh dibatalkan setelah dimulai
- Tidak wajib mengqadha menurut pendapat yang kuat
- Namun:
Lebih utama disempurnakan jika tidak ada uzur
Boleh qadha sebagai bentuk kehati-hatian
Kaidah penting:
المتطوع أمير نفسه
“Orang yang melakukan ibadah sunnah adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.”
Penutup
Dengan demikian, seseorang yang membatalkan puasa sunnah—termasuk puasa enam hari di bulan Syawal—tidak wajib mengqadhanya, namun tetap dianjurkan untuk menyempurnakan ibadahnya selama mampu.
والله أعلم بالصواب.
Sumber : https://islamqa.info/ar/answers/39827/اذا-شرع-في-صيام-نفل-ثم-افطر-هل-يلزمه-قضاوه
Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila

