JAKARTA – Seorang hamba yang menempuh perjalanan hijrah wajib baginya untuk berilmu. Modal semangat saja tidak cukup. Harus memiliki bekal ilmu untuk keberlangsungan hijrahnya. Karena ilmu bagaikan cahaya yang akan menyinari perjalanannya nanti. Selain itu, dengan ilmulah seorang hamba akan istiqamah dalam ketaatan, bi idznillaah.
Tak sedikit dari orang yang berhijrah kemudian tumbang di tengah jalan, tidak melanjutkan perjalanan hijrahnya karena belum memiliki ilmu yang cukup. Sebab bergugurannya mereka beraneka macam; ada yang karena bosan, sombong (merendahkan orang lain, enggan menerima kebenaran), ada pula yang berhenti karena keburu ditokohkan. Pada akhirnya, oknum-oknum ini menyibukkan diri untuk men-tahdziir sana sini, menyesatkan orang lain, bahkan sampai berani untuk memberikan fatwa tanpa ilmu.
Sungguh, ini adalah sebuah bencana besar yang menimpa perjalanan hijrah seorang hamba. Belum tuntasnya mengenal kebenaran, sudah dihantam ombak kecongkakan yang membinasakan. Semoga kita dihindarkan dari musibah yang semacam ini.
Oleh karenanya, penting bagi seseorang yang baru menapaki jalan hijrah untuk benar-benar fokus belajar terlebih dahulu, bersama dengan guru-guru yang terpercaya, yang berada di atas manhaj Salafus Saleh. Tidaklah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disampaikan, melainkan atas dasar pemahaman para sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama yang mengikuti mereka, rahimahumullahu ta’ala jami’an.
Ilmu pengetahuan adalah hiburan yang menyenangkan, ketenangan, kenikmatan, dan teman baik yang tidak bisa didapatkan pada yang lainnya. Ia adalah kenikmatan akal yang paling tinggi, paling sempurna, dan paling indah. Ketahuilah, kenikmatan akal jauh lebih bermanfaat daripada semua bentuk kenikmatan jasmani.
Oleh karena itu, orang-orang saleh terdahulu ketika ingin menghibur jiwa, mereka akan menyibukkan diri dengan belajar semalaman. Disebutkan dalam sebuah syair:
سَهَرِي لِتَنْقِيحِ العُلُومِ أَلَذُّ لِي ** مِنْ وَصْلِ غَانِيَةٍ وَطِيبِ عِنَاقِ
صَرِيرُ أَقْلَامِي عَلَى صَفَحَاتِهَا ** أَحْلَى مِنَ الدَّوْكَاءِ وَالعُشَّاقِ
وَأَلَذُّ مِنْ نَقْرِ الفَتَاةِ لِدُفِّهَا ** نَقْرِي لِأُلْقِيَ الرَّمْلَ عَنْ أَوْرَاقِي
“Waktu begadangku untuk meneliti ilmu jauh lebih lezat bagiku daripada bersua dengan kekasih atau pelukan hangat yang merindu.
Goresan pena-penaku di atas lembaran kertas terasa lebih manis daripada suara rayuan para pemadu kasih yang lekas.
Dan lebih nikmat dari tabuhan rebana seorang gadis adalah ketukanku saat membersihkan debu kering dari lembaran-lembaran kertasku yang berlapis.”
Ditulis oleh:
Abu Yusuf Wisnu Prasetya, S.H.



