JAKARTA – Amar makruf nahi mungkar menjadi salah satu penjaga utama keselamatan umat dari kerusakan yang semakin meluas. Ketika kemungkaran dibiarkan tanpa ada nasihat, pengingkaran, dan kepedulian dari kaum Muslimin, maka dampaknya tidak hanya menimpa pelaku maksiat saja, tetapi bisa menjadi musibah yang mengenai seluruh masyarakat. Karena itulah Islam mengajarkan setiap muslim untuk berusaha menegakkan amar makruf nahi mungkar sesuai kemampuan yang dimilikinya.
الحمدُ للهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِصِحَّةِ الإِعْتِقَادِ، وَطَهَّرَ قُلُوبَنَا مِنْ أَدْرَانِ الشِّرْكِ وَالوَثَنِيَّةِ وَالإِلْحَادِ، وَأَنْقَذَنَا مِنْ دَرَكَاتِ الجَاهِلِيَّةِ وَالشَّرِّ وَالفَسَادِ. أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَشْكُرُهُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، جَلَّ عَنِ الأَنْدَادِ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الصَّاحِبَةِ وَالإِلْحَادِ، وَتَعَالَى عَنْ مُشَابَهَةِ العِبَادِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مَنْ عَلِمَ مَعْنَاهَا، وَعَلِمَ بِمُقْتَضَاهَا، وَحَقَّقَ الْمُرَادَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَخَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jemaah salat Jum’at rahimakumullah …
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sebaik-baik takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bersyukurlah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala kenikmatan yang telah Dia berikan kepada kita, dan beristighfarlah hanya kepada-Nya atas segala dosa yang sering kali kita lakukan di setiap harinya.
Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya yang senantiasa mengikuti sunnah-sunnah beliau hingga hari akhir nanti.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah …
Jika seandainya ada sebuah kapal yang bertingkat, dan seluruh persediaan air berada di lantai atas, maka keadaan seperti ini membuat para penumpang yang berada di lantai bawah mau tidak mau harus naik ke lantai atas guna mengambil air ketika membutuhkannya. Mereka akan bolak-balik melewati para penumpang yang berada di lantai atas, sehingga sedikit banyak hal ini akan membuat suasana semakin kurang nyaman.
Pada akhirnya, orang-orang yang berada di lantai bawah pun berinisiatif membuat lubang yang ada di lantai bawah kapal, dengan tujuan agar tidak repot lagi ketika mengambil air dan tidak mengganggu orang-orang yang berada di lantai atas.
Pertanyaannya, kira-kira apa yang akan terjadi apabila orang-orang yang berada di lantai atas membiarkan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di lantai bawah, yaitu membuat lubang di bagian kapal? Tentu jawabannya ialah kapal akan tenggelam, dan mereka semua akan binasa.
Jemaah salat Jum’at rahimakumullah …
Demikianlah sebuah perumpamaan yang pernah diberikan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai orang-orang yang sudah mengetahui kebenaran, namun mereka diam ketika melihat orang lain melakukan keburukan. Tidak ada niatan untuk mencegahnya. Tidak ada pengingkaran dalam hatinya. Ketika hal itu terjadi, ketika amar makruf nahi mungkar tidak ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sangat dikhawatirkan Allah subhanahu wa ta’ala akan menimpakan azab secara merata.
Apa yang dimaksud dengan azab secara merata? Azab secara merata yaitu azab yang Allah timpakan kepada semua orang, baik itu muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan, orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman, orang-orang yang baik maupun yang jahat, orang-orang yang senantiasa menjalankan sunnah maupun yang meninggalkan sunnah. Mereka semua akan diazab ketika amar makruf dan nahi mungkar mulai ditinggalkan.
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha dalam keadaan cemas seraya bersabda,
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَيلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ اليَومَ مِن رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ (وَحلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامَ وَالَّتِي تَلِيهَا).
“Laa ilaaha illallaah! Celakalah orang-orang Arab, keburukan sudah semakin mendekat (keburukan sudah semakin menyebar)! Pada hari ini dinding yang menutup tembok Ya’juj dan Ma’juj terbuka selebar ini.” (Beliau melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya).
Zainab pun bertanya,
يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ ؟!
“Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di sekitar kami masih banyak orang-orang yang saleh?”
Beliau menjawab,
نَعَم، إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.
“Iya, apabila keburukan telah tersebar di mana-mana (dan kalian tidak mengingkarinya).”[1]
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِهَدْيِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah kedua
Alhamdulillah wash sholatu was salamu ‘ala rasulillah …
Jemaah salat Jum’at yang kami hormati …
Menegakkan amar makruf nahi mungkar hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim. Bagi mereka para pemimpin yang memiliki kekuasaan, maka sudah seharusnya beramar makruf nahi mungkar dengan tindakan, yaitu bisa dengan mencegah kemungkaran langsung tanpa perantara. Karena dia adalah seorang pemimpin. Karena dia memiliki kekuasaan atas hal tersebut. Adapun mereka yang belum berani untuk melakukan tindakan secara langsung, maka bisa baginya untuk melaporkan orang-orang yang berbuat kemungkaran kepada pihak yang berwenang. Sedangkan yang belum berani bertindak dan melaporkan, maka ingkarilah perbuatan-perbuatan kemungkaran tersebut dengan hatinya, serta mendoakan kebaikan untuk para pelaku kemaksiatan.
Demikianlah tata cara beramar makruf nahi mungkar yang pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau bersabda,
مَن رَأَى مِنكُم مُنكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَإِنْ لَم يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ.
“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman seseorang.”[2]
هٰذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا رَحِمَكُمُ اللهُ عَلَى خَيْرِ الْأَنَامِ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذٰلِكَ رَبُّكُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، إنك قريب سميع مجيب الدعوات يا رب العالمين. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.
[1] HR. Al-Bukhari, no. 3346 dan Muslim, no. 2880.
[2] HR. Muslim, no. 49, Abu Dawud, no. 1140, dan At-Tirmidzi, no. 2172.




