KEUTAMAAN RASA SAKIT DAN PANDUAN PENGOBATAN NABAWI: TERAPI ALAMI, RUQYAH SYAR’IYYAH, DAN DOA-DOA KESEMBUHAN

KEUTAMAAN RASA SAKIT DAN PANDUAN PENGOBATAN NABAWI: TERAPI ALAMI, RUQYAH SYAR'IYYAH, DAN DOA-DOA KESEMBUHAN

JAKARTA – Ujian berupa rasa sakit kerap datang tanpa diduga dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dalam Islam, penyakit bukan hanya dipandang sebagai ujian, tetapi juga dapat menjadi sarana penggugur dosa, peningkat derajat, serta penguat keteguhan iman bagi seorang muslim yang bersabar dan mengharapkan pahala.

Pendahuluan

Ujian berupa penyakit merupakan salah satu sunnatullah yang dialami oleh setiap manusia. Dalam pandangan Islam, rasa sakit bukanlah bentuk hukuman semata, melainkan sarana penggugur dosa, peningkat derajat, serta penguat keteguhan iman bagi seorang muslim yang bersabar dan mengharapkan pahala (ihtisab).

Di samping memberikan penjelas keutamaan batiniah atas penyakit, syariat Islam juga memberikan panduan komprehensif terkait ikhtiar fisik melalui pengobatan alami (thibbun nabawi) dan ikhtiar spiritual melalui ruqyah syar’iyyah serta doa-doa Nabawi. Artikel ilmiah ini menguraikan ketiga pilar tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih.

Keutamaan Rasa Sakit dalam Penghapusan Dosa

Rasa sakit, kelelahan, atau kecemasan yang dirasakan oleh seorang mukmin—apabila dihadapi dengan ridha—menjadi pelebur dosa-dosa kecilnya.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلا وَصَبٍ وَلا هَمٍّ وَلا حَزَنٍ وَلا أَذًى وَلا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah ada satu pun musibah yang menimpa seorang muslim—baik berupa keletihan (nashab), rasa sakit yang terus-menerus (washab), kecemasan (hamm), kesedihan (hazan), gangguan fisik (adza), hingga kedukaan (ghamm), bahkan sebatang duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab musibah tersebut.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5641) dan Muslim (No. 2573).

Pengobatan Alami yang Direkomendasikan dalam Islam

Islam mengajarkan agar seorang muslim menempuh ikhtiar medis menggunakan bahan-bahan alami yang diberkahi dan direkomendasikan oleh syariat:

1. Madu (Al-‘Asal)

Madu merupakan obat alami yang ditegaskan langsung oleh Al-Qur’an sebagai penyembuh bagi manusia:

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Referensi: Al-Qur’an, Surah An-Nahl: 69.

2. Kayu India / Qusthul Hindi (Al-‘Ud al-Hindi)

Qusthul Hindi merupakan salah satu bahan herbal yang direkomendasikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ

“Gunakanlah oleh kalian kayu India (Qusthul Hindi) ini, karena sesungguhnya di dalamnya terdapat tujuh macam penyembuh.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5692) dan Muslim (No. 1577).

3. Bekam (Al-Hijamah)

Bekam merupakan metode pengeluaran darah kotor yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasi keluhan fisik tertentu, termasuk sakit kepala sebelah (migrain).

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ فِي رَأْسِهِ مِنْ شَقِيقَةٍ كَانَتْ بِهِ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam saat beliau sedang ihram di bagian kepalanya karena penyakit migrain (sakit kepala sebelah) yang dideritanya.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5694) dan Muslim (No. 1202). Imam Al-Bukhari memberi judul bab untuk hadis ini: Bab Berbekam Karena Migrain dan Sakit Kepala.

4. Habbatus Sauda / Jintan Hitam (Al-Habbah as-Sauda’)

Jintan hitam merupakan herba komprehensif yang menjadi penawar berbagai macam penyakit.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلا السَّامَ ، وَالسَّامُ : الْمَوْتُ

“Sesungguhnya pada jintan hitam (habbatus sauda) terdapat obat bagi segala penyakit, kecuali as-sam. Dan as-sam adalah kematian.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5688) dan Muslim (No. 2215).

Doa-Doa Nabawi untuk Kesembuhan Orang Sakit

Selain ikhtiar fisik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa-doa khusus yang dibaca saat mengalami kesakitan atau ketika menjenguk orang sakit:

1. Doa Meletakkan Tangan pada Bagian Tubuh yang Sakit

Dari Utsman bin Abi Al-‘Ash At-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, ia mengadukan rasa sakit pada tubuhnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dirasakannya sejak ia masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Lakukanlah ini: Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang terasa sakit, lalu ucapkan ‘Bismillah’ sebanyak tiga kali, dan ucapkan sebanyak tujuh kali:”

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan rasa sakit yang aku dapati dan aku khawatirkan.”

Referensi: Hadis Riwayat Muslim (No. 2202).

2. Doa Menjenguk Orang Sakit

Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi orang sakit atau dihadapkan kepada beliau orang yang sakit, beliau berdoa:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي ، لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabb manusia! Sembuhkanlah, karena Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5675) dan Muslim (No. 2191).

Pengobatan Spiritual Melalui Ruqyah Ayat Al-Qur’an

Al-Qur’an secara keseluruhan adalah obat (syifa’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Referensi: Al-Qur’an, Surah Al-Isra’: 82.

1. Keutamaan Surah Al-Fatihah Sebagai Ruqyah

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah singgah di suatu kabilah Arab namun kabilah tersebut tidak mau menjamu mereka. Tiba-tiba pemimpin kabilah tersebut disengat kalajengking. Orang-orang kabilah itu bertanya kepada para sahabat: “Apakah di antara kalian ada yang memiliki obat atau bisa meruqyah?” Para sahabat menjawab: “Kalian tidak mau menjamu kami, maka kami tidak akan meruqyah sampai kalian memberikan imbalan.” Kabilah itu pun menjanjikan sekawanan kambing.

Maka salah seorang sahabat membacakan Ummul Qur’an (Surah Al-Fatihah) sambil mengumpulkan air liurnya dan memercikkannya ke luka sengatan, hingga pemimpin kabilah tersebut sembuh total. Ketika mereka melaporkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tertawa dan bersabda:

وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

“Bagaimana engkau bisa tahu bahwa Surah Al-Fatihah itu adalah ruqyah? Ambillah kambing-kambing itu dan bagikanlah satu bagian untukku bersama kalian.”

Referensi: Hadis Riwayat Bukhari (No. 5736) dan Muslim (No. 2201).

2. Membaca Al-Mu’awwidzatain Saat Sakit

Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa sakit yang membawa kematiannya, beliau biasa meniupkan (yanfutsu) pada dirinya sendiri dengan membacakan surah-surah Al-Mu’awwidzat (Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas). Ketika sakit beliau semakin berat, Aisyah radhiyallahu ‘anha yang membacakannya lalu mengusapkan kedua tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tubuh beliau sendiri karena mengharapkan keberkahan tangan beliau.

Ma’mar menceritakan: Aku bertanya kepada Az-Zuhri: “Bagaimana cara beliau meniupkan?” Az-Zuhri menjawab: (كَانَ يَنْفُثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ – “Beliau meniupkan ke kedua telapak tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya”) (HR. Bukhari No. 5735 dan Muslim No. 2192).

Kesimpulan

Pengobatan dalam Islam merupakan perpaduan yang selaras antara keimanan, terapi alami, dan doa spiritual. Seorang muslim yang tertimpa penyakit disunnahkan untuk meyakini bahwa sakitnya adalah penggugur dosa, sembari menempuh ikhtiar pengobatan herba alami (seperti madu, habbatus sauda, bekam, dan qusthul hindi), serta membentengi dan mengobati fisiknya dengan doa-doa Nabawi dan ruqyah ayat-ayat Al-Qur’an (khususnya Surah Al-Fatihah dan Al-Mu’awwidzat).

Wallahu A’lam.

Oleh: Abu Utsman Surya Huda Aprila

 

Related Posts

  • All Post
  • Doa-Doa
  • Kajian Islam
  • Khotbah Jumat
  • Muamala
  • Tanya Ulama
    •   Back
    • Akhlak
    • Fiqih
    • Hadis
    • Sirah Sahabat
    • Tafsir
    • Umum
    •   Back
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
    •   Back
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    •   Back
    • Rukun Islam
    • Rukun Iman
    • Umum
    • Sholat
    • Zakat
    • Puasa
    • Haji (Umrah)
    • Allah
    • Malaikat
    • Kitab
    • Rasul
    • Hari kiamat
    • Takdir
Edit Template

Yuk Subscribe Kajian Sunnah

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Popular Posts

No Posts Found!

Trending Posts

No Posts Found!

© 2024 Kajiansunnah.co.id