JAKARTA – Ketika seseorang baru ingat masih ada salat yang belum dikerjakan, jangan menundanya lagi dengan alasan menunggu waktu yang sama di hari berikutnya. Dalam Islam, ada ketentuan yang perlu diperhatikan terkait salat yang terlewat, termasuk kapan harus mengqadanya dan bagaimana cara mengerjakannya.
Syekh Ibnu al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian masyarakat awam mengira, bahwa jika seseorang terlewat beberapa salat, ia harus mengqada setiap salat tersebut bersama salat yang sejenis di hari berikutnya (contoh: mengqada shalat Subuh yang terlewat di waktu Subuh esok harinya). Padahal ini adalah suatu kekeliruan.”
Beliau juga pernah menyampaikan: “Ia harus mengqada semua salat wajib yang terlewat tersebut sekaligus dan mengumandangkan iqamah untuk setiap salat wajib. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjamak dua salat, beliau mengumandangkan satu kali azan dan mengumandangkan iqamah untuk setiap shalat wajib.”
Sumber
- Fatawa Nuur ‘alad Darb (Jilid 8, Halaman 2)
- Rof’ul Jahl fii Bayaan maa Laisa lahul Ashl, karya Dr. Ibrahim bin Fahd al-Hawwas, hal. 15.
Teks Fatwa
مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةٌ ثُمَّ تَذَكَّرَهَا فَإِنَّهُ يُصَلِّيهَا عِنْدَ تَذَكُّرِهِ لَهَا فَوْرًا وَلَا يُصَلِّيهَا مَعَ نَظِيرَتِهَا فِي الْيَوْمِ التَّالِي
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ: “بَعْضُ الْعَامَّةِ يَظُنُّونَ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا فَاتَتْهُ صَلَوَاتٌ، فَإِنَّهُ يَقْضِي كُلَّ صَلَاةٍ مَعَ نَظِيرَتِهَا مِنَ الْيَوْمِ الثَّانِي، وَلَكِنْ هَذَا جَهْلٌ”.
وَقَالَ أَيْضًا: “يُصَلِّيهَا فَرْضًا جَمِيعًا وَيُقِيمُ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ كَانَ يُؤَذِّنُ أَذَانًا وَاحِدًا وَيُقِيمُ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ”.
Alih Bahasa
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.



